
Anaya bergegas turun dari tangga dan keluar rumah,diluar rumah sudah ada taxi online menunggu yang sebelumnya sudah di pesan oleh Anaya.
"Maaf Pak menunggu lama"
Ucap Anaya sembari memasang sabuk pengaman nya.
"Tidak Nyonya, kita langsung berangkat sekarang?"
"Iya langsung saja pak"
Perjalanan dari rumah kebandara memakan waktu kurang lebih 40 menit jika rute jalanan lancar.
"Pak agak cepat sedikit karena saya lupa bertanya pukul berapa suami akan mendarat di bandara"
"Sebaiknya nyonya telpon dan tanyakan pukul berapa suami nyonya akan mendarat"
"Tidak pak saya ingin memberi kejutan menjemput dia dibandara"
"Baiklah Nyonya"
Mobil melaju di jalanan yang lenggang dengan kecepatan 80 Km/Jm. Rasa khawatir Anaya terlihat jelas di raut wajah nya, sesekali Anaya melirik jam ditangannya dan melihat keluar jendela.
"Bagaimana jika mas pram sudah mendarat?,bagaimana jika dia sudah pergi naik taxi. Ah rasanya aku ingat tadi di telpon mas Pram sempat memberi tahu pesawat yang dia tumpangi"
"Nyonya sebentar lagi kita sampai"
Anaya melirik dan mengangguk,segera Anaya menggunakan masker sebelum sampi ke bandara.
"Kita sudah sampai Nyonya"
"Baik Pak, ini ongkosnya terimakasih Pak"
"Baik nyonya"
Anaya menggunakan kacamata hitam dan keluar dari mobil, berjalan menuju pintu kedatangan dan melihat papan informasi.
Ternyata pesawat yang ditumpangi Pramono masih belum mendarat.
"Syukurlah aku bisa bernapas lega"
Estimasi kedatangan pesawat yang ditumpangi Pramono masih 20 Menit lagi Anaya duduk dan menunggu di sekitar Pintu Kedatangan sembari sesekali melihat-lihat orang-orang disekelilingnya, dia tidak ingin terlihat jelas oleh Pramono jika nanti Pramono keluar dari Pintu kedatangan.
15 menit berlalu tiba-tiba sebuah mobil berhenti dan Keluar seorang wanita dari dalam mobil tersebut,Anaya menatap jelas kearah wanita yang baru saja keluar dari mobil itu, perlahan wanita itu berjalan menuju pintu kedatangan kemudian berdiri di antara kerumunan orang yang tengah berdiri menunggu kedatangan orang-orang yang mereka tunggu.
"Rasanya wanita itu tidak asing,tapi siapa?"
Anaya tidak bisa mengenali dengan jelas karena wanita itu menggunakan kacamata hitam, anaya bergeser duduk untuk bisa melihat jelas wanita tersebut, namun masih belum bisa mengenalinya dengan benar.
Tiba-tiba orang-orang mulai keluar dari pintu kedatangan perhatian Anaya teralihkan kepada orang-orang yang keluar dari sana.
"Mana mas Pram ya ko belum keluar juga,,,akhss itu dia"
__ADS_1
Saat Anaya berdiri dan akan memanggil Pramono tiba-tiba ada suara yang memanggil nama Pramono dari kerumunan orang-orang di sebelah Anaya.
"Mas Pramono!, disini!"
Pramono menoleh kearah suara tersebut dan menghampiri wanita tersebut beberapa saat kemudian Wanita itu membuka kacamata hitamnya, mereka saling mencium pipi kiri dan kanan tanpa ragu saling tatap kemudian berbalas senyum.
"Rania! jadi benar Perempuan itu kamu!"
Anaya bergumam dengan kondisi masih tak percaya bahwa suaminya benar-benar telah mengkhianatinya kali ini.
"Jadi ini semua bukan hanya mimpi, mas begitu tega kamu melakukan itu terhadap ku, apa salahku terhadap mu sehingga kau tega melakukan ini mas."
Tanpa Anaya sadari air matanya menetes dibalik kacamata hitamnya, Sementara Pramono dan Rania berjalan kearah mobil, Anaya berlari mencoba menghampiri tanpa memperhatikan kondisi disekitarnya dan akhirnya tanpa sengaja menabrak orang lain yang baru keluar dari pintu kedatangan.
Anya tersungkur dilantai dan terduduk meliarkan pandangan matanya namun Pramono dan Rania sudah pergi dengan mobil yang di tumpangi mereka.
"Nona anda tidak apa-apa?"
Pandangan liar Anaya terkagetkan oleh suara laki-laki yang ditabraknya.
"Suara ini, sepertinya aku mengenalnya"
Anaya melirik ke sebelahnya, dan tertegun melihat laki-laki yang sekarang tengah berjongkok disebelahnya.
"Nona, anda sungguh tidak apa-apa?"
"Mas,,,mas,,, Wijaya!"
Wijaya mengernyitkan alisnya dan menatap Anaya heran seolah bertanya apa kita saling kenal?
Anaya berdiri dan membuka kacamata serta maskernya. Wijaya ikut berdiri dan terkaget ketika melihat wanita yang saat ini berdiri dihadapanya adalah wanita yang selama ini sering dirindukannya, tiba-tiba detak jantung Wijaya berdetak lebih keras dan lebih kencang Wijaya menyentuh dadanya.
"Perasaan ini baru kali ini aku merasakanya, kenapa jantungku begitu kencang berdetak seperti akan copot raaanya inikah cinta itu"
"Maaf mas saya harus segera pergi saya permisi"
Anaya baru saja melangkah tapi Wijaya menahannya dengan mengambil tangan Anaya.
Anaya berbalik badan dan melihat tangan Wijaya tengah memegang tangannya.
"Mas... maaf saya harus segera pergi"
"Ooh ya maaf mas akan antar kamu pulang,lagian kita searah kan"
"Maaf mas tapi saya tidak tinggal di rumah ibu lagi,dan saya harus segera pergi sebelum mereka terlanjur jauh"
"Ya sudah ayo pake taxi yang sudah mas pesan saja"
"Tapi mas..."
"Sudah ayo masuk katanya keburu jauh"
__ADS_1
Anaya mengikuti Wijaya masuk kedalam mobil.
"Maaf Anaya tapi siapa yang akan kamu kejar?"
"Seseorang"
"Pacar?"
"Tidak mas tolong segera kejar mobil warna hitam dengan plat no 221,nanti kamu akan tahu sendiri"
"Baiklah,Pak tolong cepat kejar ya sebelum mobil itu benar-benar keluar dari Bandara"
"Baik tuan"
Anaya melihat kedepan dan kesamping dengan teliti barangkali mereka singgah untuk makan atau semacamnya.
Beberapa saat kemudia mobil yang ditumpangi Pramono dan Rania terlihat ada di arah depan terhalang satu mobil di depan mobil yang ditumpangi Wijaya dan Anaya.
"Itu mobilnya!" seru Anaya sambil menunjuk mobil yang ditumpangi Rania dan Pramono
"Kita kejar pak posisikan di belakang mobil tersebut supaya tidak kesulitan melihat kemana mereka pergi"
"Baik Tuan"
"Bagaimana apa kamu ingin kita menghadang mobil tersebut?"
"Tidak perlu mas kita ikuti saja dulu kemana mereka akan pergi"
"Baiklah"
Beberapa menit berlalu mobil yang ditumpangi Rania dan Pramono berbelok menuju sebuah restoran dan memarkirkan mobil di area parkir restoran tersebut. Mobil yang ditumpangi Anaya dan Wijaya mengikuti dari belakang dan terparkir disebelahnya.
Terlihat Pramono keluar terlebih dahulu dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Rania.
Wijaya kaget ternyata yang diikutinya sedari tadi adalah Pramono sahabatnya sendiri,sekilas terlintas dalam benak Wijaya bahwa perempuan yang keluar dari mobil bersama Pramono adalah istrinya.
"Apa hubungan Anaya dengan Pramono,jangan-jangan Anaya selingkuhan yang selama ini selalu Pramono ceritakan terhadapku"
"Aku harus turun dan melabrak mereka"
"Apa? tu... tu... tunggu apa hubungan kamu dengan mereka?"
Wijaya berpura-pura tidak mengenali Pramono di hadapan Anaya.
"Dia suamiku mas!"
Anaya keluar dari mobil dan setengah berlari kearah dalam restoran.
Wijaya tertegun serasa disambar petir rasanya, ternyata kenyataanya lebih pahit dari dugaannya wanita yang selalu dirindukannya adalah istri dari sahabatnya sendiri...
Bagaimana kisah selanjutnya, apa kira-kira yang akan terjadi di restoran itu?...
__ADS_1
Kita tunggu saja 😅..
Bersambung...