
Sudah dua hari Arin tak pulang ke rumah, dia bahkan mematikan ponselnya dan memilih untuk tinggal beberapa hari di studio sambil menenangkan diri.
Kuliahnya juga mulai berantakan, karena belakangan Ariana lebih sering bolos.
Bahkan dia menolak untuk bertemu siapapun, termasuk sahabat-sahabatnya juga kakek dan neneknya yang datang mencarinya.
"Mbak Arin, maaf nih. Aku gak bermaksud ikut campur. Aku tahu masalah mbak Arin mungkin sangat besar. Tapi mbak Arin harus tetap semangat, masih banyak kok orang-orang yang peduli sama mbak Arin. Buktinya, kakek nenek juga teman-teman mbak Arin sejak semalam mencari mbak Arin kesini. Sejujurnya, aku juga merasa gak enak terus-terusan berbohong bilang mbak Arin gak ada disini."
Ucap Dadang, satpam studio Hitz FM siang itu saat membawa makanan yang Arin pesan melalui jasa delivery.
"Aku belum siap untuk bertemu siapapun Dang. Aku hanya perlu menenangkan diri beberapa waktu. Setelah ini aku pasti baik-baik aja."
Jawab Ariana.
"Sekali lagi mohon maaf mbak Arin, aku benar-benar gak bermaksud ikut campur. Tapi kalau mbak Arin butuh teman untuk cerita, mbak Arin boleh kok cerita sama aku. Ya barangkali aja aku bisa membantu mbak Arin untuk mencari solusinya.."
Ariana tersenyum sambil menatap Dadang.
"Aku baik-baik aja kok Dang, dan aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri."
Jawab Ariana.
"Eh, Gilang belum datang ya?"
Ariana mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Belum mbak, paling sebentar lagi."
Jawab Dadang.
"Oh.. Yaudah, sini makan siang bareng aja Dang. Tadi aku sengaja pesan lebih."
"Gak usah mbak, aku bawa bekal kok dari rumah. soalnya setiap hari ibu masak buat aku. Mubazir kalau gak dimakan."
Tolak Dadang.
Ariana terdiam.
Masakan ibu, selama hidupnya dia bahkan tidak pernah merasakan bagaimana rasanya masakan ibunya. Dulu saat keluarga mereka masih baik-baik saja, tugas memasak dilakukan oleh asisten rumah tangga. Terkadang saat asisten rumah tangga mereka cuti, ayahnya lah yang memasak untuk mereka. Selama ini yang dia tahu ibunya selalu memesan makanan diluar.
Meski terkadang ibunya berbohong dan berkata itu masakannya, tapi Ariana tahu persis ibunya tak bisa memasak.
"Mbak, kok bengong?"
Tanya Dadang.
"Oh, gak. Bukan apa-apa kok Dang."
Jawab Ariana yang baru tersadar setelah Dadang memanggilnya.
"Kalo gitu nanti kamu bawain ini buat ibu kamu ya. Salam buat beliau."
Ariana menyerahkan sekotak cake coklat yang juga dia pesan.
"Alhamdulillah. Makasih mbak.. Yaudah, kalo gitu aku balik ke pos ya mbak."
Kemudian Dadang pergi meninggalkan Ariana di dalam ruangan.
"Dadang sangat beruntung, bahkan di usianya yang sudah sebesar ini dia masih merasakan masakan ibunya. Pasti ibu Dadang adalah sosok ibu yang sangat penyayang dan sangat peduli pada anak-anaknya."
Gumam Ariana dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Hayo.. Ngelamunin aku ya.."
Gilang yang baru saja tiba mengagetkan Ariana.
"Ngaco.. Aku tuh lagi ngelamunin, andai aja aku punya kesempatan ketemu dan jalan sama Lee Min Ho.."
Ucap Ariana dengan wajah polosnya.
Gilang meletakkan punggung tangannya di dahi Ariana sambil berpikir.
"Wah, ini kayaknya tanda-tanda orang mulai kena gangguan saraf ini.."
Gumamnya dengan nada meledek.
"Sialan.."
Umpat Ariana sambil memukulkan bantal kursi yang ada di sampingnya pada Gilang yang justru tertawa sumringah.
"Rin, tadi dibawah ada yang cari kamu tuh."
Ucap Gilang.
"Siapa?"
Tanya Ariana.
"Kalo dari penampilan sih, kayak bapak-bapak. Gak tahu siapa."
Jawab Gilang sambil mengangkat bahu.
"Bapak-bapak?"
Ariana mengernyitkan kening.
Batin Ariana.
"Bukan ayah kamu ya?"
Tanya Gilang.
"Entahlah."
Jawab Ariana datar.
"Rin, kamu tuh kalo ada masalah cerita dong. Jangan dipendam sendiri. Setidaknya kalau kamu cerita beban pikiran kamu akan sedikit berkurang."
Saran Gilang.
"Bapak-bapak yang kamu bilang barusan, apa dia berbadan tegap, berkulit putih dan memakai kacamata?"
Ariana tahu Ayahnya tak mungkin mencarinya, dia hanya sedang mengalihkan pembicaraan.
"Ya, dia berbadan tegap. Kulitnya putih dan dia memakai kacamata. Dan kalau aku gak silap, di pelipis mata kirinya ada tahi lalat."
Jawab Gilang sambil mengangguk.
Ayah.. Jadi memang benar Ayah yang datang mencariku? Tapi, untuk apa? Bukankah dia sangat membenciku? Seharusnya dia senang kan, kalau aku pergi. Kenapa dia mencariku? Atau dia masih ingin melampiaskan kemarahannya padaku?
Batin Ariana.
"Rin, emang itu siapa sih? Ayah kamu ya?"
__ADS_1
Tanya Gilang.
Ariana hanya terdiam. Dia bahkan ragu mengatakan itu adalah ayahnya.
"Dia bilang apa tadi?"
"Dia cuma tanya aja, apa kamu ada disini atau gak. Ya aku bilang aja gak ada. Terus dia juga tanya tempat-tempat atau orang yang mungkin kamu datangi, aku bilang gak tau. Kelihatan sih dia sangat mencemaskan kamu."
Ayah? Mencemaskanku? Hah, Gilang.. Andai kamu tahu gimana ayahku sebenarnya, gimana bencinya dia sama aku. Dia gak mungkin berpura-pura untuk mengkhawatirkanku. Untuk apa? Toh gak ada untungnya buat dia.
Batin Ariana.
"Rin, aku memang gak tahu apa masalah yang sedang kamu hadapi. Tapi apapun itu, lari bukanlah solusi.
Arin yang aku kenal bukan orang yang gampang nyerah, apalagi lari dari masalah. Dengar, kamu punya kemampuan untuk menghadapi masalah kamu dan kamu harus yakin itu. Pulanglah, kasihan kakek dan nenekmu dari kemarin mencarimu. Bahkan teman-temanmu juga. Aku yakin ayah dan ibumu juga pasti sangat mencemaskan kamu."
Ariana tertegun.
Bagaimana aku bisa menghadapinya? Bagaimana aku bisa menghadapi kebencian ayah, dan ketidak pedulian ibu?
Aku tahu, hanya kakek dan neneklah yang benar-benar peduli dan mencemaskanku. Bahkan meski aku gak ada, ayah dan ibu gak akan kehilangan kan.
Batin Ariana.
"Rin, cerita dong.. Akhir-akhir ini aku lihat kamu jadi sering bengong. Selama ini aku selalu cerita sama kamu tentang semua masalah bahkan aib keluargaku, karena aku mempercayaimu, karena kamu adalah temanku. Setidaknya berikan aku kepercayaan yang sama. Rin.. Sebagai teman, aku juga ingin membantumu."
Bujuk Gilang.
"Aku baik-baik aja kok."
Jawab Ariana, dan untuk kesekian kalinya dengan senyuman palsu.
------------
"Malik, gimana.. Apa kamu berhasil menemukan Arin?"
Pak Malik yang baru saja turun dari mobilnya langsung disambut oleh nenek Arin di halaman rumahnya.
Pak Malik melangkah dengan gontai. Wajahnya tampak kusut.
"Malik, gimana.. Udah ada kabar dari Arin..?"
Tanya kakek Arin.
Ketiga orangtua itu tampak sangat cemas.
Dua hari sudah Ariana menghilang tanpa kabar, bahkan ponselnya tak bisa dihubungi. Entah dimana gadis itu sekarang.
Bahkan Pak Malik sudah menghubungi istri dan putra sulungnya untuk menanyakan keberadaan Arin, namun tak ada yang tahu dimana dia.
"Ini semua kesalahan kamu Malik! Lihat, apa yang sudah kamu lakukan pada putrimu. Sekarang dia kabur dari rumah dan kita tak tahu dimana dia."
Kakek Arin menggerutu dengan kesal, swdangkan neneknya hanya bisa menangis.
"Aku tahu ayah."
Ucap Ayah Arin dengan lemah.
"Ya Allah.. Dimana cucuku sekarang.. Lindungilah dia dimanapun berada ya Allah.."
Gumam nenek Arin.
__ADS_1
"Aku akan membuat laporan ke pihak kepolisian. Ini sudah dua hari sejak Arin pergi, seharusnya sudah bisa membuat laporan."
Ucap Malik sambil berlalu menuju mobilnya.