
sudah lima hari sejak Arin kabur dari rumah, dan dia mulai merasa tak tega pada kakek dan neneknya yang masih terus mencarinya.
Akhirnya hari itu Arin memutuskan untuk kembali ke rumah. Lagipula, dia sudah merasa lebih baik. Dia sudah memutuskan, setelah ini dia akan mencari tempat kost untuk dirinya. Rasanya itu lebih baik daripada harus terus tersiksa batin karena sikap ayah dan ibunya.
Begitu pikir Arin.
"Assalamualaikum.."
Arin mengetuk pintu rumah kakek dan neneknya.
"Waalaikumsalam Arin.. Akhirnya kamu pulang juga, kamu kemana aja.. Kamu tahu kami semua sangat mengkhawatirkan kamu bahkan mencari kamu kesana kemari, kamu darimana aja Arin.."
Nenek yang saat itu membukakan pintu untuk Arin. Terlihat wajahnya yang sangat lega, karena akhirnya cucu yang mereka cari selama beberapa hari sudah kembali.
Arin langsung memeluk neneknya.
"Nek, maafin Arin ya. Arin udah nyusahin kakek sama nenek."
Arin menangis sesegukan.
"Sudah.. sudah. Nenek mengerti, kamu pergi karena kamu sangat kecewa dengan sikap ayah kamu kan."
"Nek, dimana kakek?"
Tanya Arin.
"Sebentar, nenek akan telepon kakek kamu. Kakek juga pasti senang kalau tahu kamu sudah kembali."
Tak lama kemudian kakek juga kembali, dan Arin langsung berlari menghampiri sambil memeluk kakeknya.
"Kakek.. Arin minta maaf. Arin udah bikin susah kakek.."
"Arin.. Kamu pergi kemana? Kamu pergi tanpa pamitan, ponsel kamu juga gak bisa dihubungi. Kamu tahu kakek, nenek bahkan ayah kamu sangat mencemaskan kamu. Kami sudah mencarimu kesana kemari bahkan ayah kamu sampai membuat laporan ke kantor polisi. Kamu kemana saja Arin..?"
"Maafin Arin kek. Sebenarnya, selama ini Arin ada di studio. Bahkan Arin juga tahu kakek dan nenek mencari Arin. Tapi Arin masih perlu menenangkan diri."
"Sudahlah, yang terpenting kamu sudah pulang sekarang. Arin, ayah kamu juga sangat mengkhawatirkan kamu. Bahkan sudah beberapa hari ini dia tidak pulang dan dia mencari kamu kesana kemari. Sebaiknya kamu temui ayahmu, dia pasti sangat senang kalau tahu kamu sudah kembali."
Arin menggeleng perlahan.
"Arin gak mau ketemu Ayah Kek. Arin takut, Ayah pasti akan marah-marah lagi, Ayah pasti akan menuduh Arin lagi. Arin gak mau ketemu Ayah Kek."
__ADS_1
Kakek menghela napas.
"Arin, Kakek yakin ayah kamu sudah berubah. Temuilah dia, satu kali saja. Kalau dia masih tetap begitu, kakek sendiri yang akan menghukumnya."
Bujuk Kakek.
Arin terdiam sesaat, sambil berpikir.
"Arin, Kakek tahu kamu pasti ingin ayah kamu kembali seperti dulu kan. Percayalah, Ayah kamu benar-benar sudah berubah."
Ucap Kakek sambil menepuk pundak Arin.
"Arin harap itu benar Kek. Tapi kalau Ayah masih belum berubah, Arin akan benar-benar pergi dari kehidupan Ayah."
Jawab Arin sambil melengos menuju kamarnya.
Arin menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Dirogohnya sling bag miliknya kemudian meraih ponsel yang sudah beberapa hari sengaja dia padamkan.
Entah berapa banyak panggilan dan pesan whatsapp yang masuk dan semuanya sudah diduga pasti adalah dari kakek dan dari sahabat-sahabatnya yang memang selama beberapa hari mencari keberadaannya.
Namun tiba-tiba mata Arin membulat sempurna, ketika melihat satu notifikasi pesan whatsapp, dari Ayahnya.
"Arin.. Tolong maafkan ayah. Selama ini Ayah selalu menyakiti kamu, Ayah sudah mengabaikan kamu dan Ardan. Ayah benar-benar minta maaf. Pulanglah nak, Ayah janji Ayah akan berubah. Tolong berikan Ayah kesempatan untuk mengembalikan keluarga kita seperti dulu. Hanya kita bertiga. Sampai kapanpun, Ardan dan Arin adalah anak Ayah. Pulang ya Nak.."
Airmata Arin merembes saat membaca pesan dari ayahnya. Sudah bertahun-tahun lamanya, ini pertama kalinya Ayah mengirimkan pesan seperti ini kepadanya.
Kemudian dia membuka pesan lainnya, dari Ardan abangnya.
"Arin, kamu dimana dek? Pulang ya.. Kasihan kakek dan nenek, sudah kebingungan mencari kamu kesana kemari. Kalaupun kamu gak ingin pulang ke rumah Kakek dan Nenek, setidaknya kamu bisa pulang ke rumah abang. Tapi jangan menghilang tanpa kabar seperti ini. Abang tahu kamu sangat kecewa dengan sikap Ayah, tapi bagaimanapun juga, di adalah ayah kita. Dan kita juga masih punya kakek dan nenek yang selalu menyayangi kita. Jangan kabur-kaburan lagi ya Dek, kasihan Kakek sama Nenek."
"Gimana dengan Ibu, apa Ibu tahu soal ini?"
Arin tersenyum miris,
"Aku yakin Ibu sudah tahu, tapi toh Ibu memang sudah tidak perduli lagi dengan anak-anaknya."
Gumam Arin.
Baru saja Arin akan memejamkan mata, seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Arin yang awalnya mengira itunadalah Kakek atau Neneknya, dia meminta orang dibalik pintu untuk masuk.
__ADS_1
Arin terbelalak kaget ketika melihat Ayahnya sudah berdiri persis didepan pintu kamarnya.
"Arin.."
Ayahnya menatap Arin dengan mata nanar memendam kesedihan. Perasaan bersalah yang teramat sangat kentara dari raut wajahnya yang sendu.
"A-yah.."
Arin seperti kehilangan kata.
Ayahnya hanya berdiri di depan pintu. Banyak kata yang ingin dia sampaikan, namun bibirnya terasa kelu. Kata-katanya seperti tertahan di ujung tenggorokan.
Tanpa diduga, Arin justru berlutut di kaki Ayahnya.
"Ayah, maafin Arin Ayah. Arin sudah menyusahkan ayah selama ini, Arin sudah menjadi beban untuk Ayah, untuk Kakek dan Nenek juga. Tolong maafkan Arin Ayah."
Ayah berjongkok di hadapan Arin, kemudian memeluknya.
"Arin, selama ini justru Ayah yang sudah banyak berdosa pada kamu dan Ardan. Ayah sudah menelantarkan kalian, Ayah bahkan tak perduli dengan kalian sampai-sampai Ardan pergi dari rumah. Selama ini Ayah yang salah, Ayah selalu menyakiti hati kalian, tolong maafkan Ayah."
Arin tampak sangat terkejut, dan nyaris tak percaya. Sudah bertahun-tahun lamanya, sejak terakhir kali Ayah memeluknya. Bahkan Arin tak kuasa menahan airmatanya.
Inilah Ayahnya yang sebenarnya, sosok Ayah yang hangat dan penuh kasih. Dan hari ini dia mendapatkan Ayahnya kembali, setelah entah berapa banyak luka dan sakit tertoreh di hatinya.
Bagaimanapun, Arin bukanlah seorang pendendam. Tentu dia juga sangat berharap Ayahnya akan kembali seperti dulu.
"Ayah, Arin udah maafin Ayah. Arin ingin sekali ayah kembali seperti dulu."
Ucap Arin.
Ayah melepaskan pelukannya, kemudian menatap ke dalam mata Arin.
"Arin, dengarkan Ayah. Apapun yang terjadi nantinya, kamu tetap anak Ayah. Bahkan meskipun dunia menentangnya, bagi Ayah kamu tetaplah putri Ayah. Ayah harap kamu ingat itu."
Arin berpikir sejenak, tentu saja dia adalah putri Ayahnya. Lalu siapa lagi?
"Besok Ardan akan pulang bersama istrinya. Ayah juga akan meminta maaf padanya. Selama ini Ardan juga sudah sangat menderita karena Ayah, bahkan Ayah menentang pernikahannya dan karena itu dia pergi dari rumah."
Ya Allah, apakah ini nyata? Atau ini hanya mimpi? Jika ini mimpi, kuharap aku tak akan terbangun selamanya.
Batin Arin.
__ADS_1