Bahagia Yang Salah

Bahagia Yang Salah
Perpisahan


__ADS_3

Anaya dan Wijaya duduk termenung di pinggir danau.


"Ceritakan semuanya pada Naya mas apa hubungan Kamu dengan Mas Pram?"


Pinta Anaya pada Wijaya


"Maaf mas tidak pernah menceritakan ini sebelumnya mas takut kamu pergi meninggalkan mas"


"Ceritakan saja mas, nanti saja pembelaannya"


"Baiklah, tapi setidaknya berjanjilah tidak akan marah"


"Mas, mungkin aku bisa menahan amarah ku tapi tidak dengan kekecewaan ku"


Wijaya tertegun menghela nafas


"Bagaimanapun ini adalah resiko yang harus aku bayar atas semua ketidak terbukaan ku selama ini"


Ucap Wijaya dalam hatinya


"Mas dan Pramono adalah sahabat sejak kami SMA sampai akhirnya kami terpisah saat kuliah dan Mas tidak bisa hadir saat pernikahan kalian karena tengah menyelesaikan studi di luar negeri."


"Lantas?"


Tanya Anaya dengan suara parau nya


"Kami bertemu lagi saat mas hendak membangun Klinik di desa,kemudian setelah kita bertemu beberapa kali Mas memutuskan untuk keluar kota dan Pramono menghubungi mas bahkan saat kita bertemu di bandara itu mas dengan Pramono pulang bersama hanya saja Pramono bilang dia sudah di jemput istrinya akhirnya dia keluar lebih dulu"


Anaya terdiam merasa bodoh karena semua masalah ini


"Bagaimana aku bisa tidak sadar dan selalu menganggap setiap pertemuan kita adakah takdir mas,aku selalu berpikiran kamu adalah penyelamatku selama ini"


"Maafkan mas Naya"


"Anaya bisa memaafkan tapi tidak dengan melupakan kekecewaan ini mas"


"Lantas mas harus apa, agar semuanya bisa mas tebus?"


"Kita harus sudahi semuanya sampai disini mas"


"Tidak Naya"


"Mas"


"Nay kamu tahu seberapa sulit perjalanan kita untuk sampai disini?"


"Naya tahu mas"


"Lalu kenapa hanya karena hal seperti ini saja kamu berniat mengakhiri semuanya?"


"Naya tidak mungkin bersama sahabat suami Naya sendiri mas"


"Kenapa tidak Nay"


"Sudahlah mas tidak perlu memaksa meskipun Naya memang terlanjur sayang sama Mas tapi status Naya masih Istri sah dari Mas Pram"


"Dia sudah menikah dengan perempuan itu Nay,sampai kapan kamu akan menunggu?"


Anaya tertegun berlinangan air mata


"Maaf mas Naya tetap tidak bisa melanjutkan ini"


"Ok...ok... tapi please buat hari ini saja meskipun ini hari terakhir kita tapi mas mau hari ini kita lewati hari ini bersama, meskipun ini menjadi hari terakhir kita mas ga akan pernah menyesal"


"Tapi mas"


"Please Nay, mas tidak pernah minta apapun dari kamu selama ini, tapi kali ini mas minta hari ini saja,mas mohon"


Wijaya berlutut memegang tangan Anaya.


"Iya mas iya, tidak perlu seperti ini, bangun mas"


Wijaya kembali berdiri dan mencium kening Anaya


"Kamu Lapar kan, kita makan dulu yah"


"Iya mas"


Anaya menyeka air matanya dan Wijaya meraih tangan Anaya mereka berjalan dengan tangan berpegangan

__ADS_1


"Kita makan disini saja ga papa Nay?"


"Ga papa mas"


"Syukurlah,mbak pesan!"


Wijaya memanggil pelayan di sebuat tempat makan di pinggiran danau


"Silahkan Tuan"


Anaya dan Pramono memesan Makanan dan Minuman mereka makan dan minum bersama dengan saling tersenyum seolh-olah tidak ada yang terjadi hari ini


"Aaaa..."


Wijaya menyodorkan sendok dengan makanan dan Anaya menerimanya sambil tersenyum


"Meskipun


ini kali terakhir kita bersama,mas akan tetap bahagia jika melihat kamu tetap tersenyum seperti ini"


Ucap Wijaya dalam hatinya


Anaya membalas dengan menyuapi Wijaya...


Seusai makan mereka pergi Nonton dan membeli beberapa barang di sebuah Mall.


"Mas sepertinya aku harus ke kamar kecil dulu"


"Tentu, silahkan mas tunggu disini"


Anaya berlalu pergi setelah wijaya tak terlihat Anaya pergi kesebuah toko Jam tangan.


"Mas bisa tolong Tunjukan jam tangan couple yang istimewa"


"Tentu Nona"


Pegawai Toko langsung mengambilkan sample jam tangan couple terbaik di toko nya.


"Silahkan nona, selain warna yang natural Jam tangan ini memiliki desain yang elegan, dan yang paling istimewa jam tangan ini limited edition"


"Sungguh?"


"Baiklah saya ambil yang ini"


"Silahkan tunggu sebentar nona, saya akan ambilkan surat-surat jam tanganya"


Anaya mengangguk


Tak lama pelayan toko datang dan membawakan pesanan Anaya, setelah selesai dibayar Anaya bergegas memasukan jam tangan tersebut kedalam tasnya, dan segera menghampiri Wijaya....


"Lama ya mas?"


"Enggak ko"


Anaya tersenyum mendengar jawaban Wijaya


"Sudah malam sebaiknya Mas antar kamu pulang"


Anaya mengangguk...


Sesampainya di persimpangan rumah...


"Mas Naya turun disini aja"


"Kenapa?"


"Cuman jaga omongan tetangga aja"


"Baiklah, mas liatin dari sini ya"


"Emhhhh"


"Hati-hati,jaga diri baik-baik kalau ada apa-apa jangan sungkan kabari mas"


"Iya mas,mas Naya ada sesuatu buat Mas"


"Sesuatu?"


Anaya mengeluarkan bungkusan dari dalam tasnya.

__ADS_1


"Buka mas!"


"Apa ini?"


Wijaya dengan penuh penasaran membukanya...


"Jam?"


tanya Wijaya heran


"Nih"


Anaya menunjukan jam Tangan satunya lagi dari dalam tas


"Oh My God So sweet, jadi ini Couple?"


"Iya, ini hadiah perpisahan kita dari Naya mas"


"Kenapa harus jam?, Kenapa Kamu begitu Yakin aku bisa melupakan kamu seiring berjalannya waktu?"


"Bukan begitu mas,justru Naya ingin dengan siapapun mas nanti hidup bersama, jam ini akan tetap terpasang di tangan mas,Naya berharap setiap mas melihat waktu mas akan tetap ingat Naya sebagai kenangan terindah mas"


Jelas Naya sembari memasangkan Jam di tangan Wijaya


"Sini biar mas Pasangin juga buat kamu"


Anaya mengangguk kemudian menyodorkan tangan kirinya pada Wijaya.


''Kapan kamu beli ini Nay?"


"Tadi waktu di mall?"


"Ko mas ga liat?"


"Abis dari kamar mandi"


"Pantesan lama"


"Tadi katanya gak lama"


Wijaya hanya tersenyum dan mencium tangan Anaya.


"Mas ga bisa kasih apa-apa buat kamu Nay"


"Ga papa mas,naya tidak mengharapkan apapun dari mas"


"Sungguh?"


Anaya mengangguk pelan.


"Syukurlah,karena mas hanya punya ini untuk kamu"


Wijaya mengambil sebuah kotak perhiasan dari saku jasnya kemudian membuka kotak tersebut.


Anaya berlinangan air mata


"Ini buat Kamu Mas harap kamu suka Nay"


"Terimaksih mas"


"Jaga baik-baik cincin ini andai suatu hari nanti kita berjodoh cincin ini akan menjadi saksi perjuangan kita bisa bersama"


Wijaya memasangkan cincin di jari manis Anaya,kemudian memeluk erat Tubuh Anaya. Wijaya melepaskan pelukannya kemudian menatap Anaya dengan mata yang berlinangan,tanganya menyentuh pipi Anaya kemudian Wijaya ******* bibir merah Anaya, dan Anaya memberikan respon hangat pada bibir Wijaya, tubuh wijaya semakin mendekat pda Anaya tangan kirinya memeluk punggung Anaya sedangkan tangan Kanannya menyentuh kepala Anaya.


Malam yang semakin larut membuat mereka yang tengah bercumbu terpaksa mengakhirinya


Hati mereka kini penuh dengan kepedihan namun tidak memiliki pilihan,Wijaya turun dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Anaya. Saat inimereka saling berhadapan dan bertatapan, Wijaya mengusap air mata dipipi Anaya kemudian memeluknya,tanpa sepatah katapun Anaya melepaskan diri dari pelukan Wijaya kemudian berjalan perlahan meninggalkan Wijaya, sementara wijaya menatap punggung Anaya yang semakin menjauh darinya.


"Menoleh lah Nay menoleh sekali saja"


Harapan Wijaya tidak terkabul,Anaya terus melangkah maju tanpa menoleh sekalipun, sampai didepan rumahnya Anaya masuk kemudian mencoba melihat Wijaya dari halaman rumahnya namun Wijaya sudah tidak nampak sedikitpun


"Maafkan Naya mas, jika Naya menoleh kebelakang langkah naya akan semakin berat"


Anaya kemudian masuk kedalam rumah dan menangis di kamarnya...


"Semoga kita dipertemukan dikehidupan selanjutnya mas"...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2