Bahagia Yang Salah

Bahagia Yang Salah
Penculikan


__ADS_3

Seusai makan Wijaya dan Anaya keluar dari restoran kemudian pergi ke tempat mereka akan fitting baju, sementara Anaya tidak bisa menghilangkan rasa penasaran ya pada mobil yang di tumpangi pria misterius yang sedari tadi terparkir di tempat yang sama meskipun pemiliknya sudah kembali.


Kecurigaan Anaya tercium oleh Pramono.


"Gawat sepertinya Anaya mulai curiga dengan kejadian-kejadian konyol diluar kendaliku sejak tadi, sepertinya aku harus pergi dari tempat ini dan memantau mereka dari kejauhan!"


Pramono membawa mobilnya menjauh dari lokasi Anaya dan Wijaya.


"Sayang ayo masuk!"


"Emh iya mas!"


Anya menatap kepergian mobil yang dicurigainya kemudian masuk kedalam toko busana khusus pengantin.


Anaya beberapa kali mencoba gaun pengantin yang disukainya. Wijaya selalu menatap penuh dengan ketakjuban, sesaat Anaya lupa akan hal yang dikhawatirkan dan terasa aneh hari ini.


"Gimana mas?"


"Bagus banget pokonya kalau kamu yang pakai pasti bagus!"


"Gombal lagi!"


"Serius sayang, kamu suka sama yang ini?"


"Iya mas diantara gaun-gaun yang lain yang ini terlihat lebih elegan dan sejuk dipandang mata."


"Ya sudah mas ikut saja sama kamu."


"Makasih mas!"


Seusai memfitting baju Anaya dan Wijaya berencana untuk pulang.


"Rencana kita hari ini sudah selesai, sebaiknya mas antar kamu pulang biar kamu bisa istirahat buat pemotretan besok!"


"Iya mas, ya sudah ayo pulang."


"Tapi pak Wahyu?"


"Mas sudah menyuruh pak Wahyu pulang sejak tadi kasian kalau lama-lama harus nungguin kan!"


"Emhsss ya udah deh ayo"


Seperti biasa Wijaya selalu membukakan pintu untuk Anaya terlebih dahulu, baru setelahnya dia masuk dan menghidupkan mesin mobil.


"Kenapa sabuk pengaman ya tidak dipakai sayang,nanti kalau ada apa-apa bagaimana?"


"Enggak lah mas Naya yakin selama Naya sama Mas Gaakan pernah terjadi apa-apa pada Naya."


"Memang bandel ya kamu ini!"


Wijaya mengambil sabuk pengaman di kursi Anaya kemudian memasang kan nya, tanpa sengaja Wajah Anaya dan Wijaya bertatapan, sempat-sempatnya Wijaya mencium Anaya.


"Modus banget kan mas ini!"


"Bukan modus itu namanya tapi Bonus hahahah..."


Wijaya memasang sabuk pengamannya.


"Mas...!"


"Apa sayang?"

__ADS_1


"Kapan bibi bisa pulang dari rumah sakit?"


"Mas cuman bisa memastikan kalau saat pernikahan kita bibi sudah pulang dan berkumpul bersama kita lagi."


"Sudah seminggu Naya tidak pernah menjenguk bibi mas."


"Kamu mau kita jenguk bibi?"


"Memangnya boleh mas?"


"loh kenapa enggak,ya sudah ayo kita berangkat sekarang dan mampir di toko buah-buahan, kita bawakan untuk bibi kamu setuju sayang?"


"Iya mas,terimakasih mas!"


Wijaya mengelus-elus kepala Anaya kemudian menghidupkan mobil dan melaju ke arah rumah sakit.


"Sepertinya mereka sudah mau pulang."


Pramono menghubungi para penculik yang sudah disiapkan oleh nya sebelumnya.


"Sasaran sudah menuju ke TKP!"


"Baik bos!"


Pramono mematikan telponnya kemudian melaju mengikuti mobil Anaya dan Wijaya.


Setelah beberapa kilo meter Pramono mengikuti Anaya dan Wijaya, barulah Pramono sadar bahwa ini bukan arah jalan pulang ke rumah Anaya, semakin penasaran Pramono terus mengikuti mobil Anaya dan Wijaya.


"Sebenarnya mu kemana mereka pergi?"


Mobil Anaya dan Wijaya berhenti di sebuah swalayan kemudian Anaya dan Wijaya masuk untuk membeli parcel buah.


Pramono kembali mengikuti mobil Wijaya menuju rumah sakit,dilersimoangan pintu masuk rumah sakit Wijaya menyalakan lampu sen nya dan memasuki halaman parkir rumah sakit.


"Kenapa mereka Kerumah sakit, jangan-jangan Anaya sedang hamil anaknya Wijaya lagi!?"


Pramono tetap mengikuti dati belakang dengan jarak yang tidak terlalu jauh.


"Dokter liana! selamat malam dok."


"Dokter Wijaya."


Wijaya dan liana saling sapa mereka juga teman satu kampus sama seperti Reyhan.


"Sayang ini Dokter liana, dia adalah salah satu dokter spesialis kandungan di rumah sakit ini."


"Hay dokter senang bertemu dengan anda.!"


"Halo nyonya."


Wijaya, Anaya dan Liana berbincang-bincang masalah kandungan.


"Benar-benar gila Wijaya dia sudah lebih dulu menanam benih pada diri Anaya, kamu pikir aku akan melupakan Anaya meski telah tahu dia mengandung anak kamu Wijaya, aku akan menggugurkan kandungan Anaya supaya Anaya akan tetap bersamaku!"


Selesai berbincang-bincang Wijaya dan Anaya menuju ke kamar bibi yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka mengobrol barusan, Anaya dan Wijaya msuk kedalam kamar rawat bibi, disaat yang bersamaan Pramono melirik kearah Anaya dan Wijaya namun Pramono kehilangan jejak Wijaya dan Anaya.


"Sial kemana mereka perginya malah menghilang."


Pramono mengintip satu persatu kamar didalam lorong tersebut, tapi Pramono tidak melihat Anaya dan wijaya berada didalam salah satu kamar di lorong tersebut.


"Sial sebaiknya aku akan menunggu di lobi rumah sakit saja,aku yakin mereka belum keluar dari rumah sakit ini!"

__ADS_1


Pramono turun ke lobi rumah sakit dan menunggu disana.


Beberapa saat kemudian Anaya dan wijaya keluar dari rumah sakit kemudian menuju ke parkiran mobil.


Pramono merasa puas karena akhirnya dirinya tidak kehilangan Jejak Anaya dan Wijaya.


"Sayang karena sudah hampir mau larut sebaiknya kita langsung pulang saja ya, kamu hari ini senang bukan?"


"Tentu mas Naya juga sudah cape rasanya, badan pada pegel-pegel semua."


"Nanti di rumah kamu minta dipijit saja sama mbok Inah!"


Mbok Inah adalah pelayan baru rumh Anaya yang Wijaya carikan melalui yayasan temanya.


Sesampainya di halaman rumah Anaya, Wijaya berniat mengantar Anaya sampai rumah namun Anaya menolak.


"Tidak perlu turun mas, sudah sampai disini saja, lagian mas juga pasti sudah cape!"


"Tapi sayang kalau ada Apa-apa gimana?"


"Ya enggak lah mas kan ini sudah sampai depan rumah."


Anaya turun dari mobil, namun kembali masuk kedalam mobil beberapa saat kemudian.


"Loh ada apa sayang?"


"Ada yang kelupaan mas."


"Loh apa?"


Wijaya mencari kesana sini namun tetap tidak menemukan benda apapun milik Anaya.


"Dimana sayang ko gak ada di mobil?"


"Ada mas.!"


"Mana coba?"


Wijaya menyalakan lampu didalam mobilnya mencari kesana kesini, tiba-tiba Anaya mematikan lampu didalam mobil.


"Kok malah dimatiin sih sayang?"


Wijaya menatao kearah Anaya, dan Anaya mencium bibir Wijaya dengan lembut.


Wijaya tersenyum menerima ciuman tersebut.


Wijaya meraih tangan Anaya kemudian mengecup kening dan bibir Anaya.


Pramono yang melihat kejadian di dalam mobil Wijaya kembali mengngepalkan tangannya.


beberapa menit menunggu akhirnya Anaya keluar dari dalam mobil dan tetap berdiri di depan pintu pagar masuk ke rumahnya, setelah memastikan mobil Wijaya jauh, Anaya berniat masuk kedalam rumah namun dari belakang seorang laki-laki dengan dada bidang dan tinggi bersiap-siap membekam Anaya, Anaya meronta tanpa suara tidak berselang lama tubuhnya terkulai lemas, Pramono melihat kesana kemari memastikan keadaan disekitar lokasi kejadian aman, kemudian mengisyaratkan untuk memasukan Anaya kedalam mobil yang di bawa Pramono...


Setelah mendapatkan Anaya, Pramono membayar orang-orang suruhanya kemudian pergi dari tempat kejadian...


"Sebelum kita pergi jauh, Mas ingin malam ini tidur sambil memelukmu lagi sayang"...


Tawa Pramono memenuhi ruang kosong didalam mobilnya, Pramono memutar lagu-lagu romantis dari mobilnya.


"Bagaimana sayang kamu suka,hahahahh".


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2