Bahagia Yang Salah

Bahagia Yang Salah
Gugatan Cerai


__ADS_3

Sepekan lalu Rania pergi meninggalkan kota dengan penuh luka tak berdarah dalam diri dan hatinya, semenjak saat itu Rania mengganti no ponsel nya dan tepat hari ini gugatan cerai Rania terhadap Pramono di la yang kan ke rumah Pramono.


"Permisi. Surat pak!"


Seorang pengantar surat dari kantor pos berdiri di depan pintu rumah Pramono sambil terus mengetuk-ngetuk pintu rumah Pramono.


"Yaaaa tunggu!"


Suara Pramono dari dalam rumahnya.


Pramono melangkah keluar dari kamarnya menuju pintu keluar rumah.


"Permisi pak ini ada kiriman surat untuk bapak!"


"Surat?"


"Silahkan ditandantangani disini!"


Tukang Pos menyodorkan bukti tanda terima kepada Pramono, kemudian Pramono menandatangani.


"Saya permisi pak,silahkan suratnya!"


Pramono menerima surat tersebut dan membawanya kedalam rumah.


"Surat dari pengadilan,gugatan cerai?"


Pramono membukanya dengan tergesa-gesa.


Melihat Rania yang menggugat cerai dirinya Pramono bergegas mengambil Telpon genggamnya dari kamar, berkali-kali Pramono menelepon Rania tapi selalu tidak aktif dan diluar jangkauan.


Pramono murka dan melemparkan Hp nya ke lantai.


"Sialan apa maunya perempuan itu!"


Pramono membabi buta membanting setiap hal yang ada di hadapannya.


Beberapa menit kemudian telpon rumah Pramono berdering, dengan kesal Pramono meraihnya.


"Halo!"


"Mas, aku rasa kamu sudah menerima surat gugatan cerai yang aku ajukan satu minggu yang lalu,terimakasih mas, kamu tidak perlu menjelaskan apapun, aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!"


"Perempuan sialan, kamu tidak tahu terimakasih!"


"Cukup mas, aku sudah tidak sanggup lagi hidup dengan kamu"


"Bagus lah kalau kamu sudah sadar diri pergi dari kehidupanku, setidaknya jalanku untuk kembali pada Anaya sudah semakin mudah hahah!"


"Kamu tidak akan pernah bisa kembali pada Anaya, apapun yang kamu lakukan mas, seharusnya kamu sadar diri, kamu sudah membuat hidup Anaya hancur dan sekarng kamu ingin kembali pada orng yang telah kamu hancurkan kehidupannya,gila kamu mas!"


"Bukan aku yang menghancurkan tapi kamu yang hadir didalam rumah tanggaku!"


"Mas...,kenapa kamu tidak sadar juga mas, ingat anak kita perempuan jangan sampai anak kita diperlakukan oleh laki-laki seperti kamu memperlakukan aku dan Anaya!"


"Diam kamu perempuan gila, aku tidak butuh nasehat dari kamu!"

__ADS_1


"Baik mas, aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa ketemu sama anak kamu lagi sampai kapanpun!"


"Bukan urusan ku!"


Rania menutup telponnya.


"Akhirnya aku bisa bebas deketin Anaya mulai sekarang, sebaiknya sekarang aku bersiap dan ngasih tahu Anaya ke kantornya, tapi kalau si brengsek Wijaya itu da di kantor ribet juga. Akhs sudah lah bagaimana nanti saja"


Pramono bergegas mandi kemudian bersiap menemui Anaya...


Sepanjang perjalanan menuju kantor Anaya,Pramono bersiul-siul bahagia.


Sesampainya di depan kantor Anaya, Pramono mulai melihat-lihat kondisi di sekitaran kantor Anaya, Pramono melihat seorang satpam berdiri tegap di dekat pintu masuk kantor Anaya.


"Sialan ada satpam, kalau aku masuk pasti di usir, sebaiknya aku tunggu saja di sini, nanti kalau Anaya keluar aku langsung saja temui dia.!"


Pramono menunggu beberapa waktu didepan kntor Anaya namun Anaya tak kunjung keluar dari kantornya.


Pramono memutuskan untuk menunggu di dalam restoran di dekat kantor Anaya.


Saat Pramono masuk kedalam restoran dan memesan beberapa makanan ringan, disaat yang bersamaan Anaya keluar dari dalam kantor dan pergi bersama sekertarisnga dan sopirnya Pak Wahyu.


Tanpa Pramono sadari Anaya sudah pergi meninggalkan kantornya, sementara Pramono masih menunggunya di dalam restoran.


Sementara di tempat lain Anaya bersama sekertaris dan sopirnya sedang menuju ke sebuah restoran untuk bertemu klien sambil makan siang.


"Pak Wahyu, mari ikut kedalam bersama saya bapak duduk di meja dekat meja saya,silahkan memesan apapun nanti Saya yang akan bayar pak!"


"Apa tidak merepotkan nyonya?"


"Tidak pak, lagian ini udah waktunya makan siang juga kan.!"


"Baik pak, biar saya sama sekertaris saya menunggu di lobi resto!"


"Baik Nyonya!"


Anaya dan Sekretarisnya, keluar dari mobil dan menunggu di lobi restoran, beberapa saat kemudian Pak Wahyu sudah berjalan kearah Anaya, dan mereka bertiga masuk bersama kedalam restoran.


"Selamat siang tuan-tuan!"


Sapa Anaya pada kedua klien yang sudah menunggunya.


Serentak kedua laki-laki di hadapan Anaya berdiri dan menyalami Anaya.


"Perkenalkan ini sekertaris saya tuan-tuan!"


"Silahkan duduk Nyonya Anaya!"


Seorang klien laki-laki menarik kursi dan mempersilahkan Anaya duduk.


"Terimakasih tuan!"


Anaya dengan wajah tersenyum sambil duduk di kursi.


"Silahkan Nyonya, anda pesan makanan untuk makan siang!"

__ADS_1


"Terimakasih tuan"


Anaya memesan makanan untuk meja nya dan meja pak Wahyu.


Setelah selesai mereka makn siang mereka berlanjut membahas kontrak yang akan disepakati oleh kedua belah pihak, tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul setengah empat sore, Anaya berpamitan pulang pada klien nya.


"Kita akan kembali ke kantor atau langsung pulang Nyonya?"


"Saya mau langsung pulang saja pak, lagian kan ini juga sudah mau sore!"


"Baik nyonya!"


"Kalau begitu saya akan pulang naik taxi saja Nyonya Anaya!"


"Gak usah nanti setelah pak Wahyu mengantar saya pulang kerumah, biar pak Wahyu antar kamu pulang!"


"Tidak usah nyonya saya takut merepotkan"


Sekertaris Anaya merasa tidak enak hati jika terus merepotkan Anaya dalam urusan hidupnya.


"Sudah ayo masuk tidak perlu membantah lagi"


Seru Anaya sambil tersenyum.


"Kalau kamu tidak mau ikut saya lagi malah saya yang tidak enak hati nantinya, massa iya saya meninggalkan kamu sendirian disini!"


"Maafkan saya nona,Baik nyonya saya ikut dengan nyonya lagi!"


"Mari pak kita langsung jalan!"


Sesampainya di depan rumah Anaya menghentikan mobil.


"Pak saya berhenti disini saja, bapak bisa langsung antar sekertaris saya pulang ya!"


"Baik nyonya!"


"Terimakasih nyonya!"


Anaya tersenyum dan mengangguk menatap sekretarisnya, kemudian turun dari mobil, setelah Anaya turun mobil pun berlalu dari pandangan Anaya, Anaya berniat membuka pintu pagar, namun tiba-tiba dari belakang Anaya di peluk oleh seseorang,Anaya berpikir bahwa itu Wijaya Tunangannya, tanpa menoleh kebelakang Anaya tersenyum sembari berkata.


"Ya ampun mas kamu bikin aku kaget saja!"


Anaya mencoba menoleh membalikkan tubuhnya kebelakang.


Tapi pelukan itu seolah-olah menahan Anaya untuk menoleh kebelakang.


Sementara Orang yang memeluk Anaya dari belakang menciumi rambut Anaya, membuat Anaya merasa ada yang Aneh.


"Mas Wijaya tidak pernah berlaku seperti ini!"


Anaya melirik jam tangan yang digunakan orang yang memeluknya ternyata jam yang digunakan oleh orang tersebut bukan jam yang di berikan Anaya pada Wijaya.


"Siapa kamu!"


Teriak Anaya.

__ADS_1


"Akhirnya kamu sadar sayang, bagaimana bukankah pelukanku masih senyaman dulu, itu berarti tidak ada yang berubah kan dari diriku, wangi rambutmu, hangat tubuhmu... semuanya masih sama persis sayang!!!".


Bersambung...


__ADS_2