Bahagia Yang Salah

Bahagia Yang Salah
Menikah Muda


__ADS_3

Saat hari pernikahan itu digelar usiaku berusia 20 tahun pernikahan yang tidak pernah aku harapkan harus terjadi demi kesejahteraan keluarga, demi mengangkat derajat keluarga aku harus rela dinikahkan dengan Pemilik kebun sawit terluas di kota ini dengan usia 39 tahun


4 tahun sudah berlalu dari tanggal pernikahan kami digelar tapi sampai saat inipun aku masih belum memiliki perasaan sayang ataupun cinta pada suami rasanya masih tetap sama hambar.


"Sayang kamu sedang apa duduk di depan jendela?"


Suara suamiku membuatku kaget dan serentak menghampirinya sembari menyeka air mata yang sempat memaksa keluar dari pelupuk mata.


"Aku hanya menikmati cahaya matahari pagi mas".


"Kamu mau jalan-jalan hari ini?"


"Emhsss jalan kemana mas"?


"Mas lihat kamu dari kemaren-kemaren sering menyendiri duduk didepan jendela,apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"


"Ti,,ti,,tidak mas, aku hanya rindu orang tua ku saja"


"hemhsss baiklah mas ijinkan kamu pulang hari ini Pak Nuh yang akan mengantarmu pulang dan menemanimu selama di rumah orang tuamu, sampaikan salam mas pada mereka, mas tidak bisa ikut karena banyak pekerjaan"


"Terimakasih mas"


"Hemhssss"


Berbinar-binar mata Anaya memancarkan kebahagiaan setelah sekian lama akhirnya suaminya mengijinkan ia pulang menemui keluarganya.

__ADS_1


"Bi tolong bantu nyonya menyiapkan barangnya dia akan pulang ke rumah orang tuanya untuk beberapa hari"


Teriak Mas Pramono Memerintah Bi ani membantuku di kamar,aku bergegas mandi dan bersiap berangkat, bahagia rasanya akhirnya aku bisa bertemu ibu dan ayah.


"Nyonya, tuan menunggu di meja makan untuk sarapan"


Aku hanya menganggukkan kepala dan segera turun ke meja makan.


"Kamu senang sayang?"


"hemhsss iya sayang"


"Syukurlah, tapi jangan lama-lama di sana ya sayang nanti mas kedinginan disini kalau kamu lama-lama di sana"


Anaya hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum, sementara suaminya memandang dalam-dalam wajah istrinya...


" Iya mas"


Selesai makan Mas Pramono kembali menghampiri Anaya di kamar yang sudah siap pergi.


"Sayang Mas mau berangkat kerja apa kamu tidak mau mengantar mas sampai depan pintu?"


"Tentu mas"


Anaya mengantarkan Pramono sampai depan pintu mobil, Pramono mencium kening Anaya dan Anaya mencium tangan Pramono.

__ADS_1


"Hati-hati mas"


"Iya sayang kamu juga hati-hati ya"


Anaya mengangguk sembari tersenyum, Pramono melambaikan tangannya keluar kaca mobil Anaya membalas kemudian kembali ke kamarnya,setelah memastikan semua barang yang akan dibawa terbawa Anaya langsung memanggil Pak Nuh dan Pelayan untuk membantu membawakan barang-barangnya.


"Pak Nuh saya pergi sendiri saja"


"Tidak nyonya saya mohon saya tidak mau dipecat oleh tuan, bagaimana nasib anak dan istri saya nyonya?"


Pak nuh memohon agar Anaya memberikan kunci mobilnya, tak tega Anaya memikirkan nasib pak Nuh akhirnya Anaya memberikan kunci mobil tersebut pada Pak Nuh.


"Terimakasih Nyonya"


Ucap pak nuh sambil membungkukkan kepala.


"Ayo berangkat pak keburu siang"


Pak Nuh mengangguk dan segera menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang standar


"Pak Nuh nanti aku mau pergi ke suatu tempat bapak mau antar saya?


"Baiklah nyonya saya akan bersedia mengantar kemanapun nyonya ingin pergi bukankah itu sudah jadi kewajiban saya untuk melayani nyonya"


" Terimakasih pak.,''

__ADS_1


Nampak senyum tersungging dibibir pak nuh.


Bersambung...


__ADS_2