
Persidangan demi persidangan berjalan lancar, keputusan pengadilan telah keluar Pramono dan Rania sudah di Alih tugaskan ke luar kota bahkan Rania kini tengah hamil muda.
"Naya, semuanya sudah berjalan sesuai dengan keinginan mu, sudah waktunya Ibu pulang"
"Kenapa harus pulang bu apa tidak sebaiknya ibu pindah saja kesini dan kita sama-sama tinggal disini"
"Ibu tidak bisa meninggalkan desa dan rumah yang sudah begitu banyak kenangan tersimpan didalamnya,bagaimanapun ibu sekarang sudah lebih tenang karena kamu sudah lepas dari laki-laki seperti Pramono"
"Baiklah bu biar besok Naya panggilkan taxi online saja, maaf Naya tidak bisa antar ibudan Akila pulang"
"Tidak apa-apa kak, biar Akila yang jagain ibu jadi tidak perlu di antar"
"Tolong yah"
"Siap kakak"
"Ya sudah hari ini Naya ada rapat diluar bu mungkin naya tidak bisa pulang untuk makan siang bersama, ibu sama Akila jalan keluar sendiri tidak apa-apa?"
"Tidak perlu khawatir Ibu dan Akila sudah agak lama disini jadi kami sudah tahu betul kemana kami pergi"
"Syukurlag ini pakai kartu ini siapa tahu nanti pas jalan-jalan ada yang ingin dibeli"
"Tidak perlu Nay kamu sudah bersusah payah mengumpulkan uang ini..."
"sutsss bu Tugas Naya sekarang membahagiakan Ibu,Ayah dan Alice Naya bekerja keras untuk kalian dan massa depan kita,jadi Naya akan kecewa jika Ibu terus menolaknya"
Ibu Anaya hanya menghela napas dan membiarkan Anaya memasukan Kartu credit kedalam saku baju Ibunya.
"Ya sudah Naya pamit ya Bu, Akila jangan lupa jagain ibu"
"Iya kak siap!"
Anaya keluar kamar hotel menuju parkiran, sejak sidang perceraian selesai Anaya selalu menyetir sendiri kemana-kama terkadang jika lelah dia akan memilih memakai supir panggilan atau taxi online.
Menit berganti jam,Sudah lewat senja, Anaya baru selesai bekerja.
"Hari yang melelahkan ahhh lelah sekali, ngomong-ngomong ibu sama Alice sedang di mana ya, jangan-jangan mereka masih di luar, sebaiknya aku telpon saja lah".
Anaya bicara sendiri didalam mobil, sembari mencari-cari Hp dari dalam tasnya kemudian menghubungi Akila.
"Halo kak"
"Iya, kamu sama ibu sekarang dimana, sudah dihotel atau masih di luar?"
__ADS_1
"Kami sudah di hotel kak"
"Syukurlah"
"Ada apa kak?"
"Tidak, kakak baru saja mau pulang, kakak pikir Ibu sama kamu masih di luar jadi kakak mau jemput sekalian makan malam bersama"
"Kami sudah dihotel sejak sore tadi kak"
"Lantas Ibu sama kamu Sudah makan malam?"
"Belum lah kak masih jam segini kok nanyain makan malam"
"Ya sudah nanti kita makan malam bareng yah kakak pulang cepat ko"
"Iya kak, hati-hati di jalan"
"Ya sudah bye..."
"Bye...!"
Anaya melajukan mobilnya menuju hotel beberapa kali Anaya terjebak di lampu merah,saat lampu merah Anaya melihat mobil yang ada di depan mobilnya.
Anaya memastikan plat no mobilnya
"Seperti mobil mas wijaya, masa iya, dia bilang dulu ingin tinggal diluar kota membuka cabang klinik baru"
Lampu sudah berubah hijau dan Anaya dikahetkan oleh suara klakson mobil-mobil d belakangnya sementara mobil yang dikira milik Wijaya audah melesat jauh di depan Anaya.
"Akhsss sudah jauh lagi,apa aku kejar aja? tapi Ibu sama Alice pasti nungguin kasian juga kan"
Akhirnya Anaya memutuskan pualng kehotel, dilobi hotel Ibu dan Akila sudah menunggu...
"Ayo masuk Bu!"
"Apa kamu tidak akan mndi dulu Nay?"
"Tanggung bu, nanti saja sepulang dari tempat makan Kita kesauna!"
"Memangnya kamu tidak cape?!"
"Enggaklah bu justru Naya senang bisa pergi sama Ibu sama Alice"
__ADS_1
"Kamu ini memang"
Setelah didalam mobil...
"Ibu mau makan apa?"
"aku mau makan daging bakar ya"
"Daging bakar?"
"Iya yang pas pertama kita kesini itu loh Bu,kak itu rasanya enak banget dan Akila terbayang-bayang terus rasanya masih nempel dilidah"
"Anak ini lebay banget sih..."
"Iihhh kakak Kila serius"
Anaya dan Ibunya tertawa melihat kelakuan adiknya.
"Ibu ikut aja kalian maunya makan apa"
"Enggak dong bu kali ini kita ikutin maunya ibu,masa ibu terus yang ikutin maunya kita"
"Ga papa lagian ibu juga suka kok daging bakar yang waktu itu"
"Tuh kan kak bener,ibu aja ketagihan"
"Iya udah kalo gitu kita kesana sekarang, lets go!!"
"Sebuah kebahagiaan tidak melulu terpaku pada pasangan, selalu bisa melihat tawa bahagia keluargaku saja sudah lebih dari kebahagiaan yang sempurna bagi kehidupan ku"
Sesekali Anaya melirik kaca spion melihat wajah Ibu dan Adiknya yang nampak bahagia.
"Naya bersyukur memiliki keluargga yang begitu sayang sama Naya"
"Ibu yang bersyukur karena bisa memiliki anak-anak sehebat kalian meskipun dulu kalian dibesarkan dengan ekonomi yang sulit"
"Ibu,,,Akila juga bersyukur meskipun dulu kita serba kekurangan tapi Akila dan kak Naya tidak merasa kekurangan kasih sayang sedikitpun dari Ayah dan Ibu"
Akila bersandar manja sambil menggandeng tangan ibunya.
"Terimakasih Tuhan ini sudah lebih dari cukup"
Bersambung...
__ADS_1