Bahagia Yang Salah

Bahagia Yang Salah
Rencana Jahat


__ADS_3

Seminggu semenjak ditentukannya tanggal pernikahan, Anaya dan Wijaya di sibukan dengan persiapan rencana pernikahan, mulai dari memilih-milih tempat, desain undangan, dekorasi pelaminan dan lain sebagainya. Mereka selaku kesana kemari mencari inspirasi untuk pernikahan paling berkesan dinegerinya. Mereka melakukan semuanya sendiri tanpa di bantu oleh siapapun,meskipun melelahkan namun mereka nampak selalu bahagia dan ceria.


Disisi lain ketika Anaya dan wijaya tengah berbahagia Pramono semakin kesal dan menjadi-jadi kemarahan ya ketika mendengar kabar rencana pernikahan Anaya dan Wijaya.


Rasa cemburunya terhadap Anaya semakin memuncak, dan membuat Pikiran gilanya kembali bergejolak.


"Aku tidak akan pernah bisa membiarkan pernikahan ini terjadi, aku tidak boleh membuat mereka menikah,apapun akan aku lakukan demi kembalinya Anaya kedalam hidupku.!"


Pramono mengambil handphone dari saku celananya, dia nampak mencari-cari nomor telpon seseorang dari daftar kontak nya, kemudian mencoba memanggilnya.


"Halo ...!"


"Aku ada pekerjaan untuk mu!"


"Pekerjaan apa tuan?"


"Kamu harus menculik seorang perempuan, aku akan kirimkan poto dan alamat rumahnya ,tapi ingat jangan sampai gagal!"


"Bagaimana dengan bayarannya?!"


"Tentu akan sangat memuaskan.!"


"Baiklah,akan aku kerjakan hari ini juga!"


Ternyata Pramono berencana menculik Anaya dan membawa Anaya pergi keluar kota.


Siang ini Anaya dan Wijaya memutuskan untuk keluar dan makan bersama sembari fitting baju, mereka sudah saling berkabar sebelumnya dan berjanji bertemu di sebuah restoran di dekat tempat mereka berencana fitting baju pengantin.


Anaya baru saja meninggalkan ruangan kantornya dan pergi memakai mobil bersama supirnya pak Wahyu.


Kali ini Pramono mencoba mengikutinya menggunakan mobil carteran.


"Mau pergi kemana kamu Nay,kamu pikir usahaku untuk mendapatkan kamu kembali sudah selesai sampai disini saja,tidak mungkin aku mengalah Nay.!"


Pramono terus mengikuti Anaya, sementara didepan restoran seperti biasa Wijaya sudah menunggu kedatangan Anaya.


Wijaya membukakan pintu mobil untuk Anaya, dan mereka saling mencium pipi kiri dan kanan,Pramono yang melihat itu mengepalkan tangannya dan meninju setir mobil tanpa sengaja klakson mobil yang di tumpangi Pramono berbunyi karena tertonjok.


tiiiitttttt!!!!


Semua orng yang berada disekitar tempat Pramono termasuk Anaya dan Wijaya menatap heran kearah mobil yang membunyikan klakson dengan panjang.


Pramono spontan menunduk seolah-olah takut terlihat.


"Akhs sial, kenapa malah tertekan!"


"Sayang ayo masuk!"


Ajak Wijaya pada Anaya.


"Kamu kenapa sayang ko malah ngeliatin mobil itu terus?!"


"Enggak papa mas hanya saja aku merasa ada yang aneh dengan mobil itu!"


"Maksud kamu apa syang?,sudah jngan terlalu dipikirkan mungkin saja kan tidak sengaja orangnya menekan klakson!"


"Iya mungkin mas."


"Ya sudah ayo kota masuk, untuk makan siang!"


"Iya mas."


Anaya dan Wijaya masuk kedalam restoran sementara Pramono perlahan-lahan mengintip lewat dashboard mobil yang ditumpanginya, setelah memastikan Anaya dan Wijaya sudah msuk kedalam restoran, Pramono keluar perlahan-lahan menggunakan masker dan ikut masuk kedalam restoran.


Sesampainya didalam restoran Anaya dan Wijaya terlihat tengah memesan beberapa makanan.


"Permisi tuan silahkan buku menu nya!"


Seorang pelayan tiba-tiba menghampiri Pramono dan menyimpan buku menu di atas meja.

__ADS_1


"Saya pesan menu utama di restoran ini saja!"


Ucap Pramono sambil menyodorkan kembali buku menu pada pelayan.


"Baik Tuan!"


Pramono mengangguk tanpa memalingkan mata dari arah Wijaya dan Dan Anaya.


"Sayang selesai makan kita jadi kan fitting baju nya?"


"Iya Sayang jadi, kamu sudah memikirkan warna gaun yang akan kamu gunakan nanti?"


"Belum mas, Naya mau lihat-lihat dulu barangkali ada warna baju yang menarik hati nanti di sana!"


"Ok kalau begitu.!"


Anaya tersenyum, pancaran wajahnya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang teramat sangat dalam hatinya.


Wijaya menatap Anaya sembari tersenyum.


"Kenapa ngeliatin nya begitu banget sih mas,ada yang aneh ya sama muka Naya?"


"Iya...!"


"Loh apa mas, kenapa gak ngasih tahu kan Naya malu kalau sampai ada orang lain yang liat."


Anaya mencari-cari cermin didalam tasnya, tangan Wijaya mengambil tangan Anaya dan menggenggamnya.


"Kenapa mas, sebentar Naya mau cari cermin bedak dulu nanti keburu lebih aneh wajah Naya!"


"Iya kamu Aneh karena kamu begitu cantik dan mempesona.!"


Wijaya tersenyum sembari menatap mata Anaya dan mencium tangan Anaya.


Anaya tersenyum mendengar ucapan Wijaya.


"Silahkan tuan pesanan anda!"


Seorang pelayan mengantarkan makanan yang dipesan ke meja Pramono, namun Pramono tidak memberikan tanggapan apapun.


"Mas...mas... kamu ini pintar sekali bikin perempuan melayang-layang dengan ucapan kamu"


"Enggak lah sayang mas seperti ini ya cuman sama kamu aja ko!"


"Massa...?"


"Beneran serius sayang...kamu gak percaya sama mas."


"Enggak mas heheh"


"Beneran serius gak percaya?"


"Iya serius."


"Aduhhhh sakit bangetttt!"


Wijaya menyentuh dadanya, Anaya sontak panik.


"Mas...mas...mas kamu kenapa?"


"Sakit banget!"


"Mas aku panggilkan ambulan yah!"


"Percuma."


"Kenapa mas,udah mas tenang duku jangan banyak gerak!"


Anaya mengambil handphone dari saku tas nya kemudian mencoba menghubungi nomor panggilan darurat ambulance 911.

__ADS_1


Wijaya menghentikan Anaya.


"Loh kenapa mas?"


"Mas sakit karena kamu gak percaya sama mas!"


"Ya ampun mas jdi...?"


Anaya memeluk Wijaya erat.


"Mas kamu bikin Naya jantungan,Naya pikir terjadi apa-apa sama mas!"


"Maaf sayang mas cuman bercanda."


"Jangan gitu lagi Naya takut kehilangan Mas Wijaya!"


"Iya sayang mas janji asal kamu juga percaya terus sama mas jadi mas gak akan sakit lagi.!"


"Iya mas!"


Anaya mengiyakan tanpa melepaskan pelukannya kepada Wijaya.


"Kita gak selesai-selesai dong makanya kalau kamu peluk mas terus?"


"Naya lupa mas heheh."


Pramono menggebrak meja kemudian keluar dari restoran, semua orang yang da didalam restoran menatap kearahnya.


"Sial aku sudah tidak tahan lagi melihat tingkah laku mereka berdua!"


"Sebaiknya aku tunggu mereka didalam mobil saja!"


Pramono berjalan kearah mobil yang di tumpanginya tadi.


Anaya menatap kepergian Pramono sampai masuk kedalam mobil.


"Mas coba lihat, bukankah itu mobil yang tadi membunyikan klakson keras sekali?"


"Iya memangnya kenapa sayang?"


"Mas gak lihat laki-laki yang baru saja menggebrak meja dan keluar dari restoran?"


"Lihat memangnya kenapa?"


"Laki-laki barusan masuk kedalam mobil yang itu mas.!"


"Iya Lalau kenapa sayang?"


"Mas gak ngerasa ada yang aneh, tadi dia membunyikan klakson saat kita di depan mobilnya, barusan memukul meja kemudian keluar setelah kita berpelukan"


"Menurut kamu dia kesal karena kelakuan kita?"


"Iya bisa jadi mas!"


"Enggak sayang kita kan gak kenal sama dia, mungkin saja ini kebetulan kamu jangan terlalu banyak pikiran akhs sebaiknya kita habiskan makanan nya kemudian kita fitting baju takut keburu sore juga."


"Tapi mas..."


"Sudah sayang mas paham betul kekhawatiranmu, tapi kali ini rasanya tidak mungkin, pokonya kmu tenang saja mas ada disini sama kamu jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak,paham?"


"Iya mas."


"Ya sudah Ayo kita habis kan makanan nya!"


Anaya menghabiskan makanannya sambil sesekali menoleh kearah mobil yang di tumpangi Pramono.


"Rasanya tetap saja ada yang tidak beres, aku harus lebih berhati-hati!"


"Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2