
90 hari sudah sejak perceraian ibu dan ayah tapi tak sepeserpun ayah memberikan ibu nafkah untuk memenuhi keperluan ku, ayah mengabaikan janjinya,sampi akhirnya ibu memutuskan untuk pergi bekerja sementara ema sedang pergi jauh dan tak mungkin kembali dalam waktu cepat, akhirnya meskipun berat hati ibu memilih menitipkan aku pada Paman dan Bibi yang jarak rumahnya sangat jauh dari rumah ema, hari itu tiba saat ibu benar-benar harus pergi meninggalkan ku bersama orang lain, andai aku sudah bisa bicara aku pasti akan merengek memohon agar ibu tidak pergi dan meninggalkan ku, tapi apalah daya aku masih kecil hanya bisa menangis dan menangis.
" Bibi maafkan jika aku merepotkan mu ini tas barang-barang Aliya, didalamnya semua keperluan Aliya ada di dalam tas sudak Aku siapkan untuk satu bulan kedepan"
"Sudah Anaya tidak perlu kamu merasa tidak enakan begitu toh Aliya kan Keponakan bibi juga" Sahut bibi sambil mengambil tas yang disodorkan Ibu
"Terimakasih bi ini ada uang sedikit barangkali nanti ada keperluan Aliya yang mendesak" Ibu kembali menyodorkan uang dan d sambut baik oleh tangan bibi
" Sayang jangan nakal ya, jadi anak yang solehah, ibu menyayangi kamu ibu pergi agar masa depan kita bisa lebih baik"
__ADS_1
Ucap ibu sambil menciumi pipi dan keningku air mata ibu menetes berjatuhan di wajah ku, sekeras mungkin aku menangis tanganku meronta meraba-raba wajah ibu.
"Jangan pergi ibu aku mohon tetaplah disisiku ibu, jangan tinggalkan aku bu"
Tapi ibu tidak mendengar ucapanku yang ia dengar hanya tangisan ku saja.Ibu memyodorkan ku kepada Bibi tangisanku semakin keras apalagi setelah melihat ibu melangkah meninggalkanku, perlahan namun pasti ibu melangkah meninggalkanku tangisanku membuat langkah ibu berat sesekali dia menoleh sambil menyeka air matanya aku meronta menjerit membuat langkah ibu terhenti dan menjatuhkan tas pakaian jingjingnya kemudian berlari kearahku mengambil ku dari gendongan bibi...
"Sayang berhentilah menangis ibu tidak bisa tega meninggalkanmu tangisanmu membuat langkah ibu berat sayang"
"Kamu harus jadi anak yang kuat sehat cantik dan pintar ya sayang"
__ADS_1
Ciuman terakhir mendarat di pipi kiri dan kanan ku sembari diiringi air mata ibu yang menetes di wajahku, ibu menyeka air matanya tersenyum dan menyodorkan ku kembali kepada Bibi.
Bibi tengah terisak menatap piku perpisahanku dan ibu. Akhirnya aku sudah tidak bisa melihat bayangan ibu lagi seluruh tubuhnya sudah hilang termakan jarak.
"Aku doakan semoga ibu baik-baik saja disana bu, aku janji akan jadi anak yang ibu inginkan"
Bibi menyeka air matanya kemudian membawa ku kedalam kamar dan menidurkanku di atas kasur dan meninggalkanku ke dapur tak lama berselang bibi memberiku susu dalam botol, mungkin karena aku lelah sembari minum susu aku tertidur meski sesekali aku mengigau dengan tangisan karena terbawa mimpi saat kepergian ibu hari ini.
"Ibu -ibu aku rindu jangan lama cepatlah pulang" dalam mimpiku ibu berpamitan dan aku mengatakannya. meski akhirnya aku kembali terlelap tidur dan melupakan kejadian hari ini..
__ADS_1
Paman yang sedari tadi menemaniku tertidur sesekali menepuk-nepuk kakiku mungkin agar aku tetap terlelap.