
Keesokan harinya, Bu Riana sengaja mengikuti Rangga ke rumah sakit. Meskipun Rangga juga bekerja di rumah sakit yang sama, namun Bu Riana sangat yakin jika putra semata wayangnya itu tidak pernah melirik ke kanan dan kiri. Memang begitulah dia, sikapnya yang dingin dan acuh terutama kepada wanita terkadang membuat Bu Riana geram.
"Assalamualaikum Amelia, gimana kondisi adik kamu..?"
Bu Riana menyapa seorang wanita berpakaian syar'i yang tengah duduk di koridor sambil membaca kitab kecil yang dia bawa.
"Waalaikumsalam.. Alhamdulillah tante, kondisi Amanda mulai membaik. Barusan dokter bilang masa kritisnya sudah lewat, dan dia mulai stabil."
Jawab Amelia sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Oh iya, kenalin.. Ini Rangga, anak tante. Dia Dokter magang di Rumah Sakit ini. Rangga, ini Amelia, yang tadi malam mama ceritakan ke kamu."
Rangga mengulurkan tangan untuk berjabat, namun wanita itu dengan sopan mengatupkan kedua tangannya.
"Ma, Rangga tinggal dulu ya. Rangga harus keliling lagi untuk memeriksa kondisi pasien lain."
Setelah berpamitan pada mamanya dan Amelia, Rangga bergegas untuk menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter.
"Rangga, gimana menurut kamu wanita pilihan mama? Dia cantik kan? Kamu juga sudah lihat sendiri, dia sangat santun sangat soleha."
Ucap Bu Riana saat mereka sudah kembali ke rumah.
"Ma, jangan terlalu memaksakan kehendak mama sendiri. Memangnya dia sudah setuju?"
Tanya Rangga.
"Tentu, mama sudah bicara dengannya dan setidaknya dia belum memberi penolakan. Dia meminta waktu sampai adiknya benar-benar sembuh, setelah itu dia akan mempertimbangkan pinangan mama."
"Pinangan?"
Rangga tampak terkejut.
"Rangga, kamu gak berpikir wanita seperti dia akan bersedia menjalin hubungan tanpa kepastian kan? Dia wanita baik-baik, dan dia pasti tahu batasan antara pria dan wanita."
Jawab Bu Riana tegas.
Rangga menghela napas dalam.
"Yasudah, terserah mama saja."
Jawab Rangga yang kemudian bergegas masuk ke kamarnya.
------------
Dua hari berlalu, Arin sudah bersiap untuk pulang. Kakek dan neneknya sudah berkali-kali menghubunginya, dan sepertinya mereka terdengar sangat cemas tak seperti biasa.
Mungkin karena beberapa hari ini Arin tidak memberi kabar pada kakek dan nenek, membuat mereka khawatir. Begitu pikir Arin.
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya Arin tiba di kampung halaman kakek dan neneknya.
Arin berjalan gontai menuruni taksi online, sambil menenteng tas berisi beberapa pakaian yang dia beli saat menginap di hotel.
__ADS_1
"Itu mobil ayah..?"
Arin tampak sedikit ciut saat melihat mobil ayahnya yang terparkir di halaman rumah nenek.
Sekarang dia paham, alasan kakek dan nenek merasa cemas. Mungkin ayahnya sudah tahu jika dia tak ada dirumah.
Meskipun merasa was-was, namun Arin memberanikan diri melangkah masuk.
"Assalamualaikum.."
Ucap Arin saat sudah berdiri di depan pintu.
"Masih ingat pulang kamu?"
Ayahnya tiba-tiba muncul dari ruang belakang.
"A-ayah.."
Arin merasa takut dan gugup.
"Malik, biarkan Arin beristirahat dulu, dia pasti sangat lelah."
Kakek mencoba mendinginkan suasana.
"Istirahat? Bukankah dia sudah puas beristirahat di kamar hotel yang luas?"
Ucap Malik dengan nada sinis.
Pinta nenek.
Arin yang sejak tadi terdiam, tubuhnya mulai gemetar.
Darimana ayah tahu aku menginap di hotel?
Apa jangan-jangan ada yang melihatku lalu memberi tahukan pada ayah?
Batin Ariana.
"Kenapa kamu hanya diam.. Kamu terkejut karena ayah tahu semuanya? Menginap di hotel, menghabiskan banyak uang, kamu pikir ayah tidak tahu semua itu? Tapi siapa yang tahu, mungkin saja kamu menghabiskan waktu bersama pria hidung belang?"
Nada bicara Malik sangat tenang, namun justru ketenangannya itu membuat nyali semua orang di rumah menjadi ciut, terutama Arin.
Dia tahu persis bagaimana jika ayahnya marah. Dan kali ini, ayahnya sedang benar-benar marah.
"Ariana, sekarang jawab dengan jujur. Kemana kamu pergi?"
"Malik, sudahlah. Kasihan Arin. Setidaknya biarkan dia beristirahat dulu. Dia baru saja tiba dan kamu langsung mencecarnya seperti ini? Bisa-bisanya kamu menuduh anak kamu sendiri.."
Ucap nenek.
"Ini semua karena ayah dan ibu terlalu memanjakan dia! Lihat sekarang, dia sama saja seperti ibunya. Tadinya kupikir dengan membawanya jauh dari wanita itu dia tidak akan terpengaruh dengan tingkah lakunya, tapi ternyata aku salah. Dia dan ibunya sama saja!"
__ADS_1
Intonasi Malik mulai meninggi, tampak jelas kemarahan di wajahnya yang sudah memerah karena amarah.
"Malik cukup! Jangan melimpahkan kesalahan kalian kepada Arin. Dia adalah korban dari sikap egois kalian, dan sekarang kamu mau menyalahkannya begitu saja? Ayah macam apa kamu!"
Kakek juga mulai tersulut emosi sembari membela cucunya.
"Korban? Justru akulah korbannya ayah! Ayah dan ibu tak pernah tahu, hal kotor apa yang telah dilakukan oleh wanita yang telah melahirkan dia.
Dan mungkin, itulah yang dia lakukan juga."
Bentak Malik sambil menunjuk Arin.
Merasa sedang terpojok, Arin mulai berontak.
"Hanya karena rasa kecewa dan kemarahan ayah pada ibu, bukan berarti ayah bisa melimpahkan kekesalan ayah pada siapapun! Apa gak cukup dengan kepergian Bang Ardan ayah? Apa itu masih belum cukup untuk menyadarkan ayah? Bahkan jika memang ibu sudah melukai hati ayah, apakah pantas ayah menuduh putri ayah sendiri dengan kata-kata yang menyakitkan? Ayah, Arin bukan ibu!"
Setelah mengatakan semuanya Arin berbalik hendak ke kamar.Namun baru saja dia akan melangkah, kakinya terhenti.
"Ayah, Arin tahu apa yang ibu lakukan. Arin tahu ayah sangat marah pada ibu, dan mungkin sangat membenci ibu. Tapi tak bisakah ayah tidak melibatkan Arin dan bang Ardan dalam pusaran kebencian ayah? Bagaimanapun juga, Arin dan bang Ardan adalah anak-anak ayah, dan anak-anak ibu juga!"
Arin berbalik badan dan berlari ke kamarnya.
Hatinya terasa sangat sesak.
Bagaimana bisa, ayahnya membuat tuduhan sekeji itu terhadapnya?
"Lihat apa yang sudah kamu lakukan, ini akibat dari kesalahanmu sendiri. Bisa-bisanya kamu menuduh putrimu seperti itu. "
Ucap nenek.
Malik tak mengubris, dan langsung pergi begitu saja.
"Rin, Arin.. Buka pintunya sayang.."
Malam itu nenek mencoba membujuk Arin. Sejak kejadian siang tadi, Arin mengunci diri di dalam kamarnya.
"Arin belum keluar juga bu?"
Tanya kakek yang baru saja kembali dari masjid.
"Belum pak.. Ibu sudah membujuknya, tapi sampai sekarang Arin gak membuka pintu.."
Jawab nenek dengan nada cemas.
"Arin, keluarlah. Kakek dan nenek ingin bicara dengan kamu."
Berkali-kali mengetuk hingga menggedor pintu kamar Arin, namun masih belum ada jawaban.
Merasa khawatir Arin melakukan hal-hal yang nekat, akhirnya kakek mendobrak pintu kamar Arin hingga menjeblak terbuka.
"Arin..!"
__ADS_1
Pekik nenek sambil berlari menghampiri Arin yang tertidur di ranjang, sambil menggunakan headphone.