
Pagi ini Anaya sudah bersiap dengan gaun berwarna dusty pink nya,sembari beberapa kali menatap dirinya di cermin.
"Cantik sekali kamu Nak Pagi ini mau kemana?"
"Mau jalan sama mas Wijaya bu.!"
"Jalan kemana?"
"Naya sendiri kurang tahu bu, karena mas Wijaya bilang itu rahasia!"
"Benar-benar anak muda jaman sekarang, kalau sedang jatuh cinta dunia serasa milik berdua heheh!"
"Ibu bisa aja, naya jadi malu!"
"Ya sudah sebelum pergi sebaiknya sarapan dulu!"
"Enggaklah Bu, nanti saja di jalan bareng sama mas Wijaya.!"
"Lebih baik sarapan di rumah dulu sekalian ajakin nak Wijaya nya!"
"Tapi bu..."
"Wijaya setuju-setuju saja bu, lagian kan ibu udah masakin jadi harus dimakan!"
Wijaya ikut nimbrung dari luar kamar sembari menatap dan tersenyum kearah Anaya.
"Mas sudah datang?"
"Ibu selalu setuju dengan nak Wijaya heheh!"
"Terimakasih ibu..."
"Ayo kita tunggu Anaya di meja makan nak Wijaya!"
"Mari bu!"
Wijaya tersenyum lalu mengedipkan mata sebelah kiri kepada Anaya kemudian mengikuti langkah Wijaya sampai ke meja makan.
Sementara Ibu Anaya menyiapkan Piring dan lauk pauk lainnya dari dapur, Wijaya mengikuti dan ikut membantu calon mertuanya.
"Jangan nak Wijaya biar ibu saja, sebaiknya nak Wijaya tunggu saja di meja makan!"
"Tidak apa-apa Ibu lagian saya ingin belajar banyak hal supaya kelak ketika saya dan Anaya tinggal bersama, tidak hanya Anaya yang menyiapkan makanan untuk saya."
"Kamu benar-benar laki-laki yang bertanggung jawab Nak Wijaya."
"Ibu bisa saja heheh!"
"Loh...loh...loh... kayanya seru banget ini lagi pada ngomongin Naya jangan-jangan!"
Anaya menghampiri Wijaya dan Ibunya yang tengah terlibat perbincangan di dapur!"
"Husss kamu ini ko bicaranya begitu sih Nay!"
"Heheh maaf bu Naya cuman bercanda!"
Ibu Anaya meninggalkan dapur sambil membawa sepiring ayam goreng di tangannya.
"Ada-ada saja kamu ini sayang!"
"Ya maaf kan bercanda."
Wijaya menimpalinya dengan senyuman.
"Ayo kita sarapan!"
Wijaya meninggalkan dapur bersama Anaya.
"Ayah kemana Bu?"
"Oh iya Ibu lupa ngasih tahu kamu, kalau Ayah harus pulang kemaren sore karena ada pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan!"
"Pantesan dari kemaren Malam Naya gak liat, Naya pikir Ayah sudah tidur."
"Ayah tidak sempat berpamitan sama kamu karena kamu kan kemaren sore belum pulang, lagian telponnya mendadak sekali makanya Ayah buru-buru pergi!"
"Kamu tahu Mas Ayah gak ada di rumah?"
"Tahu.!"
__ADS_1
Jawab Wijaya datar.
"Ko kamu bisa tahu mas?"
"Kan Ayah ngabarin ke mas terus nitipin Ibu sama Kamu!"
"Ko kamu ga pernah cerita!"
"Mas pikir kamu sudah tahu heheh!"
"Ko sama mas Wijaya pamitan,masa sama aku anaknya sendiri gak pamitan!"
"Mungkin Ayah sibuk!"
"Jangan-jangan aku sudah tergantikan lagi oleh mas Wijaya!"
Mereka bertiga tertawa terbahak mendengar omongan Anaya.
Selesai makan, Wijaya kembali membantu calon mertuanya membereskan meja makan.
"Rajin banget sih mas, aku jadi malu,heheh!"
"Namanya juga belajar sayang!"
Anaya mencium pipi Wijaya yang tengah sibuk membereskan meja makan.
Wijaya melirik ke arah Anaya kemudian melirik ke arah dapur setelah memastikan Calon mertuanya masih sibuk di dapur Wijaya membalas Ciuman Anaya.
Disaat yang bersamaan Ibu Anaya keluar dari dapur, melihat Wijaya mencium Anaya, Ibu Anaya berdehem.
"Ehem!"
Wijaya dan Anaya berpura-pura bersikap normal kemudian Wijaya berjalan ke arah dapur membawa piring kotor.
Sementara Anaya mencoba bersikap tenang meskipun saat itu hatinya berdebar kencang dan wajahnya terasa mulai memanas.
"Semuanya sudah di bereskan sama bibi di belakang bu."
Wijaya keluar dari dapur sembari berusaha mencairkan suasana canggung itu.
"Iya makasih nak Wijaya."
"Pergilah dan bersenang-senang lah, ingat pulangnya jangan terlalu larut karena kalian belum sah ya."
"Iya bu terimakasih, kami pamit pergi dulu."
Anaya dan Wijaya keluar dari rumah dengan perasaan canggung.
Setelah berada di dalam mobil Anaya tertawa cekikikan.
"Ih kenapa malah tertawa coba?"
"Makanya mas gak boleh nakal!"
"Yang mulai duluan itu kamu, mas kan cuman membalas, emang dasar aja mas lagi apes"
"Hahahah jangan cemberut begitu ah jelek!"
"Sekarang kamu dengerin dan nikmati musik" yang mas putarkan untuk kamu.!"
Wijaya menghidupkan pemutar musikdari dashboard mobilnya.
Lagu demi lagu mengalun indah terdengar sangat merdu membuat Anaya menutup kedua matanya berusaha semakin menenggelamkan pikiran dan semua perasaannya pada lagu tersebut.!
Satu jam perjalanan sudah berlalu namun Anaya masih belum diberi tahu kemana mereka akan pergi.
"Mas masih jauh kah?, ini sudah hampir satu jam lebih mas."
"Sebentarrrrr lagi, ok."
"Memangnya kita mau pergi ke mana sih mas, sampai sejauh ini perginya?"
"Nanti juga kamu tahu sendiri."
Anaya memalingkan wajah keluar jendela mobil sembari menghela napas panjang.
"Sepertinya dia mulai kesal, heheh!"
Wijaya yang melihat raut wajah Anaya mengkerut, tertawa di ujung bibirnya.
__ADS_1
Anaya merasa ada hawa panas mulai menerpa kulitnya, angin yang bertiup terasa lebih kencang di banding biasanya, samar-samar mulai terdengar deburan ombak menghantam karang.
"Mas... mas... Ini kita mau ke Pantai?"
Raut Wajah Anaya berbinar senang.
Wijaya mengangguk sambil tersenyum
"Ya ampun mas, kenapa ga bilang dari kemarin coba, kan ga akan ada acara Bt bt'an."
"Namanya juga kejutan sayang."
Anaya tersenyum sumringah mendengar perkataan Wijaya sembari tetap menatap ke arah luar jendela mobil yang telah d buka nya.
"Indah banget mas."
"Kamu sudah gak sabar ya, heheh?"
Anaya mengangguk sambil memegang tangan Wijaya.
"Ya udah kita parkir dulu mobil nya ya!"
Anaya mengangguk tanda mengiyakan.
Seusai memarkirkan mobil, Wijaya dan Anaya keluar dari dalam mobil.
"Sayang tunggu sebentar ya.!"
Wijaya mengambil selembar kain dari dalam mobil dan menutup mata Anaya.
"Eh mas kenapa pake acara tutup mata segala sih mas?"
"Udah kamu tenang aja, sekarang ms pegangin biar gak kesandung, ayo jalan."
Anaya berjalan sambil digandeng oleh Wijaya.
"Mas sudah belum?"
"Nah kita sudah sampai sekarang, kamu sudah siap?"
"Siap apa mas?"
"Siap lihat sesuatu yang pasti bikin kamu bahagia."
Anaya mengangguk.
"Ok sekarang mas Buka penutup matanya tapi kalau mas belum bilang buka mata kamu jangan coba-coba ngintip ya?"
"Iya mas iya."
Wijaya melepas penutup mata Anaya.
"Nah pas hitungan ke tiga, kamu pelan-pelan buka mata, siap?"
"Siap mas!"
"Satu....dua... tiga...!"
Anaya membuka matanya perlahan-lahan, di hadapannya sudah tersedia sebuah dekorasi pernikahan Out dor dengan nuansa warna putih bercampur aroma bunga lili dan mawar.
Anaya tertegun setengah kebingungan perasaanya bercampur aduk melihat di sana sudah banyak orang yang hadir.
"Selamat datang sayang...!"
Ibu dan Ayah Anaya menyambut dengan balutan pakaian khas untuk pergi ke kondangan pernikahan.
"Ayah!,Ibu!,ko bisa?"
Keluarga Wijaya pun ikut tersenyum melihat sikap Anaya yang masih kebingungan...
"Ini acara siapa mas,kok gak ada yang cerita sama aku kalau keluarga kita ada yang akan menikah?"
Tidak ada yang menjawab rentetan pertanyaan Anaya semuanya hanya tersenyum menyaksikan kekikukan Anaya.
Wijaya langsung memberikan Isyarat kepada dua orang perempuan yang sedari tadi berdiri di samping Anaya, mereka langsung membawa pergi Anaya kesebuah tenda yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi pernikahan tersebut.
"Loh saya mau di bawa kemana?"
Dua perempuan tadi hanya tersenyum sambil menggandeng Anaya.
__ADS_1
Melihat Anaya sudah memasuki Tenda Wijaya bergegas pergi ke tenda di sebelah tenda Anaya....