
Pagi itu Arin sudah bersiap untuk pergi.
Setelah berpamitan dengan kakek dan neneknya, Arin pergi dengan menggunakan jasa taksi online yang sudah dia pesan sebelumnya.
Arin merogoh ponsel didalam tasnya, kemudian menyalakannya dan menghubungi seseorang.
"Assalamualaikum abang, Arin baru aja berangkat dari rumah. Pokoknya nanti abang jemput Arin di bandara ya. Dan tolong jangan bilang sama kakek dan nenek kalo Arin pergi ke tempat abang. Kalau gak pasti mereka akan sangat marah."
Pinta Arin.
Setelah berbicara dengan seseorang yang dia panggil abang, Arin kembali menghubungi seseorang.
Kali ini dia menghubungi Irfan, salah satu sahabatnya di kampus dan mengatakan dia tidak bisa masuk selama beberapa hari kedepan.
Akhirnya Arin tiba di loket bus antar kota. Setelah memesan tiket, Arin duduk menunggu di salah satu bangku sambil menatap ponselnya.
Entah sudah berapa banyak pesan dan panggilan dari Donny yang dia abaikan.
Hatinya terasa perih, setiap kali mengingat pertemuannya dengan tante Retno sebelumnya. Jika saja dia bisa bersikap egois, sangat ingin rasanya dia meminta Donny untuk membawanya pergi jauh. Pergi ke tempat dimana tak ada seorangpun yang mencela keburukan dan kekurangannya, atau memandang hina dirinya hanya karena dia adalah putri dari seorang penata rias yang sedang menjadi bahan pergunjingan banyak orang.
Namun dia sadar, itu justru akan semakin menambah masalah. Dia juga tak mungkin tega mencoreng nama baik keluarganya.
Apalagi sampai mengecewakan kakek dan nenek yang selama ini sangat menyayanginya.
Belum lagi ayahnya, yang pasti akan sangat murka jika sampai itu terjadi.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam dengan bus dan pesawat, akhirnya Arin menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di negeri matahari terbit.
Gadis itu tersenyum sumringah, sambil berjalan menyusuri bandara. Seseorang sudah menunggunya dengan cemas sejak tadi.
"Dasar adik nakal.. Bisa-bisanya kamu pergi sendirian seperti ini, bikin abang jantungan tahu gak. Kamu kira Indonesia-Jepang itu kayak dari rumah ke rumah tetangga gitu.."
Omel Ardan saat mereka baru saja tiba di apartemen milik Ardan.
Arin hanya tersenyum sumringah.
"Ternyata Jepang terlihat jauh lebih maju dari yang bisa Arin bayangkan."
Ucap gadis itu sambil tersenyum takjub.
"Arin, apa kakek nenek dan ayah tahu kamu kesini?"
Tanya Ardan
Arin menggeleng mantap.
"Arin.. Biar gimanapun juga kamu harus bilang sama ayah, atau setidaknya sama kakek dan nenek. Kalau terjadi apa-apa sama kamu selama di perjalanan gimana? Kamu ini, memang sangat senang membuat orang cemas ya. Jadi kamu pergi selama beberapa hari, apa yang kamu katakan pada mereka?"
Omel Ardan.
"Abangku tercinta, tersayang terkasih dan terbaik di dunia dan akhirat.. Arin udah izin kok sama kakek dan nenek. Arin cuma ingin liburan, lagipula disini kan ada abang yang akan jagain Arin."
Gadis itu menjawab dengan enteng.
__ADS_1
"Tapi bukannya dua bulan lalu kamu baru libur semester? Arin, jangan bilang kamu bolos kuliah lagi..?"
Ardan tampak mendelik.
Arin nyengir dengan wajah polosnya.
"Abang, Arin cuma bolos beberapa hari kok..
Janji, cuma seminggu.."
Arin memberikan dua jari membentuk victory.
"Apa yang terjadi? Selama ini kamu paling semangat soal kuliah, kenapa dalam bulan ini saja kamu sudah bolos lebih dari seminggu? Arin, apa kamu sedang ada masalah?"
"Ya, wajar lah abang.. Arin juga butuh liburan kan, butuh refreshing untuk menyegarkan kepala, kebetulan harga tiket ke Jepang lagi promo potongan setengah harga, lumayan buat tiket pulang pergi. Sesekali mahasiswa paling teladan pun harus merasakan nikmatnya bolos kuliah."
Jawab Arin berbohong.
Ardan menatapnya tajam, seolah menuntut penjelasan.
"Oh iya, dimana kakak iparku?"
Arin mengalihkan pembicaraan.
"Jam segini dia masih dikampus. Yoshie itu kan salah satu mahasiswi teladan, gak seperti kamu yang suka bolos."
Ledek Ardan.
"Meski sering bolos aku selalu dapat nilai cumlaude loh bang."
"Tapi sampai sekarang Arin masih penasaran loh bang. Kok kak Yoshie mau ya jadi istri abang?
Dia itu kan cantik, cerdas, pasti banyak kan pria Jepang yang tertarik padanya."
Gumam Arin.
"Tapi pria yang soleh, itu langka."
Ucap Ardan sambil tersenyum sumringah.
"Ya, baiklah. Jadi sekarang abang mau bilang kalau abang itu pria soleh yang berhasil menawan hati seorang wanita bermata sipit.."
Ucap Arin.
"Itulah yang namanya jodoh dek, kalau Allah sudah berkehendak pasti terjadi.
Tak peduli meski yang satu di barat dan yang lain di timur, kalau Allah tetapkan berjodoh pasti akan ada saja tempat, waktu dan kebetulan yang mempertemukan. Begitu juga sebaliknya. Jika memang tak jodoh, Allah selalu punya cara untuk memisahkan."
Ucap Ardan.
Arin menatap abangnya dengan penuh takjub.
"Arin juga baru sadar, sejak menikah dengan kak Yoshie sepertinya abang jauh lebih dewasa, dan sekarang udah jago ber filosofi juga."
__ADS_1
"Karena pernikahan itu bukan hanya tentang cinta dek, tapi juga mendewasa bersama. Saat masih lajang, kita boleh-boleh saja bersikap egois. Tapi setelah menikah, kamu akan menyadari bahwa ada hal-hal yang lebih penting daripada dirimu sendiri. Nanti kamu juga pasti akan mengalaminya."
Jawab Ardan sambil tersenyum.
"Assalamualaikum.."
Seorang wanita muda berpenampilan syar'i dengan gamis berwarna abu-abu baru saja tiba.
"Waalaikumsalam.. Kakak.."
Arin langsung menghambur memeluk kakak ipar kesayangannya.
"Arin, kapan kamu sampai?"
Tanya kak Yoshie dengan logat khas Jepangnya.
"Arin baru sampai kak, Arin lelah, kelaparan, tapi abang gak kasih Arin makan.."
Ucapnya dengan ekspresi memelas.
"Nah, mulai tuh drama."
Ucap Ardan sambil menepuk kepala Arin dengan pelan.
"Yasudah, biar kakak masak untuk Arin ya. Arin mau makan apa?"
Tanya kak Yoshie sambil tersenyum.
"Apa aja deh kak, yang penting perut nih terisi. Usus diperut Arin udah meronta meminta jatah."
Jawab Arin sambil tertawa sumringah.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kakak memasak ramen untuk kamu? Pasti kamu suka.."
Tawar kak Yoshie.
"Boleh banget kak. Kalo gitu Arin bawa barang-barang Arin dulu ya."
Kemudian Arin membawa kopernya ke kamar tamu.
"Sayang, biar abang yang masak ya. Kamu istirahat aja dulu, kamu pasti lelah kan."
Usul Ardan.
"Aku baik-baik saja abang, lagipula Arin juga sudah aku anggap seperti adik perempuanku. Ini pertama kalinya dia datang ke apartemen kita kan."
"Kamu yakin?"
Tanya Ardan.
"Tentu saja, Aku justru senang bisa memasak untuk Arin. Dan dirumah ini tidak ada yang bisa memasak ramen sehebat aku kan."
Jawab Yoshie sambil tersenyum bangga.
__ADS_1
"Yaudah, kalo gitu abang bantuin kamu ya. Ayo kita masak ramen terenak di Jepang."
Ucap Ardan sambil mengecup kening istrinya.