
Tubuh Anaya bergetar mendengar suara Pramono yang berbisik di telinganya, rasa ketakutan Anaya muncul kembali.
Perlahan Pramono menciumi Rambut Anaya, dan menempatkan dagunya dibahu Anaya.
Anaya semakin bergetar ketakutan.
"Mas lepaskan aku mas!"
"Tidak akan sayang, mas sudah menunggu kamu sejak tadi siang namun kamu tak kunjung datang menemui ku, aku sangat merindukan kamu sayang!"
"Arrrggghhhhh tolongggg!"
Anaya berteriak meminta tolong namun tak ada satu orangpun yang datang menolongnya.
"Sutssss diam sayang aku tidak akan segan-segan melukai kamu jika kamu berteriak lagi!"
" Baik mas tapi tolong lepaskan aku dulu!"
"Baik aku akan melepaskan kamu tapi sebelumnya sekarang cepat masuk kedalam rumah!".
Dengan Posisi Pramono memeluk Anaya dari belakang, Pramono memaksa Anaya membawanya masuk kedalam rumah.
Dengan tubuh yang masih bergetar ketakutan Anaya mengikuti semua perintah Pramono, sesampainya di depan pintu Anaya memanggil pelayan rumahnya.
"Bibi... tolong buka bi!"
"Baik nyonya!"
Dari dalam terdengar langkah kaki setengah berlari kemudian membuka pintu.
"nyonya sudah....!"
Ucapan Pelayan rumah Anaya terhenti seketika melihat Anaya dipeluk oleh laki-laki selain Wijaya. Anaya menatap mata Pelayan tersebut seolah-olah berkata tolong selamatkan saya!.
"Nyo...nyo...nyonya!"
"Diam kamu cepat minggir jangan halangi jalan kami, aku dan nona mu ini akan beristirahat jadi cepat tutup pintu nya!"
Anaya menggelengkan kepala pelan sambil menatap pelayan tersebut.
"Kamu cepat tutup pintunya, dan ingat ini jika kamu memberi tahu Wijaya maka aku tidak akan membiarkan Anaya hidup paham kamu?!"
"Ba...ba...baik Tuan.!"
"Ayo cepat jalan sayang kita ke kamar, bukankah sudah lama kita tidak bermesraan, mas rindu sekali sama kamu!"
"Tidak mas aku mohon jangan hancurkan hidupku lagi...!"
"Kamu mau aku membuat kamu mati dan membuat hidup wijaya dalam kesengsaraan setelah kamu pergi hah?!".
Anaya meneteskan Air matanya.
Pelayanya menatap penuh ketakutan dan kebingungan apa yang harus dilakukannya.
"Tuan Wijaya aku harus menghubunginya!"
Saat pelayan berusaha mencoba meraih telpon genggam miliknya dari atas meja, Pramono meliriknya.
"Jangan coba-coba kamu menghubungi siapapun, sampai aku bisa selesai bersenang-senang dengan Anaya!"
__ADS_1
Pelayan Anaya terperanjat dan kembali berdiri dengan tegang.
"Cepat kamu masuk kedalam kamar kamu sana dan jangan coba-coba keluar dari sana sampai aku selesai bersama Anaya!"
Pelayan tertegun ketakutan.
"Heh cepat sana pergi kamu tuli?!"
Pelayanpun mengikuti perkataan Pramono demi keamanan Anaya.
"Ayo sayang kita ke lantai dua!"
"Tapi mas aku mohon jangan!"
"Sepertinya kamu ingin kita bersenang-senang disini!"
"Apa yang harus aku lakukan, mas Wijaya kamu dimana mas,pak Wahyu kenapa belum datang!"
Pramono mendorong tubuh Anaya ke sopa, Anaya bergeser sambil berkali-kali melirik kearah jendela.
Pramono mengunci pintu rumah Anaya kemudian mendekati Anaya.
Pramono menatap Anaya dari ujung rambut hingga ujung kaki nya penuh dengan kenapsuan.
"Kamu begitu membuatku tergila-gila sayang...Kenapa dulu kamu memilih pergi dari hidupku!"
"Mas jangan mas aku mohon jangan!"
Suara mobil masuk kedalam halaman rumah Anaya, Pramono pergi melihat ke jendela.
"Oh jadi sekarang kamu sudah memiliki pengawal baru sayang?"
"Pak tolong pak!"
"Sudah kubilang kamu jangan bermain-main denganku sayang!"
Anaya memegangi pipinya yang baru saja di tampar Pramono.
Pramono langsung menindih Anaya yang masih tersungkur di atas sopa.
Pramono menciumi leher Anaya.
Sementara Anaya .eronta-ronta menahan Pramono namun kuatnya cengkraman Pramono pada tubuh Anaya membuat Anaya sulit bergerak.
Sementara diluar pak Wahyu melihat kejadian di dalam rumah dari balik jendela.
Dengan penuh kepanikan Pak Wahyu mengambil Hp nya dari dalam mobil, kemudian mencoba menghubungi Wijaya berkali-kali namun tidak ada jawaban.
Akhirnya Pak Wahyu nekat untuk mendobrak pintu.
"Ya ampun aku tidak bisa diam saja dan menunggu!"
Pak Wahyu mendobrak pintu, sementara Pramono tidak memperdulikan orang diluar yang tengah berusaha membuka pintu.
Anaya meremas tangannya dengan air mata berlinangan. sementara Pramono semakin liar Anaya melirik ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu untuk digunakan membela dirinya.
Tiba-tiba dari arah dapur Pelayan Anaya berlari membawa sepotong kayu balok, dengan setengah berlari Pelayan itu berlari berhambur kearah Anaya untuk memukul pindah Pramono.
Anaya mencoba tenang seolah-olah tidak ada yang terjadi, sementara Pramono semakin menjadi-jadi merobek kancing kemeja Anaya, dan Anaya tercengang dengan kelakuan Pramono, tangan Anaya menyentuh kepala Pramono mencoba membela diri namun Pramono tidak menghiraukannya,saat Pelayan mencoba mengayunkan balok kayu kearah Lramono, Pramono bangkit kemudian menghindar, akhirnya Paha Anaya yang terpukul.
__ADS_1
Pramono menjambak rambut Pelayan tersebut kemudian mendorongnya hingga jatuh dan membentur tembok.
Anaya menjerit kesakitan.
Sementara Pak Wahyu yang masih berusaha mendobrak pintu terhenti ketika mendengar jeritan Anaya.
Pak Wahyu mencoba mencari bantuan pada tetangga disekitar rumah Anaya.
"Pak tolong pak tolong!!!"
"Ada apa pak?"
Tanya warga disekitar yang lewat.
"Tolong bantu saya mendobrak pintu rumah, majikan saya sedang dalam bahaya pak"
"Memangnya ada apa pak?"
"Sudah nanti saja ceritanya cepat tolong dulu majikan saya pak!"
Pak Wahyu dan dua Orang warga lainnya mendobrak pintu berkali-kali hingga akhirnya terbuka.
Pramono yang mendengar ribut-ribut diluar menghampiri Anaya.
"Sayang maaf mas tidak bisa menyelesaikan, senang-senang kita Hari ini, mas janji akan datang lagi melanjutkan permainan yang tertunda ini"
Pramono menyentuh dagu Anaya, namun Anaya menepiskan tangan Pramono. Kemudian Pramono lari kearah pintu belakang rumah dan kabur.
Anaya tergeletak lemas di atas sopa dengan Paha memar membiru.
Pak Wahyu dan warga Akhirnya berhasil mendobrak pintu, melihat keadaan didalam rumah berantakan, warga mencari-cari Pramono.
"Pak tolong bantu saya dulu, bawakan majikan dan pelayan itu kedalam mobil saya, saya akan membawa mereka ke rumah sakit!"
Pak Wahyu dan warga memasukan Anaya dan Pelayannya kedalam mobil kemudian bergegas kerumah sakit.
Sementara ditempat Lain, Wijaya baru melihat telpon genggam nya.
"Loh Pak Wahyu ada apa ini, berkali-kali nelpon saya."
Saat Wijaya mencoba menghubungi kembali pak Wahyu, namun Pak Wahyu tidak menjawab telponnya.
"Pasti ada hal penting, Pramono mencoba menghubungi telpon Anaya namun tidak ada jawaban juga akhirnya Pramono menelpon telpon rumah Anaya, dan Warga yang baru saja akan meninggalkan Rumah Anaya menerima telpon tersebut.
"Halo.''
"Maaf pak ini siapa kenapa bisa menerima telpon di rumah calon istri saya?"
"Oh ini calon suami Nyonya Anaya,tadi Nyonya Anaya baru saja di bawa ke rumah sakit pak!"
"Rumah sakit."
"Iya pak!"
"Rumah sakit mana pak."
"Wah saya kurang tahu pak mungkin di rumah sakit dekat rumah saja karena kondisi Nyonya Anaya dan Pelayan rumahnya tidak sadarkan diri!"
"Apa,baik pak terimakasih"
__ADS_1
Dengan hati gundah, Wijaya bergegas menuju Rumah sakit dekat rumah Anaya.
Bersambung...