
"Selamat Pagi bu, masih pagi kenapa Ibu sudah bangun?"
"Ibu tidak bisa bangun siang kamu tahu sendiri Nay Ibu sudah terbiasa bangun Pagi"
"Hehehe Iya itukan kalau di desa, sekarang kan Ibu sedang di tempat Naya jadi tidak perlu bangun pagi anggap saja ibu sedang liburan disini"
"Iya tidak apa-apa kan liburan tidak mesti harus tiduran,bisa nonton Tv bisa jalan ke lobi hotel,bisa pergi makan"
"Ibu bisa saja hehehe"
"Kamu sudah memikirkan apa yang ibu bicarakan semalam Nay?"
"Sudah Bu"
"Kamu sudah mengambil keputusan?"
"Tentu bu"
"Apa keputusan mu,?"
"Hemhsss"
"Ibu tidak akan memaksa kamu untuk tetap bercerai dengan Pramono apapun keputusan kamu Ibu akan tetap mendukung, Ibu sudah memikirkannya semalaman tidak seharusnya Ibu memaksa kamu lagi Untuk berpisah dengan Pramono setelah semua yang sudah Ibu lakukan terhadap kamu rasanya Ibu sudah tidak Berhak lagi memutuskan jalan Masa depan kamu Nay"
"Ibu... bagaimanapun tidak akan ada orang tua yang menginginkan anaknya menderita setiap orang tua pasti ingin anaknya bahagia, Naya kan sudah bilang semua yang terjadi kepada Naya bukan kesalahan Ayah dan Ibu apalagi Akila"
"Tetap saja Nay..."
"Ibu Naya mohon, sudah cukup menyalahkan diri Ibu dan Ayah, Naya percaya ini semua sudah menjadi Takdir Naya sejak Naya dilahirkan ke dunia,tugas Naya hanya menjalani dan mensyukurinya"
"Rasanya baru kemaren kamu Ibu lahirkan tapi saat ini kamu sudah menjadi perempuan yang dewasa dan kuat"
"Semua ini berkat didikan ibu dan Ayah"
Anaya tersenyum menatap Ibunya yang tengah duduk di Tempat tidur.
"Kila bahagia bisa memiliki Kakak yang begitu kuat dan Ibu yang begitu hebat"
"Yehhh dia nguping kirain masih tidur tahunya nguping dari tadi"
"Enggak ko aku cuman denger sedikitttt aja"
Mereka bertiga tertawa cekikikan
"Nay kenapa kamu belum siap-siap ke kantor?"
"Naya memutuskan untuk ambil cuti selama Ibu dan Akila di sini"
"Kenapa?, Kamu tidak perlu sampai ambil cuti begitu Ibu dan Akila kan bisa tunggu di hotel selama kamu kerja"
"Tidak apa-apa bu lagian kan ini pertama kali ibu dan Akila datang menemui Anaya di kota, lagian masa iya keluarga datang jauh-jauh Anaya masih sibuk kerja"
"Horeeee berarti hari ini kita jalan-jalan lagi dong kak?"
Anaya mengangguk pelan sambil tersenyum
"Kita mau pergi kemana kak?"
"Nanti kakak kasih tahu kalau Akila sudah siap pergi"
"Kalo gitu Akila mandi dulu ya"
__ADS_1
"Ya sudah mandi sana bau asem, masa ada perawan bau asem sih hahah"
"yey wangi begini dibilang bau"
"Iya wangi air liur hahahah"
"Tuh kan bu kakak mulai lagi"
"Ih ngadu coba udah segede gitu juga masih aja ngadu ke orang tua dasar bocah hahhah"
"Sudah-sudah pergi mandi sana Akila katanya mau pergi jalan-jalan"
"Kalau kamu ga siap-siap ga jadi lah kita perginya hahah"
"Iya iya kakak bawelll"
Anaya dan Ibu nya tersenyum melihat kelakuan anak bungsunya yang sudah duduk di bangku SMA tapi prilakunya masih seperti anak kecil sangat manja.
"Bu Naya sudah mengambil keputusan"
"Hemhsss"
"Naya akan pergi kepengadilan hari ini untuk menggugat cerai Mas Pramono"
"Kamu sudah memikirkan masalah ini dengan baik?"
"Tentu bu, apa yang ibu katakan kepada Naya tadi malam memang benar adanya"
"Syukurlah,bagaimana dengan perusahaan?"
"Naya sudah menelpon Ibu dan Ayah mertua tadi Pagi, dan mereka menyerahkan seluruh keputusan kepada Naya."
"Baiklah ibu akan mendukung keputusan kamu ini, yang tegar Nay, kamu pasti kuat"
"Syukurlah Ibu bahagia memiliki anak yang begitu perduli terhadap kehidupan orang lain meskipun kehidupannya sendiri sedang dirundung masalah"
"Terimakasih bu"
"Iya sayang,lalu apa kamu akan tetap tinggal di hotel?"
"Tidak bu setelah proses perceraian selesai Naya akan membeli rumah dekat tempat Naya kerja supaya Pak Nuh bisa pensiun dan tinggal bersama keluarganya didesa"
"Kalau itu sudah menjadi keputusan Naya ibu berharap semua ini menjadi yang terbaik bagi Naya di masa depan"
"Iya bu".
Beberapa saat kemudian...
Semua telah siap untuk pergi, Anaya memutuskan pergi kepengadilan terlebih dahulu pagi ini bersama pengacaranya, setelah proses pengajuan gugatan cerai disetujui dan tanggal persidangan pertama telah ditentukan Anaya menpati janjinya membawa Ibu dan Akila jalan-jalan.
"Pak tolong antar kami ke danau dipinggir kota"
"tentu nona"
Lagi-lagi Anaya pergi ketempat dimana dulu dia dan Wijaya sering menghabiskan waktu, sesampainya di danau Anaya melihat-lihat sekeliling dan mengajak Akila serta Ibunya untuk makan di tempat biasa Anaya dan Wijaya makan.
"Sebenarnya setiap kali aku mendatangi tempat-tempat yang biasa kita datangi, itu hanya untuk mengobati rasa rinduku padamu saja mas,aku selalu berharap kita bisa bertemu ataupun hanya sekedar melihatmu dari kejauhan mas"
"Nay kenapa ko malah bengong?, itu makanannya kenapa tidak dimakan?"
"Iya kakak nanti keburu dingin"
__ADS_1
"Emhsss tidak apa-apa tadi Naya cuman menikmati pemandangan disini saja"
Anaya langsung melahap habis makanan di hadapanya, dengan mata yang masih berkeliaran kesana-kemari tatapanya seolah-olah mengandung harapan yang begitu besar....
"Setelah ini kita akan kemana kak?"
Pertanyaan Akila membuyarkan harapan Anaya.
"Kita pulang saja,kasihan kakak mu sudah kesana kemari pasti dia lelah"
"Yah ibu"
"Kita ke tempat Spa saja sekalian relaksasi disana"
"Beneran kak?, aku boleh medipedi?"
"Tentu apa sih yang enggak buat adik kakak Akila yang bawelll ini"
"Yes...yes...,terimakasih kakak"
"Iya.."
Setelah selesai makan mereka berjalan-jalan sebentar dan membeli beberapa supenir di toko sekitar danau kemudian pergi ke tempat spa...
Seusai Spa mereka memutuskan untuk makan malam di restoran sekitar hotel supaya bisa langsung pulang dan istirahat.
"Pak Nuh, mari makan sama-sama, bapak pasti lapar seharian sudah mengantar kami kebanyak tempat"
"Terimakasih nona tapi saya tidak bisa..."
"Akila"
Anaya melirik adiknya kemudian mengedipkan mata, Akila langsung menghampiri pak nuh dan menariknya masuk kedalam restoran sementara dibelakang Anaya dan ibunya tersenyum melihat kelakuan Akila.
Mereka makan bersama sambil sesekali tertawa ringan.
"Sudah larut sebaiknya kita pulang"
Ibu Anaya mengusulkan
"Benar kata ibu, Pak!, bapak boleh langsung pulang dan istirahat malam ini"
"Tapi nona..."
"Sudah pak lagian kan deket ini nanti kami bisa jalan kaki sambil menghirup udara segar"
"Iya pak bapak pulang saja lagian kan kami bertiga"
Ibu Anaya menguatkan usulan Anaya agar Pak Nuh pulang cepat.
"Baiklah terimakasih nona saya permisi"
"Saya yang terimakasih karena pak Nuh sudah mau mengantar kami kesana-kemari"
"Tidak perlu nona, itu semua sudah menjadi kewajiban saya"
Anaya tersenyum mendengar jawaban Pak Nuh
"Saya permisi nona"
Anaya mengangguk kemudian berjalan kearah hotel bersama adik dan Ibunya...
__ADS_1
Rasa rindu memang tidak kenal ruang waktu dan status, semoga kalian yang belum bersatu segera Allah persatukan...
Bersambung...