
6 Bulan Kemudian...
Pramono sudah tidak pernah pulang ke rumah semenjak kejadian penurunan Jabatannya dia juga jarang datang ke kantor, Anaya merasa sudah terbiasa dengan ketidak hadiran Pramono yang jelas masih menjadi suaminya.
Sementara Anaya dan Wijaya semakin dekat tanpa saling mengakui perasaan, masing-masing dari mereka sadar bahwa satu sama lain saling mencintai.
Banyak tempat yang telah mereka kunjungi bersama.
Perusahaan yang Anaya pegang semakin hari semakin berkembang begitu juga dengan Klinik yang Di bangun Wijaya semakin ramai...
Hari ini Anaya tengah berada di kantor seperti biasanya, menunggu jam makan siang untuk bertemu Wijaya...
Tiba-tiba terdengar suara telpon berdering
Anaya bergegas mengambil telpon genggamnya di tas dan mengangkatnya
''Halo mas" Jawab Anaya
"Kamu sudah kelar kerjanya?"
"Sedikit lagi mas"
"Selesaikan pekerjaannya Mas tunggu di Lobi depan Kantor"
"Iya mas"
Saat Wijaya tengah menunggu Anaya selesai bekerja tiba-tiba Pramono keluar dari kantor bersama Rania
"Benar-benar gila dia, bahkan dia tidak malu terang-terangan berpacaran dengan Perempuan itu di tempat kerja"
Wijaya keluar dari mobil menghampiri Pramono
"Pram!"
"Wijaya, kamu kenapa bisa ada disini?"
__ADS_1
"Sini kamu"
Wijaya menarik tangan Pramono, beberapa langkah menjauh dari Rania
"Apa-apaan sih Jay"
"Gila ya kamu, ditempat kerja kaya gini bahkan istri kamu sudah jadi atasan saja kamu masih tidak tahu malu menggandeng perempuan itu"
"Lantas kenapa,kami sudah menikah beberapa bulan lalu"
"Bagaimana bisa kamu masih suami sah dari Anaya"
"Kami nikah siri"
"Gila ya kamu, kenapa kamu tidak ceraikan saja Anaya"
"Aku tidak akan menceraikan dia, biar saja perempuan itu tahu merasakan akibatnya bermain-min dengan Pramono hahaha"
"Benar-benar laki-laki gila"
Tanya Pramono yang baru sadar sedari tadi Sahabatnya menyebutkan nama istrinya padahal Pramono tidak pernah mengenalkan ataupun memberi tahu nama istrinya dan menceritakan kejadian yang terjadi diperusahaanya.
"Ceraikan Dia Aku Mencintainya!"
Jawab Wijaya, dan Pramono tertegun.
Tiba-tiba dari lobi Anaya setengah berlari menghampiri wijaya dan hanya melirik risih pada Rania
"Mas ayo pergi"
Ucap Anaya sembari berjalan ke arah Wijaya,Pramono menoleh ke arah suara tersebut, Anaya tertegun sekaligus kaget dan menghentikan langkahnya
"Wah-wah Tuan Putri datang juga, jadi sedari tadi tuan raja tengah menunggu Permaisurinya hahha"
"Diam kamu ********"
__ADS_1
Pungkas Wijaya
"Jadi selama ini kalian juga bermain api dibelakang ku?,dasar manusia-manusia munafik"
Ujar Pramono mencaci maki
Wijaya yang sedari tadi menahan emosi spontan mencengkram kerah baju Pramono dan akan menghajarnya
"Hentikan mas,tidak perlu kamu repot-repot menghajarnya untuk ku."
Anaya langsung masuk kedalam mobil Wijaya dan menunggu didalam sembari menangis
Wijaya langsung melepas kerha baju Pramono
"Urusan kita belum selesai sobat!"
Ucap Wijaya kesal dan melangkah menuju mobilnya
"Nikmati saja barang sisa ku Dokter Wijaya hahaha"
Wijaya terhenti langkahnya, tanpa bisa menahan emosi Wijaya berbalik arah dan menghajar Pramono
"Jaga ucapanmu, segera ceraikan Anaya,kamu terlalu hina untuk Perempuan seperti Anaya!"
"Mas Pram"
Rania berteriak menghampiri Pramono yang tersungkur.
"Jangan bilang kamu takut Miskin Pram makanya kamu tidak mau menceraikan Anaya,tenang saja aku pastikan kamu tidak akan dipecat dari perusahaan ini meskipun bercerai dengan Anaya!"
Wijaya setengah berlari ke arah mobil dan masuk kemudian menyalakan mesin dan segera pergi dari lobi kantor.
Sementara Anaya masih terisak di mobil,Wijaya memutuskan untuk pergi kesebuah danau, demi mencoba menenangkan Anaya.
Bersambung...
__ADS_1