
"Apa? Menikah? Dengan siapa?"
Bu Riana tampak sangat terkejut ketika putranya mengatakan ingin menikah. Sedangkan Pak Bayu yang sudah tahu sejak awal tampak sangat tenang.
Ruang makan keluarga Dokter Bayu malam itu tampak tak setenang biasanya.
"Dengan Arin Ma."
Jawab Rangga.
"Arin siapa? Rangga, kamu belum mengenalkan dia pada Papa dan Mama dan sekarang tiba-tiba kamu bilang mau menikah?"
"Papa mengenalnya Ma, dia cucu salah satu pasien di rumah sakit. Bahkan Papa juga kenal keluarganya."
Ucap Pak Bayu.
"Tapi kenapa kalian menyembunyikan ini dari Mama?"
Bu Riana tampak masih syok karena putranya yang mendadak mengatakan ingin menikah, terlebih karena dia tak tahu apapun sebelumnya.
"Ma, bukannya kemarin Rangga sudah bilang sama Mama? Atau Mama yang lupa?"
Bela Pak Bayu.
"Baiklah, sebelum kalian menikah setidaknya Papa dan Mama harus bertemu dan mengenal dia dan keluarganya. Rangga, pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua hati. Tapi juga dua keluarga. Gak bisa sembarangan seperti ini."
"Iya, Rangga mengerti Ma.. Tapi masalahnya situasinya saat ini sedang tidak baik."
Akhirnya mau tak mau Rangga menceritakan semuanya pada kedua orangtuanya.
"Kamu mau menikah dengan wanita seperti itu? Rangga, Apa kamu sudah gak waras?!
Dimana akal sehatmu, hah?!"
Bu Riana tampak berang setelah mengetahui semuanya, terutama tentang Ariana.
"Ma, tenang dulu Ma. Papa yakin Rangga punya alasan. Lagipula, apa yang salah? Papa lihat gadis itu baik, dia sesuai untuk Rangga."
"Sesuai Papa bilang? Pa, dia itu anak yang lahir dari hasil hubungan gelap. Apa Papa gak memikirkan gimana reputasi keluarga kita? Mama gak habis pikir ya, bisa-bisanya Papa justru membela Rangga."
Rangga berlutut sambil memohon di kaki Bu Riana.
"Ma, Rangga mohon. Untuk kali ini aja, biarkan Rangga menentukan pilihan Rangga sendiri. Selama ini Rangga gak pernah menentang keinginan Mama kan. Apapun yang mama putuskan, selalu Rangga ikuti. Rangga mohon Ma. Setidaknya, Mama kenali Arin dulu. Dia gadis yang baik Ma.."
"Rangga, Mama tidak akan menentang jika kamu tidak membuat keputusan yang salah. Sekarang bagaimana bisa kamu katakan dia gadis yang baik sementara kedua orangtuanya.. kedua orangtuanya.."
Bu Riana tampak tercekat.
__ADS_1
"Rangga,Kamu tahu kan. Ibunya adalah sahabat Mama bahkan sejak remaja. Mama akui, dia wanita yang baik. Tapi dia berubah sejak mengenal laki-laki itu. Dia bahkan tega meninggalkan suami yang sangat mencintainya demi laki-laki lain bahkan sampai mengandung anaknya. Coba kamu pikirkan itu baik-baik Rangga!
Bagaimana kamu yakin putrinya adalah gadis yang baik sementara kedua orangtuanya justru tak baik. Ingat Rangga, buah jatuh itu gak jauh dari pohonnya. Kamu mengerti kan maksud mama?"
"Ma.. Tenanglah, pikirkan dengan kepala dingin. Papa yakin Rangga sudah banyak berpikir sebelum mengambil keputusan ini. Rangga benar Ma, cobalah satu kali saja Mama temui gadis itu. Kenali dia, Papa yakin Mama akan menyukainya. Jangan menghakimi seseorang hanya karena latar belakang keluarganya. Mama tahu, Nabi Ibrahim pun terlahir dari orangtua penyembah berhala bahkan Ayahnya adalah pembuat patung berhala terbaik pada masa mereka. Tapi putra mereka, Nabi Ibrahim. Dia justru adalah orang yang menghancurkan patung-patung berhala itu."
"Tapi Pa.."
"Ma, Rangga sudah dewasa. Biarkan dia menentukan pilihannya sendiri."
Bu Riana menghela napas dalam.
"Baiklah, Mama akan memberikan satu kesempatan. Bawa gadis itu menemui Mama, dan kalau Mama tidak menyukainya maka pernikahan tidak akan terjadi."
"Mama serius?"
Rangga tampak berbinar, kemudian memeluk Ibunya.
"Makasih Ma.. Rangga jamin, Mama pasti akan menerima dia sebagai menantu."
Ucap Rangga.
"Kapan kamu akan mengenalkan Mama padanya?"
Tanya Bu Riana.
Jawab Rangga.
"Ayah, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Ayah. Ini mengenai Arin."
Ucap Ardan yang malam itu sedang berjalan di koridor rumah sakit bersama Ayahnya setelah melakukan sholat isya berjamaah di mushola rumah sakit.
"Ada apa dengan Arin?"
Tanya Pak Malik.
Kedua pria itu kemudian duduk di sebuah bangku.
Ardan menghela napas dalam sebelum mengatakan rencananya dan Rangga pada Ayahnya.
"Ayah, hanya ada satu cara untuk mempertahankan Arin bersama kita. Arin harus segera menikah."
Pak Malik sangat terkejut mendengar ucapan Ardan.
"Ardan, apa yang kamu pikirkan? Bagaimana bisa kamu membicarakan soal pernikahan dalam situasi seperti ini?"
__ADS_1
Kemudian Ardan menjelaskan semuanya pada Ayahnya.
"Hanya itu satu-satunya cara Ayah. Aku tahu, kita semua tidak ingin kehilangan Arin. karena itulah Rangga menawarkan diri untuk menikahi Arin. Setidaknya setelah mereka menikah, Rangga bisa menjaga Arin dan kita punya posisi yang sama dengan kedua orangtua kandung Arin Ayah."
"Lalu bagaimana dengan orangtuanya? Ardan, apa kamu lupa apa yang pernah terjadi pada adik kamu? Bagaimana jika kejadian yang sama terulang lagi?"
"Rangga juga sudah mengabariku Ayah. Dia bilang keluarganya setuju untuk bertemu dan mengenal Arin. Rangga juga sudah menceritakan semua tentang Arin pada keluarganya."
Pak Malik terdiam sangat lama.
Tentu saja, bagi seorang Ayah keputusan terberat adalah ketika dia harus melepaskan putrinya menikah dengan seorang lelaki.
Bahkan meskipun dia bukanlah Ayah kandung dari Arin.
"Baiklah, Ayah ingin bertemu dengan Rangga dan keluarganya. Tapi, bagaimana dengan Arin? Apa kamu sudah bicaradengannya soal ini?"
"Ardan sudah menghubunginya sore tadi Ayah, sebentar lagi mungkin dia sampai."
"Menikah dengan Dokter Rangga?!
Gak Bang, Arin gak setuju!"
Arin tampak sangat syok setelah mendengar ucapan Ardan.
"Rin, tolong berhentilah bersikap keras kepala. Kami melakukan ini semua untuk kebaikan kamu. Abang, Ayah, Kakek, Nenek dan Rangga. Kami semua menyayangi kamu Rin.."
"Justru karena itu Bang.. Arin gak mau membuat repot semua orang. Ayah, Kakek dan Nenek selama ini sangat baik pada Arin. Bahkan meski tahu Arin hukanlah anak kandungnya, Ayah tetap menyayangi Arin. Arin gak mau orang-orang yang Arin sayangi justru mengalami kesulitan karena Arin. Tolong Bang, biarkan Arin mengurus masalah ini sendiri."
"Ini bukan masalah sepele Arin, kamu gak akan bisa selesaikan ini sendiri. Kamu tega mengecewakan banyak orang? Rin, kami semua hanya tidak ingin kehilangan kamu. Terutama ayah, dia sangat menyayangi kamu bahkan lebih dari dirinya sendiri. Tolong jangan bersikap egois Rin, masalah ini harus kita hadapi bersama."
"Gak Bang, Arin gak mau menyusahkan lebih banyak orang. Selama ini Ayah pasti sudah sangat sulit merawat Arin yang adalah anak dari mantan istrinya bersama selingkuhannya. Memberikan kasih sayang kepada anak yang sangat tidak diharapkan kehadirannya, anak dari pria yang menghancurkan kehidupannya. Udah cukup Bang, Arin gak mau membuat keluarga ini semakin menderita karena Arin."
"Arin, Apa maksud kamu? Dengar, kamu adalah putri Ayah dan sebagai seorang Ayah tentu Ayah berhak untuk ikut campur masalah kamu."
Pak Malik yang tanpa sengaja menguping pembicaraan Arin dan Ardan akhirnya buka suara.
"Ayah.."
Arin menatap Pak Malik dengan tatapan sendu.
"Dengar, aku adalah ayah kamu. Gak ada satupun yang berhak untuk merebut kamu dari Ayah. Kamu mengerti? Satu-satunya cara agar kamu tetap menjadi putri Ayah, adalah dengan menikahi Dokter Rangga. Kalau kamu menyayangi keluarga ini, tolong lakukan ini demi kami semua. Demi Ayah, demi Kakek dan Nenekmu, demi Aedan dan Yoshie juga."
Arin tertegun mendengar permintaan ayahnya.
Tentu, ini adalah keputusan yang berat baginya.
__ADS_1