
Anaya benar-benar terkejut atas apa yang baru saja di alami olehnya.
"Aku tidak percaya kenapa Mas Pram bisa berbuat seperti ini...!"
Didalam ruangannya Anaya terduduk ketakutan... Suara Hp membuat Anaya terkejut.
"Sayang kamu masih di mana,mas sudah sampai di tempat kita janjian ini"
"Emhhhsss mas,,, i...i...iya... aku segera ke sana"
"Kamu kenapa sayang?"
"Emhsss enggak mas!"
"Kamu yakin?,atau mau mas jemput saja ke kantor?"
"Enggak usah mas Naya sekarang ke sana"
"Beneran kamu yakin sayang?"
"Iya mas, ya sudah Naya berangkat sekarang ya."
"Ya sudah kamu hati-hati ya sayang di jalanya"
"Iya mas kuh yang bawelll"
"Ya sudah mas tutup ya telponnya"
"Iya dahhh..."
"Bye honey!"
Anaya bergegas keluar dari kantor nya, mengambil mobil di parkiran dengan rasa cemas, menoleh ke kiri dan ke kanan. Setelah merasa aman Anaya mengendarai mobilnya dengan rasa cemas dan sesekali masih melirik spion, Anaya merasa takut jika tiba-tiba Pramono mengikutinya dari belakang dan menghancurkan kehidupan Anaya seperti yang diucapkannya tadi.
Sesampainya di Restoran tempat Anaya dan Wijaya janjian. Anaya merasa lega melihat Wijaya menunggunya diluar restoran,Anaya bergegas menepikan mobilnya, kemudian Wijaya membukakan pintu untuk Anaya, dan memberikan kunci pada pelayan restoran untuk memarkirkan mobil Anaya.
"Kamu ga papa kan sayang?"
Tanya wijaya.
Anaya masih melihat ke kiri dan ke kanan seolah-olah merasa Pramono mengikutinya.
"Sayang, ko malah bengong?"
"Emhsss Ayo kita masuk mas."
"Ya udah ayo.!"
Wijaya menggenggam tangan Anaya sembari berjalan memasuki restoran.
"Sayang kok tangan kamu dingin kaya gini?"
"Emhsss mungkin tadi Ac dimobil terlalu dingin mas makanya tangan aku dingin."
"Sebaiknya kita kedokter saja ya."
"Gak usah mas lagian kan Naya gak kenapa-kenapa, mungkin ini efek lapar hahhah"
"Kamu ini, mas serius Nay"
"Iya mas Naya juga serius ko. Ayo makan ah Naya lapar ini sudah bunyi-bunyi perutnya"
"Ya udah ayo, mas tadi sudah pesankan makanan kesukaan kamu sama minumnya juga"
"Makasih sayang...!"
"Sama-sama sayang"
Wijaya menarik kursi kemudian mempersilahkan Anaya Duduk
"Makasih mas!"
Wijaya mengangguk kemudian duduk berhadapan dengan Anaya.
"Mas!"
Wijaya mengangkat tangan pada pelayan, pelayan pun mengangguk, dan beberapa menit kemudian hidangan makanan sudah tersaji di meja Anaya dan Wijaya.
"Terimakasih mas!"
Ucap Wijaya pada pelayan.
" Silahkan Selamat menikmati, tuan dan nyonya!"
"Mas ini banyak banget makananya"
"Ga papa sayang, anggap aja ini adalah tahanan cinta jadi kan kita bisa ngobrol lebih lama disini"
__ADS_1
"Ihhh emang modus"
"Heheheh ga papa kan modus juga sama calon istrinya sendiri"
Anaya tersenyum bahagia...
"Naya merasa menjadi perempuan paling beruntung mas"
"Oya, kenapa?"
"Karena Naya bisa jadi bagian dari hidup mas."
Wijaya tersenyum dan mencium tangan Anaya.
"Kamu tahu laki-laki yang paling beruntung di dunia ini?"
"Enggak "
Jawab Anaya satai sambil menikmati minuman nya.
"Ihhh mas serius"
"heheheh iya mas iya siapa coba Naya mau denger"
"Mas Wijaya"
"Ko bisa?"
"Karena mas bisa memiliki perempuan sebaik dan secantik kamu"
"Gombal banget"
"Mas serius sayang"
"Oh ya?"
"Mau bukti?"
Anaya mengangguk.
Wijaya berdiri kemudian naik mencoba berteriak seolah ingin mengumumkan sesuatu.
"Permisi semuanya!!"
Teriak wijaya
"Perkenalkan ini adalah Anaya perempuan paling saya sayangi dan saya orang paling beruntung di dunia ini karena memiliki perempuan secantik dan sebaik Anaya, I Love U Sayang...!"
Suara riuh tepuk tangan memenuhi restoran.
Anaya tersanjung melihat pembuktian Wijaya.
"Sekarang kamu percaya?"
"Iya mas, Naya percaya tadi Naya cuman bercanda"
Wijaya mencium kening Anaya kemudian kembali duduk sambil memegangi tangan Anaya.
Di meja lain di dalam restoran yang sama, Pramono mengepalkan Tanganya, merasa geram dengan kelakuan Wijaya dan Anaya.
"Kalian nikmati saja waktu bersama selagi bisa, karena waktu kalian bersama tidak akan lama lagi"
Pramono masih terus mengepalkan tangannya tidak tahan melihat kemesraan Anaya dan Wijaya.
Sesaat Anaya melirik ke arah meja Pramono dan Pramono langsung memalingkan wajahnya berharap Anaya tidak mengenalinya.
"Kenapa seperti mas Pram?"
"Apa aku salah lihat?"
"Tapi kenapa pakaianya hampir sama dengan yang tadi dia gunakan untuk menemui aku?"
"Sayang,,, kamu ngeliatin apa?"
Wijaya melirik ke arah pandangan Anaya.
"Pramono!"
"Sayang, itu Pramono kan?"
"Hah,mana mas?"
"Itu yang duduk disana?"
"Ah massa sih mas?"
"Iya coba mas samperin ya?"
__ADS_1
"Jangan ah mas, nanti kalau salah orang kan malu, lebih baik kita cepat habiskan makannya, habis itu kita kembali ke kantor ya!"
"iya juga sih, ke kantor?"
"Iya ke kantor, hari ini Naya banyak sekali pertemuan yang tidak mungkin di cancel"
"Tapi mas masih kangen"
"Besok kan akhir pekan, kita besok bisa jalan sepuasnya"
"Bener ya janji?"
"Iya mas janji, tapi besok mas jemput aku ke rumah ya"
"Siap sayang!"
Anaya tersenyum mencoba menyembunyikan ke khawatiranya terhadap kehadiran Pramono.
"Apa yang sebenarnya kamu rencanakan mas, kenapa kamu mengikuti ku sampai kesini!"
Selesai makan Anaya dan Wijaya keluar Restoran, Anaya sempat melirik kearah Pramono namun wajahnya ditutupi majalah.
"Mau mas antar ke kantor?"
"Kan Naya bawa mobil."
"Nanti kan bisa di antar sama supir panggilan"
"Sebaiknya aku memang di antar mas Wijaya saja lebih aman rasanya!"
" Sayang ko malah bengong lagi?"
"Emhsss, iya mas, aku ikut kamu aja "
"Ya sudah kamu tunggu disini ya!"
"Mas...!"
"Apa sayang?"
"Sebaiknya minta pelayan saja yang ambilkan atau enggak Naya ikut saja!"
"Loh memangnya kenapa sayang?"
"Emhss enggak Ko Naya cuman ga mau jauh-jauh aja dari mas."
"Emhsssss gombal dia, ya sudah ayo Kamu ikut aja."
Anaya dan Wijaya berjalan bersama keparkiran mobil.
Sementara itu...
Pramono masih di dalam restoran memperhatikan Anaya dan Wijaya.
"Sialan kamu ternyata sadar aku ikuti sejak tadi Nay!"
"Tapi ada baiknya juga kamu tidak akan merasa tenang ketika bersama wijaya. itu akan membuat kamu cepat kembali kedalam pelukanku Nay!"
Pramono tersenyum sinis sambil tetap melihat keluar restoran, setelah mobil Wijaya terlihat melintas Pramono langsung keluar dari restoran dan menuju ke parkiran.
Saat di parkiran Pramono melihat mobil Anaya masih terparkir.
"Owhhh sepertinya aku memiliki cara untuk bisa menemui kamu lagi Anaya!"
Tiba-tiba supir panggilan menuju ke mobil Anaya.
"Pak...pak!"
Panggil Pramono pada laki-laki yang memegang kunci mobil Anaya.
"Iya pak ada apa?"
"Bapak supir panggilan untuk mobil ini?"
"Iya pak,ada apa memangnya?"
"Ini mobil istri saya Pak, jadi saya yang akan bawa mobil ini dan bapak bawa mobil saya ke lokasi yang diminta istri saya tadi ya."
Jelas Pramono
"Tapi tadi yang memesan itu laki-laki atas nama Tuan Wijaya!"
"Emhsss iya itu adik saya tadi saya yang minta,Sudah ini kunci mobil saya.
Pramono mengambil kunci mobil Anaya kemudian keluar dari Parkiran dan melaju menuju kantor Anaya...
Bersambung
__ADS_1