
Pramono menarik tangan Anaya dengan kasar memaksa Anaya bangkit dari duduknya, namun sekuat tenaga Anaya meronta sehingga Pramono berusaha mendaratkan kembali sebuah tamparan di pipi Anaya, Anaya memejamkan mata sembari berteriak.
Tiba-tiba Brugggghhh!!!
Pramono terlempar ke jalanan karena tendangan Wijaya.
Sementara Ibu dan Ayah Anaya berlarian menghampiri Anaya.
"Bawa Anaya kedalam mobil bu!"
Seru Wijaya pada calon mertua nya.
Ibu Anaya hanya mengangguk kemudian membawa Anaya kedalam mobil.
"Sayang kamu tidak apa-apa?"
"Naya takut bu Naya takut!"
Histeris suara Anaya membuat hati Ayah dan Ibunya pilu.
"Ayah cepat segera hubungi kantor polisi mungpung Pramono masih bisa di tahan oleh Nak Wijaya!"
"Iya bu sebentar."
Ayah Anaya mengetik no telpon darurat kepolisian.
"Selamat siang kantor polisi disini ada yang bisa saya bantu?"
"Halo pak ada kasus penculikan serta penganiayaan menimpa anak saya pelaku sekarang sedang coba di tahan oleh menantu saya.!"
"Baik pak kami akan segera kesana segera, bapak silahkan kirimkan alamat tempat kejadian kepada saya!"
"Siap pak!"
Ayah Anaya mengedarkan pandangan mencari-cari alamat tempat dia berdiri saat ini sampai akhirnya memilih balai kota sebagai patokan.
Anaya menangis histeris di pelukan ibunya.
"Sudah sayang kamu sudah aman!"
"Ibu Anaya takut sekali!"
"Sabar sayang...!"
Wijaya masih berkelahi bersama Pramono beberapa saat kemudian Polisi datang Pramono mulai kehilangan konsentrasi dan langsung mencoba lari mendengar sirine, namun Wijaya mencoba menghalangi nya meski dengan tertatih...
Hingga akhirnya Polisi berhasil memborgol Pramono.
"Sebaiknya anda juga ikut kami ke kantor polisi!"
"Baik pak!"
Wijaya di bantu berdiri oleh Ayah Anaya, dan masuk kedalam mobil.
"Biar ayah saja yang nyetir Nak Wijaya duduk di belakang saja!"
"Baik ayah!"
Wijaya duduk di samping Anaya, sementara Anaya masih tersedu" menangis.
"Sayang kamu gak papa?"
"Mas...!"
Anaya menghamburkan tubuhnya ktubuh Wijaya, dengan menahan sakit Wijaya memeluk Anaya.
"Kamu baik-baik saja kan sayang?"
__ADS_1
"Naya takut mas.!"
"Kamu tenang ya, kamu tenang sekarang kamu tidak perlu takut lagi Pramono sudah di bawa ke kantor polisi!"
Ibu Anaya membukakan minum untuk Anaya dan memberinya minum.
"Minumlah sayang, supaya kamu bisa lebih tenang!"
Anaya meraih botol air yang disodorkan ibunya dan meneguknya hingga habis.
"Sekarang kamu coba tarik napas lalu buang perlahan!''
Anaya mengikuti saran ibunya, namun tetap saja resah dan kepiluan hatinya tidak bisa hilang begitu saja.
"Sayang kita ke kantor polisi, kamu harus bisa memberikan laporan dan kesaksian serta sebagai korban, kamu bisa?"
"Anaya akan berusaha mas!"
"Baguslah, sekarang kamu harus mencoba untuk tenang ya!"
Anaya mengangguk pelan, Wijaya memegangi tangan Anaya dan mengelus-elus nya.
Anaya menyandarkan kepalanya di bahu Wijaya dan Wijaya mengelus kepala Anaya dengan tangan kirinya.
Sesampainya di kantor polisi.
Pramono menatap liar kearah Wijaya.
Anaya berdiri di belakang Wijaya seolah-olah merasa sangat takut pada Pramono.
"Silahkan duduk disebelah sini pak!"
Seorang polisi penyidik mempersilahkan Wijaya dan keluarga Anaya untuk duduk.
Saat Wijaya dan Anaya dimintai keterangan Pramono menjadi brutal mendengar semua penjelasan Wijaya dan Anaya.
"Diam kamu ********!"
Wijaya angkat bicara sembari reflek berdiri dan menunjukan telunjuknya pada Pramono.
"Apa kamu berani? sini lawan saya!"
"Tenang!!! harap tenang, ini kantor polisi bukan terminal,silahkan kalian duduk kembali!"
Anaya menarik tangan Wijaya untuk duduk di sisi nya, Anaya menatap Wijaya dengan mata yang sembab lalu menggelengkan kepala.
Wijaya duduk disisi Anaya kemudian menggenggam tangan Anaya.
"Tuan Pramono anda akan kami tahan dengan tuduhan penculikan dan pelecehan seksual!"
"Tidak bisa seperti itu pak, mana buktinya kalau saya menculik perempuan ****** itu?"
"Silahkan tuan Pramono panggilkan pengacara Anda untuk pembelaan!"
Pramono menggebrak meja dihdapanya, kemudian seorang polisi membawa Pramono ke ruang penahanan.
"Sayang mari kita pulang.!"
Anaya mengangguk perlahan
"Kali ini Pramono benar-benar keterlaluan, orang seperti dia benar-benar harus diberi pelajaran.!"
"Tidak perlu lagi Ayah sebentar lagi dia juga akan menerima semua buah dari perbuatan ya terhadap keluarga kita!"
Tegas Wijaya pda Ayah Anaya.
"Iya Ayah, yang terpenting anak kita sekarang sudah kembali dengan selamat!"
__ADS_1
Pungkas Ibu Anaya.
Sepanjang perjalanan Pulang Anaya tertidur di bahu Wijaya, melihat wajah calon istrinya yang lebam-lebam membuat Wijaya semakin marah pada dirinya sendiri,Wijaya masih tetap merasa semua ini terjadi karena dia tidak mengantarkan Anaya pada malam itu sampai kedalam rumah.
"Nak Wijaya, sudah, tidak perlu dipikirkan lagi!."
Ibu Anaya menatap kearah Wijaya yang sedari tadi menatap Anaya terus menerus.
"Betul nak Wijaya, setiap orang pernah melakukan kesalahan, tapi tidak perlu dipikirkan lagi.!"
Wijaya hanya terdiam bagaimanapun hati kecilnya menolak untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri.
"Maafkan mas sayang... bagaimanapun kondisi kamu saat ini semua karena kelalaian mas,mas janji tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi!"
Mobil pun melaju kearah rumah Anaya,sesampainya di rumah Anaya sudah di sambut oleh Bi Inah pembantu baru di rumahnya.
"Bi cepat panggilkan dokter Reyhan!"
Wijaya memerintah pda Bi Inah.
melihat kondisi Anaya yang lebam-lebam pipinya,Bi Inah tidak banyak bicara dan langsung menelpon dokter Reyhan.
Anaya di bopong kedalam kamar oleh Wijaya di antar ibu dan Ayahnya.
"Sayang kamu istirahat dulu ya sebentar lagi dokter Reyhan akan datang!"
"Mas jangan tinggalkan aku, aku mohon aku masih takut!"
"Sayang, ibu akan menemani kamu disini sementara biarkan Nak Wijaya membersihkan dirinya!"
Anaya melepaskan tangan Wijaya perlahan-lahan.
Wijaya keluar dari kamar Anaya untuk membersihkan diri, usai membersihkan diri Wijaya berpapasan dengan Dokter Reyhan yang baru saja keluar dari kamar Anaya.
"Gimana kondisi Anaya Rey...?"
"Dia sudah baik-baik saja, hanya perlu istirahat nanti juga akan baikan!"
"Syukurlah..."
"Aku sudah memberikan obat penenang pada Anaya dia akan segera lebih baik setelah obatnya bereaksi!"
"Terimakasih Rey!"
"Iya tak perlu sungkan...!"
"Aku antar kamu sampai depan rumah ayo!"
"Tidak perlu, kamu temani saja Anaya di dalam kamar.!"
"Benar tidak apa-apa?"
"Sungguh aku bisa jalan sendiri!"
"Ya sudah kamu hati-hati dijalan ya!"
"Ok, aku pergi dulu ya!"
Wijaya mengangguk sambil tersenyum kemudian menuju ke kamar Anaya.
"Anaya sedang tidur, Nak Wijaya temanilah disini Ibu dan Bapa akan pergi untuk membersihkan diri!"
"Baik bu!"
Wijaya duduk di kursi sebelah tempat tidur Anaya sembari mengelus-elus rambut Anaya, Wijaya sesekali mencium kening Anaya.
"Sayang maafkan mas, mas mohon ampuni mas...!"
__ADS_1
Wijaya menatap ke arah wajah Anaya dengan pilu...