Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Tigabelas


__ADS_3

"Nak Donny, maaf ya.. Sepertinya Arin lagi gak bisa diganggu dulu, soalnya banyak tugas katanya."


Ucap nenek saat menghampiri Donny yang sedang bermain catur bersama suaminya di ruang tengah.


"Gak apa kok nek, Aku cuma mau memastikan Arin pulang dengan selamat. Soalnya sejak kemarin Arin gak ada kabar. Tapi setelah aku tahu Arin udah sampai dirumah, aku tenang."


Jawab Donny sambil tersenyum tulus.


"Skak mat! Kakek kalah lagi.."


Donny tertawa kegirangan karena berhasil mengalahkan kakek untuk ketiga kalinya.


"Bukan kalah, kakek memang sengaja mengalah. Seperti kata pepatah, yang tua harus mengalah sama yang lebih muda."


Kakek mengelak.


Suara gelak tawa Donny dan kakek terdengar sampai ke telinga Arin, membuat hatinya terasa semakin sesak dan pilu.


Bagaimana bisa, dia meninggalkan pria yang begitu baik. Donny bersedia menerima dan mencintainya dengan tulus, meskipun dia tahu siapa dan bagaimana kehidupan Arin. Dia sama sekali tidak pedulikan itu. Bahkan selama ini Donny yang telah memberikan semangat kepada Arin, menjaga dan melindunginya. Meski banyak orang yang menghina dan merendahkan ibunya, namun Donny adalah orang yang tetap berdiri di sampingnya dan meyakinkannya bahwa dia tak sendiri.


"Hei anak muda, jadi kapan kamu akan membuktikan keseriusanmu pada cucu kakek?"


Pertanyaan kakek membuat Donny tertegun.


Dalam hatinya, tentu saja dia sangat ingin untuk segera mempersunting wanita yang sangat dia cintai itu. Namun kenyataan terkadang tak sesuai dengan harapan.


Orangtuanya, justru menjadi alasan kenapa dia tak bisa segera meminang Arin. Terutama mamanya, yang secara terang-terangan menentang hubungan mereka hanya karena Arin adalah putri dari Wulan Ayu Ningsih, seorang beauty influencer yang saat ini sedang menjadi bulan-bulanan publik.


"Apa yang kamu pikirkan sekarang? Bukannya waktu itu kamu sendiri yang bilang pada kakek kalau kamu mencintai Arin dan memang berniat menikahi dia? Atau sekarang kamu justru berubah pikiran?"


Donny tersentak dan refleks langsung menyangkal.


"Gak, bukan begitu kek. Tentu saja aku sangat ingin menikahi Arin. Dan aku gak berpikir untuk berubah pikiran. Sejak dulu, sampai saat ini hanya Arin lah satu-satunya wanita yang ingin aku jadikan istri. Tolong percaya padaku kek, aku akan segera meminang Arin menjadi istriku. Tapi aku harus menyelesaikan beberapa hal penting terlebih dulu. Setelah semua masalahnya selesai, aku akan membawa keluargaku untuk meminang Arin. Lagipula, Arin juga belum siap untuk menikah kek. Arin memintaku untuk menunda, setidaknya sampai dia lulus kuliah."


Jawab Donny dengan mantap.


"Kakek percaya padamu. Kakek hanya mengharapkan yang terbaik untuk kebahagiaan cucu kakek. Tolong jaga Arin ya. Selama ini dia sudah banyak mengalami kesulitan. Meski terlihat baik-baik saja, tapi dia sebenarnya tidak baik-baik saja. Kakek harap kamu bisa menjadi sandaran bagi Arin dan tetap berada di sampingnya dalam keadaan apapun."


Kakek menepuk pundak Donny dengan lembut.

__ADS_1


"Insyaa Allah kek. Aku akan berusaha untuk membahagiakan Arin, dan menjaga Arin."


Jawab Donny.


Diam-diam Arin menguping pembicaraan Donny dan kakeknya.


Arin kembali ke kamarnya dengan perasaan yang semakin hancur.


"Ya Allah.. Bagaimana mungkin aku sanggup untuk meninggalkan pria sebaik dan setulus bang Donny."


Arin menangis terisak, sambil memeluk boneka panda besar yang pernah diberikan oleh Donny sebagai hadiah ulang tahunnya.


-------


"Kek, nek, ada yang mau Arin omongin sama kakek dan nenek."


Malam itu selepas sholat isya, Arin menghampiri kakek dan neneknya yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton tv.


"Ada apa Rin?"


Tanya nenek sambil mengecilkan volume tv dengan remote.


Arin tampak sangat berharap.


Kakek dan nenek saling pandang.


"Arin, bukannya kakek dan nenek tidak mengijinkan. Tapi kamu tahu sendiri kan bagaimana kerasnya sikap ayah kamu. Kamu pulang terlambat lima menit saja dia sudah uring-uringan, apalagi kalau sampai dia tahu kamu tidak ada di rumah. Bisa-bisa kakek dan nenek yang menjadi sasaran kemarahan ayah kamu. Baru saja beberapa hari yang lalu ayah kamu marah besar, jangan membuatnya semakin murka Arin."


Kakek mengingatkan.


"Please kek.. Lagipula ayah kan jarang pulang, ayah gak akan tahu kok."


Arin berusaha meyakinkan.


"Arin, kamu gak perlu bekerja sekeras itu. Fokus aja sama kuliah kamu. Lagipula, uang yang diberikan ayah kamu setiap bulan itu sudah lebih dari cukup, belum lagi uang kiriman Ardan dan uang pensiunan kakek. Keluarga kita kan tidak kekurangan uang Arin."


Ucap nenek.


"Kek, nek, Arin hanya ingin belajar mandiri seperti kak Ardan. Arin gak ingin terus-terusan menumpangkan hidup meskipun itu pada ayah."

__ADS_1


"Gimana pak?"


Tanya nenek pada suaminya.


"Yasudah, kamu boleh pergi. Tapi dengan syarat, kamu harus menjaga diri kamu baik-baik. Jangan lupa untuk mengirimkan lokasi keberadaan kamu, dan kalau ada apa-apa kamu harus segera mengabari kakek."


"Siap Jenderal.."


Jawab Arin sambil tersenyum.


Meskipun sudah berusia lanjut, kakek Arin adalah veteran TNI Angkatan Darat dan terakhir kali memegang jabatan sebagai perwira tinggi dengan pangkat Letnan Jenderal.


Setelah berbicara dan bercengkrama dengan kakek dan neneknya, malam itu Arin kembali ke kamarnya dengan perasaan campur aduk.


"Kakek, nenek, Arin minta maaf. Arin sudah membohongi kakek dan nenek. Tolong maafkan Arin."


Gumam Arin sambil terisak dikamarnya.


Sejak sore tadi ponsel Arin tak henti berdering, namun gadis itu mengabaikannya. Dia belum siap, bahkan meski hanya sekedar untuk membalas pesan dari Donny.


Akhirnya dia memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya sementara waktu.


------


"Arin.. Apa sebenarnya yang terjadi dengan kamu?


Entah kenapa, abang merasa belakangan ini kamu sedang menghindar dari abang."


Gumam Donny sambil melemparkan ponselnya ke atas ranjang.


Setelah berhari-hari tak ada kabar dari gadis yang dia cintai, Donny sengaja menyusulnya untuk memastikan keadaannya. Gadis itu tampak baik-baik saja, tapi tidak dengan hatinya.


Donny menghempaskan tubuhnya yang lelah di atas ranjang dan mencoba memejamkan mata.


Tak hanya tubuhnya, namun jiwanya lah yang jauh lebih lelah. Jika saja bisa, ingin rasanya dia membawa gadisnya pergi jauh. Dia ingin melepaskan semua ikatan dan memulai hidup baru dengan bebas, bersama orang yang dia cintai tanpa perlu mempedulikan yang lain.


"Mama.. Kenapa begitu sulit untuk mama mengerti. Donny hanya mencintai Arin, hanya dia saja. Kenapa mama menyalahkan Arin, bahkan semua yang terjadi bukanlah kesalahannya. Kenapa mama begitu egois.."


Gumamnya lirih.

__ADS_1


__ADS_2