Bahagia Yang Salah

Bahagia Yang Salah
Percobaan Pelarian diri


__ADS_3

Anaya terbangun, perlahan-lahan membuka matanya, menatap keadaan disekitarnya, Pramono masih tertidur di atas ranjang di sebelah Anaya dengan kaki menindih Anaya sebelah,Anaya mencoba dengan perlahan-lahan menggeser kaki Pramono dari tubuhnya, perlahan Anaya bergeser dari sisi Pramono dan mencoba turun dari ranjang, saat Anaya hendak turun dari ranjang Pramono bergeliat namun kembali tidur.


Anaya menarik napas perlahan, kemudian mengedarkan pandangan matanya mencari baju yang digunakannya semalam, namun nihil Anaya tidak bisa menemukannya.


Dengan kepala yang masih terasa pusing Anaya berjalan perlahan mengambil tas selempang nya dari meja dekat tv.


Bergegas Anaya mencari-cari telpon genggamnya, saat Anaya disibukan dengan mencari telpon genggamnya di dalam tas Pramono terbangun dan loncat dari tempat tidur mencoba meraih Anaya.


Anaya sadar Pramonobmencoba meraihnya dengan sigap Anaya masuk kedalam kamar mandi dan mengunci diri di dalam.


"Keluarlah sayang sepagi ini jangan buat suamimu bekerja keras, kepalaku masih sangat pusing badanku juga masih teramat sangat lemas karena semalam kamu melayaniku berkali-kali hahah"


Pramono menggebrak pintu kamar mandi berkali-kali,namun Anaya tidak memberi jawaban.


Nasib bagus Anaya masih menggenggam tas nya, Anaya kemudian mengorek-orek lagi dalam tas nya namun tidak dapat menemukan handphone nya di dalam tas.


"Buka sayang kalau tidak aku akan memanggil para pegawai di hotel untuk membuka paksa pintu ini!"


"Akhsss sial dimana sebenarnya si brengsek ini menyimpan handphone ku.!"


Anaya melihat ke arah atap kamar mandi hanya terdapat jendela kecil tidak mungkin dirinya bisa masuk dan keluar dari kamar tersebut.


Suara bel kamar hotel berbunyi, Pramono menghampiri pintu dan bertanya siapa yang datang.


"Permisi tuan, saya akan menggantikan baju nyonya!"


"Baguslah masuklah!"


Pramono kembali ke arah pintu kamar mandi dan berteriak sambil memukul pintu menggunakan telapak tangannya.


"Sayang cepat keluar, cepat ganti baju supaya kita bisa segera pergi dari sini!"


"Jadi mas Pramono memanggil pegawai hotel untuk menggantikan bajuku, sepertinya aku bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa bebas dari Pramono!"


"Cepatttt jangan buat aku menunggu!"


"Baik aku akan keluar tapi dengan satu syarat kamu harus keluar dari kamar ini baru aku akan keluar dari kamar mandi!"


"Baiklah aku tunggu diluar saja!. Kamu Ingat jangan lama-lama buat istriku secantik mungkin!"


"Baik Tuan!"


Pinta Pramono pada pegawai restoran.


"Nyonya silahkan keluar, Tuan sudah menunggu diluar kamar."


"Kamu tidak bohong kan?!"


"Tidak Nyonya silahkan keluarlah.!"


Anaya membuka kunci pintu kamar mandi perlahan kemudian melongokkan kepala melihat ke dalam kamar dan mencari keberadaan Pramono.


Anaya menarik baju mandi yang terdapat di kamar mandi kemudian memakainya, setelah itu barulah Anaya keluar dari kamar mandi.


Pegawai Hotel terkikih melihat Anaya memakai baju mandi.


"Kenapa Anda menggunakan bah mandi nyonya, seharusnya nyonya tidak perlu malu semalam saya yang menggantikan baju nona.!"


"Lalu dimana baju saya?"

__ADS_1


"Baju nyonya sudah saya buang nyonya, karena tuan meminta saya membuangnya.!"


"Apa kamu memiliki handphone?"


"Untuk apa nyonya?"


"Saya perlu meminjam nya tolong lah sebentar saja hanya mengirim pesan pada calon suami saya!"


Pegawai restoran itu mengernyitkan alis nya seolah-olah bertanya maksud Anaya dengan calon suami itu apa.


"Sebenarnya dia ini bukan suamiku..."


Anaya menceritakan garis besar siapa dan kenapa dia bisa berada di restoran ini.


Pegawai restoran itu tertegun mendengar cerita Anaya.


"Tolong saya mohon saya janji saya akan menggunakan baju ini supaya kamu tidak dimarahi oleh Mas Pramono!"


Pegawai restoran dengan ragu-ragu mengeluarkan handphone dari saku celanya Anaya buru-buru mengambilnya kemudian menekan nomor telpon Wijaya namun tidak ada jawaban berkali-kali di telpon ulang tetap saja tidak da jawaban.


"Sudah selesai belum lama sekali?!"


Teriak Pramono dari luar kamar hotel.


"Iy...iya tuan sebentar lagi!"


"aini hotel apa,alamatnya dimana?"


Tanya Anaya pada orang dihadapannya.


Dengan cepat pegawai Hotel menyebutkan Alamat hotel tersebut.


Anaya langsung mengirim lesan pada nomor Wijaya.


"Mas aku Anaya, aku ada di hotel dekat bandara, aku disini bersama mas Pramono aku mohon tolong aku mas, bawa aku pergi dari sini, sebelum mas Pramono terlanjur jauh membawaku pergi,jika kamu butuh informasi apa-apa kmu hubungi saja nomor telpon ini tanyakan padanya aa yang ingin kamu tanyakan!"


Anaya segera memakai pakaian yang di bawa oleh Pegawai tersebut kemudian duduk di atas ranjang.


"Mas semoga kamu segera membaca pesanku dan cepat datang kesini mas!"


"Sudah selesai?"


"Sudah tuan!"


"Sudah kamu dandani?"


"Nyonya bilang ingin merias wajahnya sendiri tuan!"


"Ya sudah kamu pergi sana, ini tips kamu.!"


"Baik tuan terimakasih!"


"Hemhsss!"


Pramono kembali masuk kedalam kamar.


"Kenapa tidak dari tadi kamu nurut seperti ini cantik kan kalau diam dan nurut,sekarang kamu berdandan sementara aku akan bersihkan diri!"


"Baik mas!"

__ADS_1


"Jangan berharap bisa keluar kamar!"


Pramono menunjukan kunci kamar dan membawanya masuk kedalam kamar mandi.


Anaya mencoba membuka pintu ternyata benar saja pintunya tidak bisa dibuka meski Anaya bersikeras mencoba membukanya dengan sekuat tenaga.!


Beberapa saat kemudian Pramono sudah bersiap dan Rapi kemudian menggenggam tangan Anaya membawa Anaya keluar dari kamar hotel.


"Ingat jangan coba-coba kabur atau aku akan membuat kamu tidak sadarkan diri lagi.!"


Pramono berbisik ditelinga Anaya.


"Ya ampun mas kamu dimana kenapa belum datang mas aku sudah mau dibawa pergi entah kemana, cepat datang mas cepat!"


Setibanya di lobi hotel sebuah mobil menjemput Anaya dan Pramono. Pramono dengan setengah mendorong membuat Anaya masuk kedalam mobil.


"Mas aku boleh minta handphone aku?"


"Ini Hp baru khusus aku belikan untuk kamu!"


"Tapi mas aku mau handphone aku yang dulu!"


"Kamu pikir aku bodoh, aku tahu kamu pasti akan menghubungi tunangan kamu si Wijaya ******** itu kan, kamu ingat ya Handphone ini segala aksesnya sudah terhubung dengan handphone ku, jadi apapun dan dengan siapapun kamu berkomunikasi aku bisa tahu,jadi kamu tidak perlu macam-macam jika masih ingin hidup!"


Anaya terdiam dengan mata masih melihat ke luar jendela mobil berharap Wijaya segera datang, sesampainya di bandara Anaya dan Pramono turun dari dalam mobil tanpa melepaskan pegangan tangan ya pada Anaya.


"Mas kita maj kemana kenapa ke bandara?"


"Sudah kamu tidak perlu banyak tanya intinya kamu ikut saja denganku dulu nanti juga kamu akan tahu. Paham!"


"Tidak, aku tidak boleh pergi, bagaimana bisa Mas Wijaya dan keluargaku menemukan aku jika aku pergi terlalu jauh, aku harus berpikir, bagaimana caranya, mikir Anaya cepat berpikir."


Anaya tertegun beberapa saat di samping Pramono yang sedang mengantri untuk cek in. Anaya melihat-lihat sekitarnya kemudian Anaya melihat papan petunjuk toilet.


"Sepertinya aku tahu apa yang harus aku lakukan!"


"Mas... mas... aku mau ke kamar kecil ini sudah tidak tahan!"


"Kamu jangan coba-coba membohongiku ya!"


"Sungguh mas ini sudah tidak tahan lagi!"


"Nanti saja di dalam,tahan sebentar lagi sampai kita selesai cek in!"


"Tapi mas aku sungguh sudah tidak tahan lagi, memngnya mas mau kalau aku pipis di celana kan malu mas!"


Pramono terdiam memikirkan perkataan Anaya.


"Ya sudah ayo mas antar sampai depan pintu toilet!"


Anaya dan Pramono menuju toilet,


"mas kamu tunggu disini saja,ini kan toilet khusus perempuan, masa mau ikut masuk kedalam!"


"Ya sudah sana jangan lama-lama, awas jangan mencoba-coba kabur!"


"Iya mas iya!"


Anaya masuk kedalam toilet didalam toilet Anaya berpikir keras harus bagaimana dan seperti apa agar bisa terbebas dari Pramono.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2