
Malam itu Pak Malik kembali ke bengkel dengan keadaan kacau. Sudah dua hari sejak Ariana menghilang, dia juga tidak kembali ke bengkel dan mencari putrinya kesana kemari. Dia bahkan berkali-kali mendatangi kantor polisi untuk membuat laporan.
"Gimana Pak bos, udah ketemu neng Arin nya?"
Saprol, salah satu karyawan Malik yang sudah bekerja dengannya selama dua puluh tahun lebih sejak di Jakarta bertanya saat melihat Malik yang baru saja tiba.
Malam itu Saprol sedang bersiap menutup bengkel, ketika Malik kembali.
Malik menggeleng dengan lemah.
"Maaf nih Pak bos, bukan bermaksud menceramahi. Tapi memang sebagai seorang ayah, menurutku sikap pak bos ke Arin juga udah keterlaluan. Biar gimanapun juga kan dia anak Pak bos. Sebenci apapun Pak bos sama ibunya, itu gak mengubah kenyataan kalau Arin adalah putri Pak bos."
Ucap Saprol sambil cengengesan.
"Prol, bagaimana kabar istri dan anakmu?"
Tanya Malik tiba-tiba.
"Alhamdulillah, istri dan anakku baik Pak bos. Bahkan siang tadi anakku yang mengantarkan bekal makan siang untukku."
Jawab Saprol.
"Apa kamu menyayangi anakmu?"
"Pak bos, semua orangtua pasti menyayangi anaknya.."
Jawab Saprol sambil tersenyum.
"Tapi anak itu kan bukan darah dagingmu sendiri. Bukankah dia anak dari istrimu dengan mantan suami sebelumnya?"
"Pak Bos, istriku sudah ditinggalkan mantan suaminya sejak dia mengandung anak pertamanya. Begitu anak itu lahir dan mereka resmi berpisah, aku memberanikan diri untuk melamarnya. Bagiku tak peduli bahkan meski dia bukan darah dagingku atau istriku. Aku sudah mengikat mereka dalam hubungan yang kusebut keluarga. Bagiku, anakku tetaplah anakku. Dan yang anakku tahu, aku adalah ayahnya dan bukan oranglain. Dia tak perlu tahu kebenarannya. Yang terpenting aku mencintai mereka dan kami hidup bahagia, itu sudah lebih dari cukup."
Jawab Saprol.
Malik tertegun mendengar jawaban menohok dari Saprol. Dia merasa tertampar kenyataan.
"Prol, anakmu seorang lelaki dan terlahir dari hubungan yang sah. Aku yakin tidak akan ada masalah kedepannya."
"Maksudnya Pak bos?"
Saprol tampak bingung.
"Bukan apa-apa. Hanya saja, terkadang seseorang harus berada dalam situasi yang rumit dan dia tak tahu harus berbuat apalagi."
__ADS_1
Malik berjalan menuju mobil sesaat setelah Saprol selesai menutup bengkel.
"Aku harus menemukan putriku Prol. Sudah dua hari dia pergi dan aku tak tahu dimana dia,apakah dia baik-baik saja, apakah dia berada di tempat yang aman. Aku tak yakin Polisi segera menemukannya sedangkan sampai saat ini sama sekali belum ada titik terang dimana keberadaannya."
Jawab Malik.
"Kalau begitu hati-hati di jalan Pak bos, semoga Neng Arin segera ditemukan."
Ucap Saprol.
--------
Malik menepikan mobilnya di pinggir jalan. Pikirannya sangat kacau, tak tahu lagi entah harus kemana dia mencari putrinya.
Malam sudah hampir larut dan dia sama sekali belum menemukan titik terang. Sudah dua hari dia mencari, namun putrinya tak juga dia temukan.
Saat sedang menyandarkan kepala pada sandaran kursi mobilnya, tanpa sengaja Malik melihat segerombolan remaja pria dan wanita yang sedang berlari seperti dikejar sesuatu.
Refleks Malik memfokuskan pandangannya, barangkali Cinta ada disana namun Nihil.
Malik masih bertanya-tanya apa gerangan yang membuat sekumpulan remaja itu tampak berlari terbirit.
Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari mobil dan melihat situasi.
Salah seorang pria itu kemudian menembakkan senjatanya ke atas sebagai peringatan, namun cara itu sia-sia.
Tiba-tiba seorang yang lain memungut sesuatu dari tanah, tak jauh dari tempat Malik berdiri sekarang.
Malik memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf Pak, ini ada apa ya? Tadi saya lihat beberapa orang remaja berlarian. Ada masalah apa Pak?"
Tanya Malik.
"Apakah Bapak mengenal mereka?"
Tanya pria tersebut.
"Tidak Pak, tadi saya hanya merasa sedikit lelah jadi saya menepikan mobil saya untuk beristirahat sebentar dan melihat gerombolan remaja itu berlari."
Jawab Malik dengan yakin.
"Kami minta maaf, sebenarnya kami dari Pihak Kepolisian memang sedang melakukan pengejaran terhadap beberapa orang remaja tadi yang diduga kuat adalah seorang mucikari, pengedar dan pemakai narkoba juga penadah barang-barang curian. Kami sudah lama mengintai pergerakan mereka."
__ADS_1
Jawab Polisi tersebut.
Malik tertegun sesaat. Ariana, bagaimana dengan nasib putrinya kini? Semoga saja dia tak terjebak dengan tindak kriminal seperti remaja-remaja tadi.
"Tapi di usia yang masih remaja seperti itu, apakah benar mereka melakukan tindakan kriminal sejauh itu?"
Malik tampaknya masih kurang yakin.
"Begitulah remaja jaman sekarang Pak, semakin sulit di kendalikan. Apalagi sekarang pergaulan semakin bebas, ditambah lagi tayangan-tayangan yang tidak berbobot dan justru merusak pola pikir para remaja."
Jawab Polisi tersebut.
Setelah beberapa orang Polisi tadi pergi melakukan pengejaran, Malik kembali ke mobilnya dengan perasaan semakin tak karuan.
Bagaimana jika Ariana juga melakukan tindak kriminal, atau bagaimana jika Ariana menjadi wanita panggilan dan semacamnya. Malik semakin merasa cemas.
Dia bergegas menuju ke kantor polisi untuk menanyakan perkembangan pencarian putrinya, namun hasilnya nihil. Polisi juga belum menemukan titik terang.
"Bagaimana Malik, apa kamu sudah menemukan Arin?"
Tanya Ibunya sesaat setelah Malik kembali ke rumah dengan wajah lesu.
"Malik, bagaimana dengan Arin? Dimana dia?"
Ayahnya juga tampak mencemaskan cucu perempuannya itu.
"Aku belum menemukannya."
Jawab Malik sambil menundukkan kepala.
"Lihat, ini semua adalah kesalahan kamu! Apa yang sudah kamu lakukan pada putrimu selama ini, kamu selalu menghardiknya.. Kamu bahkan tidak perduli lagi pada kedua anakmu. Malik, apa sebenarnya yang terjadi denganmu? Kenapa kamu sampai seperti ini?"
"Bu, sekarang bukan waktunya saling menyalahkan. Yang terpenting kita harus terus mencari Arin. Coba ibu hubungi Ardan. Malik, tanyakanlah pada istrimu barangkali Arin pulang ke Jakarta."
"Percuma ayah, aku sudah menanyakan keberadaan Arin pada Wulan. Dia bahkan menyalahkanku. Memang semuanya salahku, aku yang telah gagal menjaga anak-anakku."
"Pak, Ardan juga pagi tadi baru menghubungi ibu dan dia menanyakan kabar Arin. Itu artinya Arin juga tidak ada disana."
"Ya Allah.. Kemana Arin.. Malik, ayo kita cari dia. Kita harus segera menemukannya."
Kakek Nenek Arin juga ayahnya bergegas dan kembali melakukan pencarian.
Arin.. Dimana kamu nak. Apa kamu semarah itu pada Ayah. Kalau memang kamu marah, kamu boleh memaki Ayah tapi jangan menghilang seperti ini. Arin.. Maafkan Ayah.. Pulanglah Nak.. Ayah benar-benar minta maaf. Selama ini Ayah memang salah.. Ayah telah mengabaikan kamu dan Ardan Ayah benar-benar merasa bersalah pada kalian. Pulanglah Arin.. Ayah janji setelah ini kita akan memulai semuanya dari awal, kita akan menjadi keluarga yang utuh, hanya kita bertiga
__ADS_1