
Setahun sejak perpisahannya dengan Pramono Anaya terus melanjutkan hidupnya, satu hal yang masih tak dapat dipungkiri oleh Anaya ingatannya terhadap Wijaya masih terpaku rapi dalam pikiran dan hatinya, Anaya masih selalu mendatangi tempat-tempat yang biasa dulu mereka kunjungi seperti sore ini Anaya tengah menantikan pemandangan matahari terbenam di pinggiran danau ditemani segelas kopi dari restoran di dekat danau.
"Setidaknya aku bisa mengobati rinduku pada mas Wijaya dengan memandangi keindahan di danau ini"
Matahari terbenam begitu indah dengan hiasan warna jingga yang seolah-olah merubah warna air danau.
"Indah sekali,pemandangan ini persis dengan kali terakhir kita mengunjungi tempat ini mas"
Suara dering telpon berbunyi dari dalam tas nya, no baru masuk kedalam panggilan telpon Anaya.
Dengan ragu-ragu Anaya mengangkat telponnya.
"Ha,,ha,,halo..."
Anaya mengangkat telponnya dengan terbata-bata.
"Selamat sore nona"
"Iya sore, maaf ini dengan siapa?"
"Nona tidak mengenali suara saya?"
Anaya tertegun mendengar pertanyaan tersebut.
"Suara ini memang tampak tidak asing, tapi suara siapa?"
"Nona kenapa anda malah bengong?"
"Maksud anda?"
"Bagaimana pemandangan langit senja di tepian danau ini, bukankah sangat indah?"
Tanya laki-laki dari telponnya, Anaya terkejut kemudian melihat kesana kesini menatap orang-orang disekitarnya.
"Anda mencari saya nona?"
"Siapa kamu dan apa mau kamu?!"
__ADS_1
"Saya di sini nona di balik pohon besar tidak jauh di depan anda"
Anaya menatap pohon itu sampai seseorang menggunakan jas warna hitam keluar secara perlahan dari balik pohon sambil tersenyum dan menunjukan handphone nya pada Anaya.
Sementara Anaya nampak kaget seperti percaya tidak percaya melihat laki-laki itu berjalan kearahnya sambil tetap tersenyum.
"Hey,,, hey,,, halo,,,!"
Anaya masih tertegun menatap kearah laki-laki itu.
"Ya ampun mas kira kamu terpesona dengan kedatangan mas sampai bengong segitunya hehehehe"
Anaya masih saja bengong.
"Kamu kenapa sih kaya abis liat hantu gitu banget ekspresinya"
"Mas..."
Wijaya hanya tersenyum dan mengangguk kemudian duduk di kursi sebelah Anaya.
"Setiap kali kamu datang ketempat-tempat dimana dulu kita sering datangi, mas ada di sana juga hanya saja mas tidak berani mendatangimu, mas senang karena ternyata tidak hanya mas yang merindu"
"Maaf mas maafkan Naya dulu naya terlalu egois"
"Tidak, jika mas yang ada di posisi kamu pasti mas juga akan melakukan hal yang sama"
Anaya masih tetap memeluk erat Wijaya...
Wijaya mengelus-elus lembut punggung Anaya.
"Sudah tidak perlu menangis lagi"
Anaya duduk di samping Wijaya.
"Kamu masih pakai cincin ini Nay?"
Pramono merasa bahagia melihat Anaya masih memakai cincin pemberiannya dulu.
__ADS_1
Anaya mengangguk dan melirik tangan Wijaya.
Wijaya tersenyum melihat Anaya respek melihat pergelangan tangannya.
"Kamu tidak perlu khawatir, sejak dulu kamu memakaikan jam tangan ini mas tidak pernah berpikir menggantinya,lagian jamnya bagus mas suka jadi mas terlihat semakin keren kan, hehehehe"
"Jadi gitu, mas ga pernah lepas biar cewek-cewek di sekitar mas melirik gitu?"
"Hahahaha iya mungkin"
"Bener-bener ya sini lebih deket lagi"
Anaya mencubit tangan Wijaya sambil terlihat agak kesal.
"Iya,,,iya,,, aduh ampun beneran, mas bercanda gak beneran hahahaha"
"Bohong!"
"Enggak seriusan bercanda hehehh"
Anaya terus mencubit Wijaya di sana sini sampai Wijaya berdiri mencoba menghindari cubitan Anaya.
"Loh itu coba lihat ko seperti Ibu"
Anaya respek melirik ke arah yang ditunjuk Wijaya dan secara bersamaan Wijaya memeluk Anaya dari belakang.
Anaya kaget namun tetap pada posisinya
"Terimakasih sudah menunggu sejauh ini mas"
Ucap Anaya
Wijaya membalik tubuh Anaya kini mereka saling berhadapan.
"Mas yang seharusnya berterimakasih karena kamu masih mau tetap menunggu mas"
Anaya mengangguk sambil menatap mata Wijaya.
__ADS_1
Perlahan Wijaya mendekatkan bibirnya pada bibir Anaya, semakin dekat namun saat Wijaya akan mencium Anaya, Anaya mengangkat jari telunjuknya dan menaruhnya di bibir Wijaya, sontak wijaya membuka mata dan menatap Anaya. Namun Anaya melepaskan diri dari pelukan Wijaya dan berlari. Wijaya Tersenyum melihat kelakuan Anaya, dan berjalan mengikuti Anaya yang berlarian kecil di depanya. . .
Bersambung...