
Arin baru saja selesai sholat isya. Saat ini dia berada di kontrakan milik teman lamanya di kota Medan.
Rasanya dia perlu sedikit menenangkan diri dari kepenatan dan semua masalah yang terjadi hari ini.
"Kakek kamu gimana Rin, udah siuman?"
Tanya Rere, sahabat lama Arin yang kini menetap di Medan karena pekerjaannya.
"Alhamdulillah, Kakek udah siuman Re. Tapi kondisinya masih sangat lemah."
Jawab Arin.
"Syukurlah, semoga aja kakek kamu lekas sembuh ya Rin."
Ucap Rere.
"Aamiin.. Maaf Re, aku udah ngerepotin kamu kali ini."
"Hei, sesama teman gak ada yang namanya ngerepotin. Kontrakan ini juga kosong kok, karena setelah aku di mutasi ke kantor cabang yang lain jaraknya lumayan jauh dari sini. Lagipula, lokasinya juga gak jauh dari rumah sakit kan. Kamu dan keluargamu bisa bergantian menjaga Kakek dirumah sakit, biar kalian bisa istirahat dengan nyaman."
Arin mengangguk setuju.
"Thanks ya Re."
"Oh iya Rin, ngomong-ngomong Donny apa kabarnya? Udah lama juga gak ketemu, terakhir kali waktu kalian ke Jakarta bareng kan.."
Arin tertegun. Bagaimana dia menjelaskannya pada Rere?
Bahkan saat itu Rere adalah orang yang paling antusias saat tahu dia sedang dekat dengan Donny.
"Ingat ya, pokoknya kalo kalian menikah nanti aku yang jadi sponsor wedding organizernya."
Tegas Rere.
Selain bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan perbankan, Rere juga memiliki usaha sampingan wedding organizer. Tak heran jika dia bisa sukses dan mempunyai banyak aset rumah kontrakan.
"Re, aku sama Donny.."
"Kenapa kenapa.. Kalian udah persiapan untuk nikah?"
Rere tampak sangat antusias, sama seperti dulu.
Arin menggeleng perlahan.
"Aku dan Donny sudah lama berakhir Re."
Rere yang sebelumnya tampak antusias, mendadak raut wajahnya berubah sendu.
"Rin, kamu serius? Tapi kenapa? Aku lihat kalian pasangan yang cocok, Donny juga baik. Apa masalahnya?"
"Maaf Re, kamu gak keberatan kan kalo aku gak cerita? Intinya, aku dan Donny udah lama berakhir. Aku juga gak pernah tahu lagi dimana dan bagaimana dia, sampai sekarang. Aku gak punya keberanian untuk menghubunginya meskipun hanya sekedar bertanya kabar."
"Rin, apa ada masalah diantara kalian?"
Tanya Rere dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Arin mengangguk pelan, kemudian menunduk.
Memang benar adanya, semua itu karena latar belakang Arin.
"Kamu gak selingkuh kan Rin? Gak, aku gak percaya kalau kamu ngelakuin hal itu. Atau Donny? Dia juga gak ada tampang-tampang playboy kayaknya."
Ucap Rere.
"Re, terkadang rencana kita tak sejalan dengan kenyataan. Aku sudah belajar untuk ikhlas, mungkin memang aku dan Donny gak berjodoh. Sekuat apapun bertahan kalau memang Allah tidak menakdirkan kami bersatu, aku bisa apa?"
Jawab Arin dengan nada lirih.
Rere memeluk Arin sambil mengusap punggungnya.
"Rin, aku gak akan memaksa kamu untuk cerita kalau itu membuatmu gak nyaman. Aku tahu persis bagaimana dirimu. Kalau memang itu yang terbaik, aku hanya bisa berdoa semoga kalian berdua sama-sama menemukan kebahagiaan kalian meskipun kalian gak bersama lagi. Tapi saranku, cobalah untuk berkomunikasi dengannya. Mungkin dia juga merasa canggung menghubungimu setelah hubungan kalian berakhir. Bagaimanapun juga kalian sudah berteman sejak kecil kan."
Saran Rere.
"Entahlah Re, untuk saat ini aku belum punya keberanian untuk melakukannya."
Jawab Arin sambil menghela napas.
"Rin, kamu mau ke rumah sakit kan? Bareng aja yuk, mumpung aku juga masih ada waktu aku mau jenguk kakek."
Ucap Rere sambil membereskan beberapa berkasnya pagi itu.
Arin dan Rere berjalan menyusuri lorong rumah sakit, menuju uang NICCU. Hari ini Kakek akan dipindahkan ke ruang pasien, karena kondisinya mulai membaik dan tidak perlu lagi menggunakan alat bantu.
Seorang Dokter menyapa Arin. Usianya mungkin sepantaran dengan Ayahnya. Meski tidak mengenal Dokter tersebut, Arin tetap menjawab salamnya dengan sopan.
"Waalaikumsalam Dok."
Jawab Arin.
dan tanpa mereka sadari, beberapa perawat yang berada di sekitar mereka tampak saling berbisik.
Hanya Rere yang sepertinya merasa canggung dengan tatapan beberapa perawat tersebut.
"Bagaimana kakekmu?"
Tanya Dokter tersebut.
"Alhamdulillah, kakek mulai membaik Dok"
Arin melirik sekilas name tag di jas Dokter itu.
"Hari ini Kakek akan dipindahkan ke ruang pasien."
Sambungnya.
"Alhamdulillah, syukurlah. Semoga kakek kamu lekas sembuh ya. Kalau begitu saya tinggal dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.."
__ADS_1
Jawab Arin dan Rere bersamaan.
"Siapa Dokter itu Rin, kamu kenal?"
Tanya Rere setelah Dokter tadi menghilang dari pandangan mereka.
"Dokter Bayu."
Jawab Arin santai, seolah dia mengenalnya. Padahal dia tahu namanya dari name tag yang dikenakan Dokter Bayu di jas putihnya.
"Kamu sadar gak, kayaknya beberapa perawat disini memperhatikan kita dengan tatapan aneh. Apalagi saat kamu bicara dengan dokter tadi. Kok rasanya aku jadi gak nyaman."
Bisik Rere.
"Re, itu cuma perasaan kamu aja. Yuk, kita temui Kakek dulu. Keburu kamu telat loh."
"Serius Rin, coba deh kamu perhatikan. Mereka seperti sedang curi-curi pandang. Rin! Kamu gak menggoda suami orang kan?"
Arin yang pundaknya ditepuk dengan keras oleh Rere tampak sangat terkejut, apalagi saat Rere mengatakan dia menggoda suami orang.
"Astaghfirullah Re.. Kamu pikir aku wanita seperti itu? Udah yuk kita ke ruangan kakek sekarang daripada kamu makin ngelantur disini."
Arin menarik tangan Rere dan membawanya menuju ruang NICCU tempat kakeknya dirawat.
"Arin, syukurlah kamu udah datang. Bang Ardan bilang sejak tadi malam Kakek mencari kamu. Bang Ardan mengira kamu pulang bareng nenek semalam."
Ucap Yoshie yang juga baru tiba di rumah sakit bersama nenek dan ayah.
"Maaf Kak, Arin lupa bilang. Arin menginap dirumah Rere, teman Arin."
Kemudian Arin memperkenalkan Rere kepada Yoshie.
"Arin, jangan terbiasa seperti itu. Setidaknya kamu harus memberi kabar kepada salah satu keluarga. Apalagi karena situasinya sekarang."
Ucapan Ayah Arin terputus karena Arin memberi isyarat pada ayahnya sambil melirik Rere.
Rere memeluk dan memberikan semangat untuk nenek, karena sebelumnya Rere sudah sangat mengenal keluarga Arin, kecuali Yoshie.
"Mohon maaf, apakah kalian keluarga pasien kakek Jailani?"
Seorang Suster menghampiri mereka.
"Iya Sus, saya anaknya. ada apa Sus?"
Tanya Pak Malik, Ayah Arin.
"Begini Pak, karena kondisinya mulai membaik hari ini Kakek Jailani sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat. Tapi Kakek masih harus menginap selama beberapa hari, setidaknya sampai luka jahitannya mulai mengering. Jika pihak keluarga setuju, kami akan melakukan proses pemindahannya sekarang."
Ucap Suster tersebut.
"Baik Sus, kami setuju. Tolong berikan ruang VVIP untuk ayah saya Sus, biar ayah bisa beristirahat dengan nyaman selama masa pemulihan."
"Baik Pak, mohon menyelesaikan prosedurnya di ruang administrasi."
Balas Suster tersebut sambil tersenyum lembut khas perawat rumah sakit.
__ADS_1