
Suasana di kantor menjadi riuh dan tegang ketika Anaya mulai memasuki ruangan kerja Pramono, tatapan bingung dari semua karyawan dan karyawati di perusahaan menghiasi langkah demi langkah Anaya,sesampainya didalam ruangan Anaya langsung meminta Rania membawakan susunan rencana hari ini,beberapa saat kemudian...
Tok...
tok...
tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan.
"Ya masuk!" seru Anaya
Rania perlahan melangkah masuk dengan keraguan Anaya menatapnya dengan penuh kecurigaan. Anaya menatap dari ujung sepatu sampai ujung rambut Rania, sementara rania mencoba tersenyum dan menyapa.
"Selamat pagi Nyonya, ini susunan rencana hari ini"
Rania menyodorkan map biru.
"Terimakasih, kamu boleh keluar!"
"Baik nyonya saya permisi"
"Hmm!"
Rania menundukkan kepala kemudian berbalik dan keluar dari ruangan dengan bernapas lega.
"Sepertinya dia tidak tahu bahwa aku simpanan suaminya"
Rania bergumam dalam hatinya dan kembali kemeja kerjanya.
"Tinggal tunggu waktu saja sebentar lagi kamu akan keluar dari rumah dan perusahaan ini nyonya muda hahahah"
Rania terus cekikikan di balik meja kerjanya,beberapa saat kemudian terdengar suara telpon dimeja kerja Rania
"Iya Nyonya ada yang nyonya perlukan?"
"Jangan cancel semua rapat hari ini saya yang akan tangani"
"Anda Yakin Nona?"
"Tentu!"
"Ba..ba...baik Nona"
"Apa-apaan perempuan sok pintar ini,kita lihat saja seberapa bisa dia menangani perusahaan ini"
Rapat dan semua pertemuan di tangani oleh Anaya dengan baik dan meninggalkan kesan sangat memuaskan bagi semua klien nya hari ini,sementara Rania hanya menyunggingkan senyum sinis di bibirnya melihat istri dari Kekasihnya teramat sangat brilian.
Menjelang sore Anaya menghabiskan waktu di ruangan kerja suaminya, anaya berniat membereskan meja kerja dan memasukan beberapa file ke dalam laci meja kerjanya, namun Anaya tertegun melihat amplop berwarna coklat dalam laci meja kerja Pramono kemudian mengambil dan memeriksanya, betapa terkejutnya Anaya ketika didalam amplop itu terdapat dua buah tiket nonton kembang api akhir pekan tepat ketika Anaya tengah berada di kampung.
Tok...
__ADS_1
tok...
tok...
"Ya masuk!"
Rania Masuk kedalam ruangan,langkahnya yang semula bergegas seakan tersendat ketika melihat dua buah tiket kembang api di atas meja Anaya, Anaya melihat tatapan dan ekspresi mata serta gerak tubuh dari sekertaris suaminya.
"Ada apa Rania?"
"Emhss ti... ti...tidak bu saya hanya berniat pamit untuk pulang duluan"
"Oh begitu iya silahkan pulanglah!"
"Baik nyonya terimakasih"
Anaya menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Saya permisi Nona,"
"Terimakasih atas kerja kerasnya hari ini"
"I..i... iya bu"
Rania menganggukkan kepala kemudian berbalik badan dan bergegas keluar dari ruangan.
"Rania!"
Rania membalikan badan dan menatap Anaya tanpa mampu berkata-kata.
"Rania, kamu tahu Tuan pergi menonton Kembang api dengan siapa?"
"Bukan saya Nona! maksud saya Sa,,,sa,,,Maaf Nona saya tidak tahu".
"Baiklah kamu boleh pulang silahkan!"
Rania tidak berkata hanya menundukkan kepala kemudian berbalik dan bergegas keluar.
"Kamu rupanya wanita itu"
Gumam Anaya dalam hatinya.
"Aku harus mencari bukti lain yang bisa menguatkan dugaan ku ini"
Anaya memasukan tiket itu kedalam tas dan kembali mencari barang-barang lain di laci meja kerja suaminya.
Seminggu berlalu semua pekerjaan di kantor bisa di handle dengan baik oleh Anaya, semua berjalan sesuai dengan keinginan Anaya,hari ini Anaya pulang lebih cepat dari kantor Ibu Mertua sudah Menunggunya di depan rumah menyambut kedatangan Anaya.
"Ibu,kenapa ibu diluar?"
"Ibu sengaja menunggu Naya Pulang"
__ADS_1
"Ibu ini ada-ada saja"
Anaya tersenyum dan memegang tangan Ibu mertuanya kemudian masuk kedalam rumah.
"Naya, Ibu rasa sudah saatnya Kamu aktif di kantor meskipun Pramono sudah pulang nantinya,Ibu Rasa Ibu akan mengangkat kamu untuk menjadi Dirut di perusahaan ini dan Ayah sudah setuju"
Anaya tertegun mendengar penjelasan Ibu Mertuanya
"Tapi Bu bagaimana perasaan Mas Pram nantinya jika jabatan itu di alihkan ke Naya apa mas Pram tidak akan salah paham nantinya?"
"Ini sudah menjadi keputusan Ibu dan Ayah Maka siapapun tidak bisa menggugat nya"
"Tapi bu..."
"Sudah Naya Ibu dan Ayah sudah memutuskan"
Ibu mertua Anaya berlalu meninggalkan Anaya yang masih tertegun dengan helaan napasnya.
Tiba-tiba Hp Anaya berdering, Anaya mengangkat telpon tersebut ternyata Pramono yang menelpon.
"Halo mas!"
"Sayang Mas akan pulang hari ini dengan penerbangan malam hari"
"Syukurlah, mau Naya Jemput Mas?"
"Tidak perlu sebaiknya Km istirahat saja di rumah Mas akan pulang naik taxi nanti"
"Kenapa tidak dijemput Pak Nuh saja Mas?"
"Tidak apa-apa, biarkan Pak Nuh istirahat malam ini, dia juga pasti lelah menemanimu seharian"
"Baiklah mas."
"Ya sudah Mas tutup ya telponnya"
"Hati-hati mas di jalannya"
"Iya sayang"
Suara sambungan telpon terputus dari sebrang.
Anaya merasa ada yang tidak beres dengan suaminya,tidak seperti biasanya suaminya memilih angkutan umum ketimbang mobil pribadinya.
"Sebaiknya aku selidiki saja sendiri malam ini!"
Anaya menaiki tangga dan bergegas ke kamar untuk bersiap pergi kebandara rasa penasaranya semakin menguasai hati dan pikirannya, kira-kira drama apa yang akan terjadi?
kita tunggu eoisode berikutnya... 😉
Bersambung...
__ADS_1