
Anaya masuk kedalam restoran dan melihat tempat Pramono dan Rania makan,mereka terlihat tengah menikmati makanannya dengan penuh kemesraan,Anaya semakin tidak tahan melihat tingkah laku mereka yang makan sambil penuh kemesraan, saat Anaya akan melangkah melabrak mereka, dari belakang Wijaya meraih tangan Anaya dan Anaya berbalik melihat Wijaya Seketika Wijaya langsung menggelengkan kepala,seolah berkata "Jangan"!
Wijaya mengambil Hp dari saku menghidupkan Kamera Hp, kemudian memotret beberapa kali kemesraan Pramono dan Rania, kemudian menarik lengan Anaya.
"Mas sarankan jangan disini ini tempat umum reputasi keluarga kalian akan dipertaruhkan"
"Biarkan Naya menghampiri mereka mas, Jika Naya tidak memergoki mereka Mas Pramono akan berdalih terus!"
Anaya menepis tangan Wijaya kemudian masuk kembali kedalam restoran,Wijaya memperhatikan dari kejauhan dengan hati penuh kecewa dan hancur, bagaimana tidak perempuan yang diharapkan selama ini ternyata istri dari sahabatnya sendiri dan sekarang dia tengah terluka oleh sahabatnya.
"Mas!"
Ucap Anaya menatap Pramono yang tengah duduk berpegangan tangan dengan Rania, Pramono langsung melepaskan tangan Rania dan berdiri gelagapan melihat Anaya.
"Sa...sayang"
"Terimakasih mas!"
Ucap Anaya kemudian berlalu keluar dari restoran dengan air mata berlinangan,Pramono berlari keluar menyusul Anaya, namun Anaya sudah berada didalam mobil menangis tersedu-sedu di samping Wijaya.
"Apa yang harus aku katakan untuk menghiburmu Nay,kenapa begitu pahit kehidupan kita saat ini"
Wijaya refleks membuat kepala anaya bersandar di bahu nya dan mengelus-elus rambut lembut Anaya.
"Menangis saja tumpahkan semuanya, jangan ragu"
Ucap Pramono sembari terus mengelus kepala Anaya.
"Pak kita jalan"
"Mas antar kamu pulang"
Anaya hanya mengangguk pelan.
"Jangan terburu-buru mengambil keputusan pikirkan dengan kepala dingin, kalau dia bisa membuat hidupmu hancur, kamu juga bisa Nay, bijaklah dalam berpikir"
__ADS_1
Anaya tidak menimpali ucapan Wijaya tapi benar memikirkan ucapan Wijaya. Entah kenapa tiba-tiba tersirat dalam benak Anaya untuk menyetujui Permintaan mertuanya menggantikan posisi Pramono di perusahaan.
Sesampainya di halaman rumah Anaya mengusap air matanya kemudian turun.
"Terimakasih mas atas tumpangannya"
Wijaya hanya tersenyum dan mengangguk, Anaya menutup pintu mobil dan berjalan masuk kedalam rumah.
"Naya dari mana saja, selarut ini baru pulang? di antar siapa?"
"Naya sudah memikirkan semua yang Ibu dan Ayah tawarkan pada Naya, dan Naya setuju bu"
"Sungguh?"
Anaya mengangguk
"Syukurlah kalau begitu besok kita adakan rapat pertemuan di kantor"
"Iya bu, Naya pamit ke kamar dulu"
Anaya Mengangguk dan bergegas ke kamar, lagi-lagi dikamar Anaya kembali menangis sejadi-jadinya.
Beberapa saat kemudian terdengar samar-samar suara ketukan pintu dari luar kamar.
"Sayang ini mas tolong buka pintunya,kita perlu bicara,mas bisa jelaskan semuanya"
Tidak ada jawaban dari dalam, hanya terdengar isak tangis pilu saja.
"Nay tolong buka nay!"
Pramono terus menggedor pintu kamar namun nihil tetap tidak ada jawaban.
"Nay...buka Nay!, Kalau kamu tetap tidak mu buka pintu mas akan mendobrak pintu ini!"
"Pram...apa-apaan kamu ini kenapa berisik sekali, lalu dari mana saja kamu selama ini?"
__ADS_1
"Sudahlah bu nanti saja Pram jelaskan, sekarang ada hal lain yang lebih penting yang harus Pram selesaikan!"
"Apa maksud kamu masalah ap?"
Tanpa menimpali pertanyaan ibu nya Pramono terus menggedor pintu kamar.
"Cukup Pram apapun masalahnya kamu lebih baik biarkan Anaya istirahat dan tenang dulu malam ini,kamu tidur dikamar tamu saja malam ini!"
"Tapi bu pram..."
"Diam Pram pergi sekarang ke kamar tamu,kita perlu bicara besok!"
Pramono terdiam kemudian pergi kearah kamar tamu,Ibu Pramono mengikuti dari belakang sampai Pramono masuk kedalam kamar.
"Ingat kamu jangan memaksa Anaya untuk keluar malam ini, walaupun ibu belum tahu apa masalahnya tapi ibu minta kamu istirahat dengan tenang malam ini."
"Baik bu"
Ibu Pramono menutup pintu kamar, Pramono nampak gusar memikirkan apa yang akan terjadi besok.
"Alasan apa yang bisa aku ucapkan besok pada Anaya,sial kenapa malah ketahuan,tapi bukankah ini saat yang tepat untuk ku bercerai dengan Anaya lalu menikah dengan Rania,hahah benar kenapa juga aku harus repot-repot memikirkan besok,akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak mulai malam ini."
Pramono menjatuhkan tas yang di gendongnya kemudian menjatuhkan tubuhnya keatas kasur,senyum liciknya tersungging dari bibir nya...
Sementara di kamar lain Anaya tengah berada dalam kehancuran hati.
"Kenapa mas, kenapa? salah apa aku ini,kurang apa mas?"
seribu pertanyaan berkecambuk dalam hati dan pikiranya,ditengah tangis pilunya tiba-tiba terlintas dalam benak Anaya ucapan Wijaya.
"Mungkin begitu lebih baik!"
Desah Anaya menghapus air matanya,meski tetap dalam hatinya terasa amat hancur namun Anaya akan berusaha tetap kuat...
Bersambung...
__ADS_1