
Satu hari pasca operasi..
Siang itu Rangga sengaja mengunjungi rumah sakit u tuk menjenguk Kakek Jailani, pasien yang sehari lalu baru saja di operasi.
Sebelum ke Rumah Sakit Rangga menyempatkan diri mampir di toko buah untuk membeli buah tangan untuk diberikan pada Kakek Arin.
"Yang penting usaha dulu, perkara hasil biar jadi urusan Allah."
Gumam Rangga.
Pria itu sedang berjalan melewati lorong rumah sakit, dan sesekali bertegur sapa dengan Dokter atau perawat yang berpapasan dengannya.
Hingga akhirnya dia hampir tiba di depan ruang NICCU yang sedang terjadi sedikit keributan.
Arin tengah ditarik paksa oleh dua orang pria dan seorang wanita yang wajahnya ditutup dengan masker, sedangkan Ardan dan istri serta ayahnya sedang mencoba menahan Arin. Entah apa yang terjadi sebenarnya, namun tentu Rangga tak bisa tinggal diam melihat hal tersebut.
"Maaf Bapak dan Ibu, tolong jangan membuat keributan di rumah sakit. Karena itu sangat mengganggu pasien-pasien lain."
Rangga mencoba menjadi penengah, meskipun dia tak tahu apa yang sedang terjadi.
"Dokter, tolong.."
Secara spontan Arin langsung berlindung di belakang Rangga.
"Jangan ikut campur ya, atau saya laporkan kamu. Ini masalah saya dengan mereka, tidak ada urusannya dengan kamu!"
Ancam wanita yang masih berusaha menarik pergelangan tangan Arin.
"Saya memang tidak punya urusan dengan masalah kalian, tapi jika masalah itu menimbulkan keributan di rumah sakit jelas itu menjadi urusan saya juga. Sebaiknya Bapak dan Ibu pergi sekarang, atau saya akan panggilkan security untuk mengusir Bapak dan Ibu."
Tegas Rangga.
Merasa malu karena menjadi tontonan banyak orang bahkan sampai ada yang mengabadikannya melalui kamera ponsel, akhirnya wanita dan dua orang pria tersebut langsung pergi.
"Arin kamu gak apa-apa?"
Tanya Rangga begitu ketiga orang tersebut pergi.
"Alhamdulillah aku gak apa-apa Dok. Makasih banyak Dok."
Jawab Arin sambil memegangi pergelangan tangannya yang tampak sedikit memar.
"Dokter, terimakasih karena sudah menolong anak saya."
Ucap Pak Malik.
__ADS_1
"Sama-sama Pak. Yang terpenting sekarang Arin sudah aman."
Jawab Rangga.
Yoshie meraih pergelangan tangan Arin yang tampak merah dan memar.
"Sebaiknya dikompres dengan air hangat. Sebentar, biar aku minta perawat untuk membawakan kompres air hangat."
Kemudian Rangga memanggil seorang perawat yang kebetulan melintas di hadapan mereka dan memintanya membawa kompres air hangat untuk mengobati pergelangan tangan Arin.
-----------
"Maaf ya Dok, lagi-lagi saya merepotkan Dokter."
Ucap Arin saat Yoshie mengompres pergelangan tangannya di ruangan Rangga.
"Cukup panggil Rangga aja. Tapi kalau aku boleh tahu, siapa orang-orang tadi?"
Tanya Rangga.
Arin menghela napas dalam, kemudian menunduk.
"Wanita itu adalah Ibuku. Entahlah, aku juga tidak tahu dia benar Ibuku atau tidak. Tapi sejak dia membuat kakek sakit sampai kritis, bagiku dia bukan lagi seorang Ibu."
"Astaghfirullah Arin, istighfar.. Kamu gak boleh seperti itu. Bagaimanapun juga dia ibu kamu."
Yoshie mengingatkan.
"Tapi Arin benar sayang. Ibu macam apa yang tega menelantarkan anaknya selama bertahun-tahun, dan sekarang dia baru meributkan perkara hak asuh."
Potong Ardan.
Rangga yang mendengar pembicaraan mereka merasa sedikit canggung, karena dia sadar dia tidak berhak untuk ikut campur masalah orang lain.
"Mohon maaf sebelumnya Mas Ardan, dan Arin.. Bukannya aku bermaksud ikut campur, tapi yang dikatakan Mbak Yoshie juga gak salah. Seburuk apapun, dia tetaplah ibu Mas Ardan dan Arin."
Ucap Rangga.
"Hanya Arin saja, bukan aku."
Jawab Ardan dengan tatapan kosong.
"Maaf Rangga, sebaiknya kita bicara di tempat lain."
Ucapnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi mas?"
Tanya Rangga setelah mereka duduk di salah satu bangku taman rumah sakit.
"Ibu Arin. Dialah yang menyebabkan kakek sakit seperti ini. Bahkan dia juga yang menyebabkan kondisi kakek menjadi kritis."
"Ibu Arin?"
Rangga semakin tak mengerti.
"Iya Rangga, Ibunya Arin. Maksudku, kami memang bersaudara tapi bukan saudara kandung. Aku hanya anak adopsi. Ayah dan Ibu bercerai saat kami masih kecil. Saat itu Arin belum mengerti arti perceraian. Tapi, aku sudah cukup besar untuk memahaminya."
Jawab Ardan sambil menunduk.
"Maaf mas, aku gak bermaksud untuk menyinggung.."
"Gak apa, memang itu kenyataannya Rangga. Aku hanya anak adopsi. Sebenarnya, aku juga baru mengetahuinya kemarin. Ibu sendiri yang mengatakannya. Dia bermaksud membawa Arin bersamanya, itulah kenapa Kakek sangat syok hingga menyebabkan kakek terkena serangan jantung. Dan karena Arin menolak ikut bersamanya, dia membayar dua orang tadi untuk membawa Arin secara paksa. Dia bahkan sedang mempersiapkan pengacara untuk membawa kasus ini ke jalur hukum dan menuntut Ayah mengembalikan Arin kepadanya."
Jawab Ardan.
"Kalau memang situasinya seperti itu, Ayah dan Arin juga punya hak yang sama dan seharusnya bisa menuntut balik. Apalagi usia Arin juga sudah dewasa. Dan secara hukum Arin berhak menentukan pilihannya sendiri."
"Masalahnya tidak sesederhana itu Rangga. Arin bukan anak kandung Ayah. Dan secara hukumnya Ayah tidak berhak untuk menahan Arin."
Rangga tertegun, berusaha mencerna maksud ucapan Ardan.
"Kasihan Arin, dia sangat tertekan dengan kenyataan. Aku adalah anak adopsi, dan aku tidak tahu siapa dan dimana orangtuaku. Entah mereka hidup atau tidak, entahlah. Aku tidak pernah tahu. Tapi Arin.. Orang-orang mengenal Ibunya dengan baik. Sering wara-wiri di layar kaca dan sudah malang melintang di dunia hiburan. Tapi Ibunya, justru tidak pernah mengakui dia di hadapan umum. Bahkan untuk bertemu pun, Arin harus kucing-kucingan dan sebisa mungkin menghindar dari sorotan media."
"Lalu, apakah Arin tahu jika dia bukanlah anak kandung Pak Malik?"
Tanya Rangga dengan ragu-ragu, takut pertanyaannya menyinggung Ardan.
"Sebelumnya tidak. Arin baru mengetahuinya kemarin tapi hanya sebatas dia bukan anak kandung Ayah. Ibunya belum menjelaskan kebenarannya pada Arin. Tapi, aku sudah mengetahuinya sejak lama. Dulu aku sempat mendengar percakapan Ayah dan Ibu sebelum berpisah, tentang Arin."
"Maaf Mas, aku tidak bermaksud untuk ikut campur masalah keluarga Mas Ardan dan Arin. Tapi kalau memang Mas Ardan dan Arin memerlukan bantuan soal hukum, kebetulan aku punya kenalan pengacara yang sangat profesional. Mas Ardan dan Arin bisa konsultasi masalah hukum dengannya."
"Terimakasih Rangga, tapi kami tidak ingin merepotkan kamu lebih jauh. Akan sulit jika kamu juga terseret dalam masalah ini. Karena Ibu dan Ayah kandung Arin bukanlah orang biasa. Mereka orang-orang yang berpengaruh, aku takut nantinya kamu juga akan mengalami kesulitan karena mereka."
Rangga terdiam sejenak, sambil berpikir.
"Mas Ardan, bolehkah aku menikahi Arin? Aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi aku hanya ingin melindunginya."
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Rangga tanpa dia sadari.
Ardan tampak terkejut dengan ucapan Rangga, dia bahkan tak bisa berkata-kata.
__ADS_1