
Sepekan sudah kehadiran Pramono dan Istri Mudanya Rania di rumah,selama itupun Anaya memilih tinggal di hotel ketimbang harus tinggal seatap dengan mereka dan menyaksikan kemesraan mereka berdua, bagaimanapun Anaya masih belum siap jika harus menerima kenyataan tidur seatap dengan madu nya...
Tanpa sepengetahuan Anaya Ibu dan adiknya memutuskan berkunjung dan memberi surprise untuk Anaya...
Tok...!
Tok...!
Tok...!
Pelayan rumah menghampiri pintu dan sangat terkejut melihat siapa yang datang.
"Nyonya sepuh!"
"Bibi apa kabar?"
Sapa Ibu Anaya sambil bersalaman dengan Pelayan tersebut.
"Siapa yang datang Bi?"
Teriak Pramono dari meja makan.
"Anu nyonya..."
"Siapa?"
Ibu Anaya dan Adiknya masuk mengikuti Pelayan yang berjalan didepan mereka,sesampainya dimeja makan Pramono tercengang melihat ibu mertuanya datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu.
"I...i...ibu...!"
"Apa kabar kamu Nak?"
"Euuu euuuu ba... ba... baik bu"
"Syukurlah,Anaya mana,ko gak ikut sarapan,siapa gadis ini?"
"Mas siapa sih ibu tua ini?"
Tanya Rania kecut
"Ini....ini... Ibunya Anaya"
"Oh Ibu Maduku "
"Maksud kamu maduku?"
Tanya ibu Anaya penasaran pada perkataan Rania sementara Pramono masih belum bisa bicara apa-apa.
"Ada apa ini nak Pram,coba jelaskan maksud dari perkataan perempuan ini!"
"Ibu biar saya saja yang jelaskan ya, Saya adalah istri muda Mas Pram!"
"Apa....!!!"
Rania menghampiri Pramono kemudian menggandeng tangannya dan bersandar di bahu Pramono
"Nak Pram, apa yang dikatakan Perempuan ini benar?!"
Pramono hanya tertegun, sampai Akhirnya Rania menepuk Bahu Pramono.
"Mas Jawab dong jelaskan pada Ibu mertua kamu ini tentang kita!"
"Euuuu... euuuu iya Bu Ini Rania Istri muda Pramono!"
"Keterlaluan sekali kamu Pramono!"
"Sudahlah bu, Pramono sudah tidak mencintai anak ibu makanya Pramono menikah lagi sama perempuan yang lebih muda,cantik dan seksi seperti Rania!"
"Dimana Anaya?!"
"Tidak tahu!"
Jawab Pramono datar
__ADS_1
"Katakan dimana Anaya!, keterlaluan sekali kamu Pram, keterlaluan"
Ibu Anaya mengomel pada Pramono perasaannya sebagai seorang ibu tidak bisa menerima kenyataan anaknya di sia-siakan.
Plakkkksss!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Rania.
"Kamu rasakan kemudian ingat ini, rasa sakit ini tidak akan pernah sebanding dengan rasa sakit anak saya!"
"Bu apa-apaan ibu Ini ibu tidak berhak menampar istri saya sebaiknya ibu keluar dari rumah kami dan silahkan cari anak ibu kemana pun terserah!!!"
"Benar-benar kamu Pram, jangan mentang-mentang kami orang tidak berpunya kamu bisa seenaknya menginjak-injak kami!"
"Satpam!...Satpam.! Bi Panggilkan satpam suruh usir mereka berdua!"
"Tidak perlu bi kami bisa pergi sendiri."
Ibu dan Adik Anaya keluar dari rumah sambil menghapus air mata mereka.
Dari luar gerbang rumah Pak Nuh nampak menghampiri mereka berdua.
''Nyonya Sepuh!"
"Pak Nuh, dimana Anaya Pak!"
"Nyonya sepuh mari ikut saya, akan saya antar nyonya sepuh ketempat Nyonya Anaya"
Sepanjang perjalanan Pak Nuh menceritakan semua kejadiannya dari awal sampai akhir tanpa ada yang tersisa sedikitpun.
"Lalu bagaimana keadaan Anaya saat ini?"
Tanya Ibu Anaya penuh kekhawatiran
"Nyonya Anaya Baik-baik saja saat ini, nyonya Anaya adalah sosok perempuan yang tangguh dia tidak pernah memperlihatkan air matanya kepada siapapun meski sebenarnya saya tahu pasti bahwa hatinya sangat hancur"
"Anaya kenapa kamu nak kenapa tidak pernah cerita kepada ibu".
Ibu dan Akila menunggu beberapa saat di lobi hotel sampai kemudian pak Nuh datang mereka menuju ke kamar Anaya.
Sesampainya didepan Pintu kamar Anaya, Pak Nuh mengetuk pintu,Saat Anaya membuka pintu Ibu dan Adiknya berhamburan memeluk Anaya sambil menangis,melihat kejadian tersebut Pak Nuh membungkukkan badan kemudian Pergi dari tempat tersebut...
Tanpa diceritakan pun Anaya sudah paham betul bahwa Ibu dan Adiknya mengetahui semua yang terjadi.
"Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dari Ibu Nay?"
"Iya kak kenapa kakak tidak cerita kepada kami tentang hal ini kak?"
"Anaya minta maaf, Anaya tidak sanggup jika melihat ibu menangis karena kehidupan Anaya, seharusnya Anaya bisa membuat ibu bahagia bukan malah menangis seperti ini"
"Tetap saja kak, Ibu dan Aku merasa terpukul melihat Mas Pramono dan Istrinya dirumah tadi bahkan mereka...."
Belum sempat adik Anaya melanjutkan ceritanya Ibu Anaya memegang Paha Anaknya dan menggelengkan kepala, melarang adiknya untuk menceritakan kelakuan kasar Pramono terhadap mereka berdua.
"Ibu, Pasti Ibi dan Akila cape sebaiknya ibu dan Akila mandi kemudian istirahat nanti Naya pesankan makan untuk Ibu dan Akila, nanti saat jam makan siang Pak Nuh akan menjemput Ibu dan Akila, nanti kita makan sama-sama dan jalan-jalan ya"
"Pergilah nak hati-hati dijalan"
Anaya mencium ibu dan Adiknya kemudian bergegas turun kelobi...
Didalam mobil...
"Pak apa yang sebenarnya terjadi di rumah tadi?"
Pak Nuh menceritakan semuanya sesuai Informasi yang di dapat dari Pelayan di Rumah Pramono.
"Benar-benar Mas Pram."
"Tenangkan diri Nyonya"
"Saya bisa tenang ketika mereka mencaci maki saya pak tapi akan jadi lain cerita jika Ibu dan Adik saya yang di injak-injak mereka"
"Saya tahu nyonya,tapi saat ini kendali ada ditangan nyonya mereka saat ini ibarat debu di telapak tangan nyonya,jika nyonya mau nyonya bisa menghembuskan mereka dan mereka akan hancur berantakan hanya dalam hitungan detik"
__ADS_1
"Saya Paham maksud Pak Nuh,tapi saya tidak akan merasa baik-baik saja setelah mereka hancur jika saya menggunakan kekuasaan saya untuk menghancurkan mereka,Saya ingin hidup saya tentram dan tenang seperti dulu lagi pak"
Pak Nuh tersenyum puas mendengar jawaban dari majikanya.
"Pak nanti tolong jemput Akila dan Ibu saat jam makan siang, saya ingin mengajak mereka jalan-jalan untuk mengurangi kekecewaan mereka"
"Tentu nyonya"
Anaya meminta sekertaris baru nya mengcancel jadwal meeting setelah jam makan siang untuk hari ini,setelah semua pekerjaanya selesai Anaya pergi kesebuah Mall yang dulu biasa di kunjunginya bersama wijaya,sambil menunggu Adik dan Ibunya datang Anaya memilih tempat duduk yang biasa dia duduki bersama wijaya dulu...
Anaya melihat sekelilingnya tersenyum melihat kenangan massa lalunya melintas dalam benaknya.
"Betapa bahagianya aku dulu saat bersamamu mas, akumasih selalu berharap kita berjodoh mas meskipun itu dikehidupan kita selanjutnya"
Anaya menatap cincin yang diberikan Wijaya di jari manisnya. Dari kejauhan terdengar suara adik anaya memanggilnya...
"Kakak!"
Anaya melambaikan tangan dari temat duduknya, Ibu dan Akila tersenyum menghampiri Anaya.
"Nah sekarang Ibu sama Akila pilih mau makan apa!"
Mereka memesan makan dan minum selesai makan Anaya mengajak Adik dan Ibunya berbelanja Pakaian sepatu dan keperuan sekolah adiknya, selesai belanja mereka pergi kebioskop untuk nonton comedy...
"Wah Filmnya seru banget kak"
"Iya, sekarang waktunya kita pulang"...
Anaya nampak bahagia melihat wajah Ibu dan adiknya sumringah meskipun Anaya tahu dibalik senyuman Ibunya tersimpan juttaan pertanyaan dan kepedihan, sesampainya dihotel mereka membersihkan diri dan beristirahat sambil nonton tv.
"Nay apa kamu sudah bercerai dengan Pramono?"
Tanya ibu Anaya sambil menatan wajah Anaya dalam-dalam
"Belum bu"
"Kenapa?"
"Anaya tidak tahu bu, Naya bingung"
"Apalagi yang bisa diharapkan dari laki-laki seperti dia,kamu juga berhak bahagia Nay, jangan takut miskin,lebih baik miskin tapi dihargai daripda bergelimangan harta tapi diinjak-injak seperti ini"
"Ibu perusahaan ini sudah menjadi milik Naya, Ibu dan Ayah mertua sudah melimpahkan semuanya kepada Naya"
"Semua itu untuk membayar seluruh sikap dan perlakuan Pramono kepada kamu Nay!"
"Naya paham bu"
"Lantas apalagi yang kamu tunggu?"
"Apa yang harus naya perbuat kali ini bu?"
"Gugat cerai saja Pramono, Ibu tidak rela Anak yang sedari lahir Ibu dan Ayah utamakan kebahagiaanya, dihancurkan hatinya oleh laki-laki seperti dia,Ibu tahu dulu Ibu dan Ayah memaksa kamu menikah dengan dia, Ibu minta maaf Nay semua kesalahan Ibu dan Ayah terlalu memikirkan diri sendiri"
"Maafkan Akila kak,semua ini karena Ibu dan Ayah terlalu mekirkan masa depan Akila akhirnya mengorbankan Kebahagiaan kakak"
"Sudah-sudah tidak perlu merasa bersalah begitu, Bagaimanapun membahagiakan Ibu dan Ayah adalah kewajiban Anaya sebagai anak pertama begitu juga dengan menjamin masa depan kamu Akila"
Ibu dan Adik Anaya berhambur memeluk Anaya.
"Begitu tegar kamu Nak menghadapi kepelikan hidup ini,maafkan ibu, Ayah dan adikmu"
"Sebaiknya kita istirahat sudah larut"
"Selamat malam kak"
"Selamat malam juga Ibu dan Akila"
Ibu Anaya mencium kening Anak-anaknya kemudian berbaring di antara mereka ...
Selamat malam selamat beristirahat Anaya,,,Jiwamu terlalu lelah menghadapi semua kepelikan ini sendirian...
****Bersambung****...
__ADS_1