Bahagia Yang Salah

Bahagia Yang Salah
Perlahan Semakin Mendalam


__ADS_3

Tok...


tok...


tok...


"Kak bangun didepan ada yang mencari!"


Anaya menggeliat malas membuka mata secara perlahan dan duduk di kasur.


"kak Anaya bangun kak"


"Iya sebentar!"


Perlahan anaya berjalan menghampiri pintu dan membukanya.


"Ada apa sih De berisik banget"


"Didepan ada tamu buat Kk"


"Tamu?"


"Iya tamu cepat mandi dan ganti baju lalu temui dia"


"Tamu siapa?,rasanya kakak tidak pernah ada janji hari ini?"


"Mana kutahu hehe"


Beberapa saat kemudian,Anaya menuruni tangga dan bergegas menemui tamu tak di undang tersebut.


"Siapa laki-laki itu dan kenapa dia ingin menemui ku?"


dengan langkah ragu Anaya membuka pintu dan disaat bersamaan laki-laki itu berbalik kearah Anaya.


"Apa ini,kenapa dia datang kemari dan dari mana dia tahu alamat rumah ini?"


Laki-laki itu tersenyum menghampiri Anaya.


"Maaf nona,saya mengantar sepeda anda yang kemarin anda tinggal di tepi sungai,hehe"


"Dari mana anda tahu alamat rumah saya?"


"Saya pernah melihat anda keluar dari rumah ini,saya hanya mengira-ngira dan ternyata benar"


"hehe terimakasih sudah mengantarkan sepeda saya,oh tunggu sebentar tuan"


Anaya berlari kedalam rumah menuju kamarnya,laki-laki itu mengangkat alis melihat Anaya yang berlari kembali kearahnya dengan jas ditangannya.

__ADS_1


"Terimakasih,ini sudah saya cuci"


Anaya menyodorkan jasnya sambil tersenyum.Lelaki itu balas tersenyum dan mengambil jas nya.


"Nona beberapa kali kita bertemu,rasanya kita masih tidak tahu nama satu sama lain"


Anaya tersenyum dan mengangguk


"Nama saya Wijaya"


"Anaya"


Sahut anaya dan menjabat tangan laki-laki tersebut.


"Senang bisa bertemu dan berkenalan dengan anda Nona Anaya,saya permisi"


Wijaya mengangguk kan kepala lalu berlalu keluar dari halaman rumah Anaya. Sekali Wijaya menoleh kebelakang dan tersenyum kemudian melambaikan tangan,Anaya membalas lambaian tangan Wijaya dan menatapnya hingga jauh tak nampak lagi bayangan dari lali-laki tampan yang tadi berdiri dihadapan Anaya.


Perasaan macam apa ini begitu dalam menyelusup hingga ke dasar hati rasanya begitu sulit dijelaskan dengan kata-kata, ah Tuhan apa ini yang seringkali orang sebutkan dengan nama jatuh Cinta...


Anaya tersenyum-senyum sendiri sembari memegang dadanya,mungkin dia merasakan jantungnya berdetak lebih kencang seperti akan melompat keluar...


"Siapa kak?"


"Kaka juga baru tahu namanya barusan"


"Ah kamu anak kecil apaan sih orang gak ada apa-apa ko"


"Tapi suara detak jantung kakak terdengar lebih keras loh aku sampai bisa mendengarnya dari sini"


"Hahahah,,,yang benar saja"


Anaya memegang dada khawatir.


"Bercanda wew hehehe"


"Anak ini ya awas ya"


Mereka berlarian kesana-kemari seperti anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran,tidak bisa dipungkiri Anaya telah jatuh cinta sejak pertama mereka bertemu didepan mini market,meski semakin di tolak perasaan itu mereka justru malah semakin sering bertemu di jalan ketika bepergian,begitupun dengan Suaminya Pramono yang lebih sering bepergian dengan sekretarisnya Nadia,mereka seolah lupa dan tidak mengerti apa arti dari sebuah pernikahan,meski sesekali Anaya tetap memikirkan dan memberi kabar pada suaminya.


"sejak aku dirumahnya ibu kenapa mas Pram tidak pernah menghubungiku lebih dulu,setiap kali ditelpon tidak pernah menjawab dan membalas pesan sesuka hatinya"


"Apa yang sedang kamu pikirkan nak,kenapa ibu tidak pernah melihatmu bertelepon dengan suamimu?"


"Emhssss ibu, mas pram itu kan selalu sibuk dia sedang diluar kota sekarang mengurus bisnisnya di sana"


Hatiku meringis ketika harus berbohong demi membuat ibu tidak menangis saat ini meski aku sadar andai nanti ibu tahu yang sebenarnya pasti tangis dan sedih nya akan meledak...meski berkali-kali aku menelpon dan mengirim pesan tidak pernah sekalipun dibaca ataupun diangkat oleh nya...

__ADS_1


"Meskipun begitu jangan sampai kamu tidak pernah mengabarinya,nanti Suamimu bisa berpikiran yang tidak-tidak tentang kamu disini".


"Iya bu Anaya Mengerti, ibu tidak perlu khawatir, jangan banyak pikiran ya hehe"


Ibu hanya tersenyum mendengar ucapan Anaya dan mengangguk,kemudian berdiri dan pergi dari sisi Anaya. Andai semua orang tahu saat ini perasaan Anaya tengah hancur karena harus terus berbohong demi membuat rumah tangganya terlihat baik-baik saja.


"Hey!,mikirin apa hayo hehehe"


Dari belakang Akila adik Anaya mengagetkan Anaya yang tengah duduk di sofa sembari melamun


"Ih sejak kapan kamu disitu? jangan-jangan kamu nguping ya dari tadi"


Rania hanya tersenyum nakal sambil menghampiri Anaya dan duduk disampingnya.


"Malam ini kita pergi nonton yu kak"


"Idihhhh malah kemana-mana ditanya juga"


"hehe iya iya maaf tadi kan aku gak sengaja niatnya mau ngagetin kk eh malah ibu keburu datang"


"Dasar anak nakal"


"Aduuuhhh sakit KA"


Anaya menjiwir telinga adiknya pelan sambil tertawa...


"Maafin dong kak, daripada murung mulu di rumah mending nonton yuks sama Rania,ayo dong kak Aku kan jarang bisa kemana-mana kalau ga ada kakak"


Rengek Rania pada Anaya.


"Ga mau akhs males"


"Akhs kakak jahat ih"


"Biarin"


"Ikhsss tuh kan kakak jahat banget sih"


"Hehehe iya,iya,iya nanti siang kita keluar,apa sih yang enggak buat adik kakak"


"Ye ye ye. . . kakak emang kakak ter The Best di dunia"


"Halah giliran ada maunya aja muji-muji hehehe"


Adik kakak itu tertawa terbahak-bahak sambil sesekali saling usil satu sama lain...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2