Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Duapuluh Tiga


__ADS_3

Arin mengerjap kaget, dan melihat nenek yang sudah berada di sisinya sambil menangis.


Arin melepas headphone di kepalanya, kemudian menatap nenek.


"Nenek, ada apa?"


Tanya Arin yang baru saja terbangun dari tidurnya dan belum menyadari apa yang terjadi.


"Ya Allah Arin, syukurlah kamu gak apa-apa.. Tadinya nenek sudah khawatir karena kamu gak keluar kamar sejak siang tadi. Bahkan nenek berkali-kali memanggil kamu dan tidak ada jawaban, nenek sempat berpikir kalau kamu akan melakukan hal-hal yang nekat."


Ucap nenek sambil terisak memeluk Arin.


"Arin baik-baik aja nek, cuma sedikit lelah. Tadi Arin lagi dengar musik terus gak sadar ketiduran, karena itu Arin gak dengar waktu nenek panggil Arin.. Maafin Arin ya nek, udah bikin nenek khawatir."


Arin mencoba memberi penjelasan agar nenek tak salah duga.


"Arin.. Kamu ini bikin kakek dan nenek was-was.. Untung aja kakek masih kuat mendobrak pintu kamar kamu."


Ucap kakek sambil mengusap kepala Arin.


"Kakek dobrak pintu kamar Arin sendiri?


kakek memang ter the best.. Gak akan ada orang yang berani ganggu Arin kalau mereka tau kakek Arin prajurit TNI yang handal."


Jawab Arin sesumbar sambil tersenyum.


"Sudah, sudah.. Arin, ayo makan dulu. Sejak pulang tadi kamu belum makan apapun kan. Nenek udah masakin menu kesukaan kamu."


"Arin sangat beruntung, karena ada kakek dan nenek yang sangat menyayangi Arin. Kek, nek, maafin Arin ya.. Karena kelakuan Arin membuat kakek dan nenek dalam masalah."


Arin menundukkan kepala merasa bersalah.


"Arin, kamu adalah cucu kakek, cucu nenek juga. Tentu kami sangat menyayangimu. Sudahlah, jangan pikirkan soal ayah kamu. Dia hanya sedang kesal saja, kakek rasa itu hal yang wajar. Ayah kamu hanya takut terjadi apa-apa pada kamu, itulah kenapa dia selalu over protective. Apalagi kamu anak perempuan, pergi sendirian itu bahaya. Kata-kata ayahmu tadi jangan di ambil hati ya."


Ucap kakek sambil mengusap kepala Arin.


"Iya kek, Arin paham. Lagipula memang Arin yang salah.."


Jawab Arin.


Memang itu kesalahanku, aku terima. Tapi kata-kata ayah tadi siang, bagaimana bisa aku tidak memikirkannya? Bagaimana bisa ayah menuduhku sekeji itu? Hanya karena kesalahan ibu, kenapa aku dan bang Ardan juga ikut menanggung akibatnya?


---------------


"Cieee.. Yang habis liburan ke Jepang.."


Hadi yang baru saja tiba di kampus menghampiri Arin yang sedang membaca buku.


"Jadi, gimana suasana Jepang?"


Tanya Hadi.


"Aku suka sakuranya.."


Jawab Arin sambil tersenyum sumringah.


"Ceweknya cantik-cantik gak?"


Hadi tampak penasaran.


Arin berpikir sejenak, kemudian berniat menjahili sahabatnya itu.

__ADS_1


"Pokoknya cewek-cewek di Jepang, kawaii.."


Jawab Arin sambil memberikan dua jempol.


"Hah? Kawe? Berarti cewe aspal dong, asli tapi palsu.."


Hadi salah menduga kata kawaii (bahasa Jepang yang artinya imut) dan berpikir itu sama dengan KW (Kalau di Indonesia maksudnya barang palsu).


Melihat ekspresi Hadi yang tampak terkejut Arin tertawa terpingkal-pingkal.


"Ada apa sih kok seru banget kayaknya?"


Irfan baru saja tiba dan mengambil posisi duduk di samping Arin yang masih terbahak.


"Hancur sudah harapanku, beristrikan wanita oriental bermata sipit, berkulit putih bak bidadari tak bersayap.."


Gumam Hadi dengan wajah lebay nya dan membuat Arin semakin terkekeh geli.


"Ngaca woi..! Tampang kayak makhluk astral gitu lagaknya mau cari istri yang kayak bidadari."


Ledek Irfan.


"Sewot aja lu Ndro, biar gini kan aku imut-imut.."


Protes Hadi sambil menangkupkan kedua tangan di pipinya bergaya sok imut.


"Ente mah bukan imut-imut bambank.. Tapi amit-amit."


Celetuk Arin dan sontak membuat Irfan ikut tertawa.


"Eh Rin, tapi beneran itu cewek-cewek Jepang KW..?"


Hadi yang masih penasaran kembali bertanya, dan sontak saja Arin tertawa geli.


Jawab Arin sambil melambaikan tangan.


"Udah deh Jhon, ente mah pantesnya sama mpok mori tuh.. Lumayan kan, kalo kamu jadian sama mpok mori dapat jatah makan gratis tiap hari di kantin."


Irfan kembali meledek.


Mpok mori adalah pedagang di kantin kampus mereka yang memang tergila-gila pada Hadi.


"Sialan lu Ndro, emangnya eike berondes yess.."


Jawab Hadi dengan menjentikkan jarinya.


"Daripada sama cewek KW, pilih mana coba.."


Timpal Arin.


"Ya pilih Dian Sastro lah.."


Jawab Hadi ngasal.


"Oh iya Rin, beberapa hari yang lalu Donny menghubungiku.."


Belum sempat Irfan mengatakan apapun, Arin berusaha mengalihkan topik.


"Eh Upin, mana kembaranmu?"


Tanya Arin pada Hadi.

__ADS_1


Karena kelakuan konyol mereka, Hadi dan Bimo selalu di juluki Upin dan Ipin.


"Nah, itu dia yang mau aku kasih tahu nih. Dia gak masuk, papanya lagi di rawat di Rumah Sakit."


Jawab Hadi.


"Loh, sakit apa? Perasaan dua hari lalu aku baru aja ketemu Om Darma dan masih sehat-sehat aja."


Irfan tampak terkejut.


"Katanya sih serangan jantung, tengah malam tadi di larikan ke Rumah Sakit Mitra Sehat."


Jawab Hadi.


"Yaudah, nanti kita jengukin bareng-bareng yuk."


Ajak Arin.


"Oke.."


Jawab Irfan dan Hadi kompak.


Setelah selesai kuliah, Arin bersama dua sahabatnya bergegas menuju ke Rumah Sakit untuk menjenguk Om Darma, papa Bimo.


"Gimana kondisi Om Darma Bim?"


Tanya Arin saat mereka sudah tiba di Rumah Sakit.


"Kondisinya udah parah Rin, dan harus segera dilakukan operasi pemasangan ring sedangkan di rumah sakit ini fasilitas dan sumber daya belum memadai. Saat kondisi jantungnya stabil nanti, akan langsung di rujuk ke Rumah Sakit di Medan."


Jawab Bimo dengan wajah sendunya.


"Yang sabar ya Bim, semoga papamu lekas sembuh."


Hadi yang biasanya bertindak konyol bersama Bimo, kali ini duduk di sampingnya dan menepuk pundak Bimo untuk memberikan dukungan.


Bimo mengangguk lemah.


"Hanya papa satu-satunya keluargaku yang tersisa. Selama ini kami hidup berdua, dan papa selalu bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup kami."


Ucap Bimo.


"Bim, kamu gak sendiri. Kamu masih ada kita-kita, sahabat yang care sama kamu."


Kali ini Irfan yang memberi dukungan pada Bimo agar dia tidak semakin terpuruk.


"Bim, kalau kamu butuh apapun jangan sungkan ya. Kami pasti akan berusaha membantu kamu."


Timpal Arin.


Bimo tampak berkaca-kaca.


Dia sama sekali tak menduga jika sahabat-sahabatnya masih tetap mendukungnya dan mengulurkan tangan padanya saat dia terjatuh.


"Makasih banyak ya guys, kalian masih mendukungku walaupun kalian tahu saat ini aku dalam keadaan terpuruk."


"Hoii Ipin, ente lupa kalau kita geng? Upin, Ipin, Kak Ros dan Tok Dalang.."


Ucap Hadi sambil menunjuk mereka satu persatu, dengan Arin dan Irfan yang dikatakan sebagai Kak Ros dan Tok Dalang.


"Somplak lu jhon.."

__ADS_1


balas Irfan sambil memukul pundak Hadi.


__ADS_2