
Hari sudah pagi, Dokter Reyhan baru saja selesai memeriksa keadaan Anaya.
"Gimana dokter keadaan anak saya?"
"Sudah lebih baik nanti sore sudah boleh pulang bu"
"Syukurlah terimakasih dok!"
"Sama-sama bu!"
Dokter Reyhan keluar dari ruangan Anaya.
"Rey gimana kondisi Anaya?"
Tanya Wijaya.
"Nanti sore sudah boleh pulang kok!"
"Syukurlah,kalau begitu,tapi apa kondisinya tidak akan memburuk lagi?,ini bukan kali pertama Anaya dirawat karena hal yang sama!"
"Aku tidak tahu pasti, tapi kalau melihat Kondisi Anaya yang sekarang, kemungkinan untuk Anaya memburuk lagi sangat kecil"
"Syukurlah.!"
Wijaya menarik napas dalam-dalam.
"Aku percaya kamu bisa menangani nya kalaupun sesuatu terjadi pada Anaya,aku sarankan untuk kedepannya Apa tidak lebih baik Anaya di rawat di klinik kamu saja?"
"Aku rasa juga begitu, hanya saja kmaren benar-benar diluar dugaan,lantas bagaimana kondisi kakinya, Supir Anaya bilang kalau Anaya terkena pukulan di bagian Paha!"
"Tidak perlu khawatirkan, untungnya tidak ada luka dalam akibat hantaman benda tumpul itu, hanya memar biasa saja."
"Syukurlah terimksih Rey!"
"Sudah jangan terimakasih terus, lain kali ajak aku keluar dan minum bersama sebagai ucapan terimakasih mu itu!"
"Tentu Rey!"
"Ya sudah aku permisi ya, masih ada pasien yang menunggu!"
"Ok.!"
Dokter Reyhan berlalu pergi meninggalkan Wijaya.
"Ayah mari kita masuk!"
Ajak Wijaya pada Ayah Anaya.
Sesampainya didalam, Anaya sudah bangun dan sedang duduk mengobrol dengan ibunya.
"Ayah!,Mas!"
"Bagaimana kabar kamu Nay?"
Tanya Ayah Anaya.
"Sudah jauh lebih baik, Ayah tidak perlu menghawatirkan Naya."
"Syukurlah,Ayah tidak tahu pasti kamu kenapa, sebaiknya kamu ceritakan apa yang terjadi kmaren di rumah mu sampai kamu bisa terbaring di rumah sakit!"
"Sudahlah Ayah, Naya kan sudah baik-baik saja!"
Ibu Anaya menyentuh tangan suaminya kemudian menggelengkan kepala.
"Bagaimana keadaan bibi mas?"
"Bibi sudah selesai operasi, mungkin sekarang dia sudah siuman, mas juga belum sempat menengoknya lagi."
"Tolong bawa Naya menjenguknya mas!"
"Tapi Nay kamu masih di impus sebaiknya nanti saja kamu menjenguk Pelayanmu, sekarang biar Ayah dan Nak Wijaya, yang melihat keadaan pelayan mu!"
"Baiklah, tolong ya mas, yah!"
__ADS_1
Wijaya menganggukan kepala kemudian berlalu pergi keluar kamar bersama Ayah Anaya.
"Mari Yah kita lihat kondisi bibi!"
Ayah Anaya mengangguk pelan dan berjalan disebelah Wijaya.
Seorang suster keluar dari kamar rawat pelayan rumah Anaya.
"Suster, apa pasien sudah boleh di jenguk?"
"Tentu silahkan tuan, pasien sudah sadar sejak tadi pagi!"
"Lalu bagaimana kondisinya?"
Tanya Ayah Anaya
"Kondisinya sudah membaik tuan!"
"Syukurlah!"
"Saya permisi!"
Wijaya dan Ayah Anaya hanya mengangguk pelan kemudian masuk kedalam ruang kamar inap pelayan rumah tersebut.
"Tuan!"
Pelayan itu berusaha bangkit dan duduk di tempat tidurnya.
"Tidak perlu bi,bibi berbaring saja!"
Ucap Ayah Anaya.
Pelayanlun menuruti perkataan Ayah Anaya.
"Bagaimana keadaan bibi sekarang?"
"Sudah lebih baik tuan, terimakasih karena sudah mau repot-repot meminjamkan biaya operasi pada saya tuan, saya berjanji akan mencicilnya dari gaji saya"
"Tidak perlu bibi, itu sudah jadi kewajiban saya membiayai operasi dan perawatan bibi di rumah sakit ini."
"Sudah tidak perlu dipikirkan bi ikuti saja apa kata Nak Wijaya!"
"Terimakasih tuan!"
"Bibi apa bibi bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya?"
Pelayan tersebut mengangguk, dan mulai menceritakan kejadian kemaren.
Mendengar cerita Pelayan tersebut Ayah Anaya merasa geram dan tidak terima Anaknya diperlakukan demikian.
"Ini tidak bisa dibiarkan nak wijaya!"
"Maaf Ayah sebenarnya ini adalah kali kedua Pramono melakukan hal yang sama!"
"Apa!, kurang ajar laki-laki ******** itu!"
"Sebaiknya kita lapor polisi saja nak wijaya, kita sudah memiliki saksi yaitu pak Wahyu dan Bibi!"
"Tentu Ayah, Wijaya setuju, bibi apa bibi bersedia menjadi saksi di pengadilan nanti?"
"Iya tuan saya bersedia!"
"Terimakasih bibi!"
"Bagaimanapun kita baru bisa memproses laporan ketika bibi sudah keluar dari rumah sakit, dengan kondisi bibi saat ini bibi masih sangat lemas."
Usul ayah Anaya.
"Benar kata Ayah".
"Sebaiknya rencana ini jangan di ceritakan dulu kepada Ibu dan Anaya nak Wijaya."
"Baik Ayah."
__ADS_1
"Bibi sore ini Anaya sudah di perbolehkan pulang, bibi tenang saja Dokter Reyhan adalah sahabat saya nanti kalau ada apa-apa bibi tidak perlu sungkan untuk minta tolong kepadanya,saya juga akan menyewa seorang suster khusus untuk mengurus bibi."
"Terimakasih tuan, tapi apa tidak merepotkan?"
"Tidak bi, bibi tenang saja, kita ini sudah jadi keluarga bi, jadi bibi jangan sungkan lagi!"
"Terimakasih tuan terimakasih sekali!"
"Saya yang seharusnya berterimakasih sama bibi, karena bibi sudah berusaha melindungi Anak saya bahkan rela mengorbankan diri bibi demi keselamatan Anak saya!"
"Tidak tuan, justru saya hampir mencelakai Nyonya Anaya karena kecerobohan saya!"
Pelayan itu tertunduk hingga meneteskan air mata.
"Jangan menangis bi, kalau tidak ada bibi di sana kita sudah tidak bisa membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi pada Anak saya!"
"Benar apa yang dikatakan Ayah bi, kmi benar-benar berhutang budi pada bibi."
"Sebaiknya sekarang bibi istirahat kembali, kami janji akan mengunjungi bibi sesering mungkin!"
"Terimakasih tuan!"
"Kami permisi bi."
"Silahkan tuan, tapi tolong sampaikan maaf saya pada Nyonya Anaya.!"
Wijaya dan Ayah Anaya tidak bicara sedikitpun mereka hanya tersenyum,kemudian keluar dari kamar rawat tersebut.
"Nak Wijaya!"
"Iya Ayah?"
"Apa tidak sebaiknya pernikahan kalian dipercepat saja?"
"Sebenarnya Wijaya juga memikirkan hal yang sama Ayah,hanya saja Wijaya masih ragu mengatakan ya pada Ayah dan Ibu."
"Bagaimana kalau nanti malam kita undang keluarga Nak Wijaya untuk makan malam bersama di Rumah Anaya, sekalian kita bicarakan usulan ini pada semua pihak!"
"Tentu Ayah, nanti Wijaya akan Menjemput mereka untuk datang ke rumah Anaya."
Di satu sisi Wijaya merasa bahagia karena Ayah Anaya memiliki pemikiran yang sama dengan nya namun disisi lain Wijaya takut kalau Anaya malah menolak rencana ini.
Menjelang sore Anaya sudah bersiap untuk pulang, sesuai keinginan ya tadi pagi Anaya ingin menjenguk pelayan rumahnya terlebih dahulu sebelum pulang kerumahnya.
"Nak Wijaya,biar ibu saja yang temani Naya menjenguk Bibi, sekalian Ibu ingin berterimakasih kepada bibi!"
"Tentu Ibu biar Wijaya Antar sampai depan kamar rawat bibi saja."
Anaya tersenyum dan mengangguk pelan.
"Mari biar mas bantu sayang."
"Terimakasih mas."
"Wijaya menggandeng tubuh Anaya turun dari tempat tidurnya,karena rasa ngilu dan nyeri masih terasa di paha Anaya, akhirnya Anaya harus menggunakan kursi roda untuk sementara waktu.
Wijaya mendorong kursi Anaya sampai kedepan Pintu kamar rawat pelayan Rumah itu, Anaya masuk bersama ibunya,pelayan itu nampak berlinangan melihat kondisi Anaya datang dengan kursi roda.
"Nyonya! kenapa dengan kaki nyonya?"
"Saya tidak apa-apa bi, bibi tidak perlu panik saya hanya masih merasa ngilu saja jadi saya memakai kursi roda"
"Maafkan saya nyonya saya tidak sengaja memukul paha nyonya.!"
"Tidak perlu minta maaf bi, itu kan hanya diluar rencana bibi bukan sebuah kesengajaan!"
"Tetap saja nyonya saya merasa bersalah terhadap nyonya!"
"Jangan begitu bi, justru bibi adalah pahlawan bagi kami, karena bibi akhirnya laki-laki itu bisa pergi tanpa sempat memperkosa Anaya!"
Ucap Ibu Anaya sambil tersenyum dan memegang tangan pelayan itu.
Usai menemui Pelayan rumahnya, Anaya berpamitan dan langsung pulang kerumahnya, untuk sementara waktu Anaya ditemani oleh Ayah dan Ibunya.
__ADS_1
Bersambung...