Bahagia Yang Salah

Bahagia Yang Salah
Bagian Akhir


__ADS_3

Delapan bulan pernikahan Anaya dan Wijaya berjalan dengan begitu sempurna rumah tangga nya, cinta mereka semakin berkembang,meskipun Anaya belum di berikan kepercayaan memiliki keturunan, hari ini bertepatan dengan ulang tahun Wijaya, Anaya pulang lebih cepat dari jam kantor nya.


Anaya sudah memesan kue ulang tahun untuk Wijaya dan berniat mengambilnya siang ini.


"Pak saya ingin d antar dulu ke mall ya!"


"Baik nyonya!"


Pak Wahyu membelokan mobilnya ke arah kiri menuju mall tempat biasa Anaya dan Wijaya berbelanja.


Anaya berniat membelikan setelan jaz beserta dasi yang pernah dilirik Wijaya beberapa hari lalu saat mereka berjalan berdua ke mall.


Anaya langsung menuju ke toko yang menjual setelan jaz berwarna biru navy, dalam perjalanan menuju toko tersebut Anaya merasa mual dan ingin muntah, setengah sempoyongan Anaya berlari menuju toilet umum di dalam mall, kepalanya berkunang-kunang. Anaya berkali-kali muntah d kamar mandi.


"Mbak anda tidak apa-apa?"


"saya saya sedikit mual dan pusing saja!"


seorang perempuan yang baru saja masuk ke dalam ruang kamar kecil mall, membantu Anaya duduk dan memberinya minum.


"Mbak mau saya antar ke klinik?"


"Terimakasih, tapi saya rasa saya hanya masuk angin biasa mungkin karena pupa sarapan!"


"Ya sudah kalau begitu saya antar pulang saja?"


"Saya ada yang harus saya beli dulu, hari ini suami ulang tahun jadi saya harus segera membeli barang yg di inginkan suami,terimakasih saya permisi!"


"Hati-hati mbak!"


Anaya sambil sesekali memegangi kepala dan mulutnya setengah berlari ke arah toko,betapa bahagia Anaya melihat setelan jaz yang di inginkan suaminya masih terpajang rapi, dan bergegas membeli jas tersebut tanpa menawarnya.


Meski dengan kondisi kepala agak pusing Anaya memaksakan untuk segera turun ke parkiran mobil namun saat Anaya baru saja keluar dari pintu mall mendadak Anaya jatuh pingsan, semua orang yang melihatnya mendekatinya.


"Mbak! bangun mbak!"


"Telpon ambulance cepat!"


Beberapa orang berteriak panik melihat kondisi Anaya yang terlihat pucat.


Beberapa saat kemudian ambulance datang Anaya langsung di masukan kedalam ambulance.


"Siapa yang akan menemani pasien?"


Tanya seorang perawat yang turut serta dalam ambulance.

__ADS_1


"Biar saya saja!"


Seorang ibu paruh baya yang sedari tadi mencoba menyadarkan Anaya,menawarkan diri.


"Mari cepat masuk bu!"


Didalam ambulance si ibu menatap iba wajah Anaya yang tengah terbaring di hadapannya.


Si ibu terus memegangi tangan Anaya sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


"Ah siapa yang harus aku hubungi?"


Si ibu merasa gelisah sembari keluar dari ambulance beberapa perawat mengeluarkan Anaya dari ambulance kemudian membawanya ke ICU. Si ibu mengikuti dari belakang.


Sesampainya di depan ICU.


"Ibu silahkan daftarkan pasien terlebih dahulu dan selesaikan administrasinya di lobi!"


"Ba...ba...baik!"


"Ini tas pasien bu!"


Seorang perawat laki-laki menghampiri Si Ibu yang masih tertegun d depan ruang ICU.


Si ibu langsung menuju ke arah lobi rumah sakit untuk menyelesaikan administrasi Anaya.


Usai menyelesaikan administrasi si ibu bergegas kembali ke ruang ICU.


Disaat bersamaan Dokter dan perawat pun keluar dari dalam ruangan ICU.


Si ibu bergegas menghampiri dokter tersebut.


"Dok bagaimana kondisi pasien?"


"Tidak kenapa-kenapa bu, selamat ibu akan menimang cucu!"


"Cucu?!"


"Putri ibu sedang hamil!"


"Ya ampun,lalu bagaimana kondisinya sekarang dok?"


"Hanya butuh istirahat saja bu, tadi putri ibu kecapean saja makanya bisa sampai pingsan!"


"Syukurlah saya kira kenapa-kenapa, oya dok maaf yang di dalam itu bukan anak saya, tadi hanya kebetulan saja saya yang berada d dekat pasien saat pasien pingsan!"

__ADS_1


"Ooo maaf sekali ibu saya tidak tahu!"


"Tidak apa-apa dok, lalu apa pasien sudah boleh d jenguk dok?"


"Tentu bu silahkan ,pasien sudah sadarkan diri, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat biasa, hanya perlu menunggu cairan inpus nya habis pasien sudah boleh pulang,saya permisi ibu!"


"Baik dok terimakasih!"


Si Ibu yang tadi menolong Anaya pun masuk kedalam ruangan ICU, Anaya yang melihat seorang perempuan paruh baya mendatanginya, mencoba bangkit untuk duduk.


"Tidak perlu, tiduran saja nak!"


"Terimakasih bu, ibu sudah menyelamatkan saya dan calon anak saya!"


Anaya memegang tangan ibu tersebut.


"Tidak perlu berterimakasih,kebetulan saja ibu ada di sana,nak apa kamu sudah menghubungi suami atau keluarga kamu?"


"Tidak bu belum.!"


"Kenapa,bukankah lebih baik mereka tahu ini kan kabar bahagia"


"Hari ini suami saya ulang tahun da semenjak hari pernikahan kami, suami selalu mendambakan saya hamil, saya akan menjadikan ini sebagai kado ulang tahun untuk suami saya nanti malam, jadi saya akan merahasiakannya sampai nanti malam"


Jelas Anaya dengan raut wajah bahagia,si ibu pun ikut tersenyum mendengar penjelasan Anaya.


Sore hari Anaya sudah d bolehkan pulang, si ibu tadi masih menemani Anaya d rumah sakit.


"Ibu mari saya antarkan pulang"


"Tidak perlu nak arah kita bersebrangan jadi biar ibu naik taxi saja."


"Jangan ibu, anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih saya karena Ibu sudah menemani saya ngobrol hampir setengah harian ini, ibu juga sudah menyelamatkan saya dan calon anak saya,biarkan saya mengantar ibu yah!"


"Kamu saja masih lelah, sebaiknya Ibu panggilkan supir untuk mengantar kamu pulang"


"Tapi bu..."


"Kapan-kapan kita bisa bertemu lagi nak!"


"Ibu bagaimana kalau nanti malam Ibu dan keluarga datang ke perayaan ulang tahun suami saya, saya mohon bu jangan menolak kali ini saja!"


"Baiklah nak terimakasih banyak,ayo kita ke keluar sama-sama!"


Anaya mengangguk dan berjalan di samping Perempuan paruh baya yang telah menolongnya hari ini!

__ADS_1


__ADS_2