Bahagia Yang Salah

Bahagia Yang Salah
Permainan Pramono


__ADS_3

"Kamu sudah bawa semua barang-barang kamu?"


"Sudah mas."


"Yakin gak ada yang ketinggalan?"


"Enggak mas"


"Ya sudah ayo kita berangkat, aku antar kamu ke bandara ya."


"Iya mas"


"Kamu kenapa sih dari tadi cuman iya, enggak, iya, kamu gak suka ngobrol sama aku?"


"Enggak gitu mas"


"Tuh kan ga bisa kamu bicara yang lebih baik sedikit sama suamimu?"


"Ya ampun mas, sudah lah ayo berangkat!"


"Kamu ini bener-bener pinter bikin mood suami hilang masih pagi kaya gini juga"


"Iya mas iya maaf!"


Pramono tidak menimpali permintaan maaf Rania, hanya langsung menghidupkan mobil dan melaju cepat menuju bandara, selama perjalanan menuju bandara tidak sedikitpun ada perbincangan di antara mereka, Rania hanya menatap jalan di hadapanya.


"Aku penasaran apa yang sebenarnya akan kamu lakukan mas dengan memutuskan tinggal disini beberapa waktu, sementara aku kamu paksa suruh pulang dengan alasan demi anak kita, sayangnya aku tidak sebodoh istrimu yang dulu mas, jadi jangan berharap aku akan diam saja seperti Anaya dulu mas"


"Kamu jagain Anak kita yang bener jangan lengah, nanti juga kalau urusan aku udah kelar di sini aku bakal secepatnya pulang.!"


"Iya mas."


Pramono ketus menatap Rania yang sedari tadi hanya bilang iya dan iya saja.


Sesampainya di bandara...


"Sudah sampai ayo turun!"


"Tumben biasanya juga kamu bukain pintu buat aku mas, benar-benar ada yang tidak beres ini"


Tok,tok,tok!!!


Pramono mengetuk-ngetuk kaca mobil meminta Rania turun, Rania menghela napas kemudian turun.


"Aku ga bisa nungguin kamu samapai cek in, ga papa kan,kamu bisa sendiri kan?"


"Iya mas ga papa kalau kamu sibuk pulang saja!"


"Ya sudah mas pulang yah, hati-hati di jalannya!"


Rania mengangguk pelan, kemudian mencium tangan Pramono. Pramono langsung berlalu tanpa berkata apa-apa lagi.


"Mas!"


Rania memanggil Pramono yang sudah berjalan menuju mobilnya.


Pramono berbalik menatap Rania.


"Apa lagi?"

__ADS_1


Sahut Pramono dengan ketus.


"Enggak mas hati-hati di jalan!"


Rania melambaikan tangan,namun Pramono tanpa ekspresi berlalu begitu saja.


"Biasanya kamu mencium keningku dulu mas sebelum pergi-pergian!"


Pramono sudah berlalu keluar dari Bandara, Rania bergegas memanggil taxi dan meminta mengikuti mobil Pramono.


Sepanjang jalan mengikuti Pramono namun di pertigaan Jalan Pramono memilih jalan lain, membuat Rania semakin penasaran.


"Ini bukan jalan menuju rumah, mau pergi kemana kamu mas sebenarnya?"


"Bukankah ini jalan menuju kantor Anaya?"


Namun Pramono hanya melewati kantor Anaya kemudian berhenti di depan sebuah restoran tidak jauh dari kantor Anaya.


Pramono turun kemudian memasuki Restoran tersebut, beberapa saat kemudian Rania ikut masuk kedalam restoran dan duduk di meja yang agak berjauhan dari meja yang di tempati Pramono.


"Ternyata kamu sendirian mas, aku kira kamu berniat menemui Anaya,akhss akhirnya aku lega"


Beberapa menit kemudian terlihat Anaya memasuki restoran tersebut kemudian melihat kesana kemari seolah-olah mencari seseorang.


"Nay sini!"


Pramono melambaikan tangan Pada Anaya yang tengah celingukan, setelah melihat Pramono Anaya menghampiri meja yang ditempati Pramono.


"Hah... Anaya, jadi mas Pramono janjian sama Anaya disini,,, kenapa Anaya mau saja bertemu berdua sama Mas Pramono, ada apa ini,untung saja aku bisa membatalkan tiket penerbanganku hari ini.!"


"Mas, ko kamu sendirian, Rania mana?"


Tanya Anaya pada Pramono


"Bisa-bisanya dia bilang aku titip salam, tahu aja enggak aku kalau kamu mau ketemu sama Anaya disini mas!"


Rania dengan wajah kecut nya menatap dengan penuh kekesalan pada Anaya dan Pramono


"Oh gitu, iya sampikan salam juga saja buat Rania sama anak kamu di sana mas"


"Iya nanti aku sampein ko, kamu mau pesan apa?"


"Aku ga makan mas, aku udah da rencana makan siang bersama bareng sama mas Wijaya"


"Sial Wijaya kamu selalu saja selangkah lebih maju di bandingkan aku, tunggu saja permainan kita baru saja akan di mulai"


"Mas.. mas...!"


"emhsss iya kenapa nay?"


"Ada apa kenapa malah bengong mas?"


"Enggak papa ko Nay mas cuman lagi berpikir beruntung sekali Wijaya bisa punya perempuan yang sempurna kaya kamu."


"Makasih mas."


"Iya,Sayang!"


"Apa mas,maaf barusan kamu bilang apa?"

__ADS_1


"Emhsss itu... engg... enggak mas lupa mas kira lagi ngobrol sama Rania!"


"Oh gitu, katanya kamu ada yang erlu di bicarakan mas, mu bicara apa?"


"Oh itu iya , eumhsss sebenarnya memang ada yang ingin mas bicarakan sama kamu"


"Bicara saja mas ada apa memangnya?"


Anaya mengira bahwa Pramono akan membicarakan masalah bisinis yang dikelolanya oleh Pramono di luar kota.


"Mas mau bicara tentang perasaan mas.!"


"Maksud mas?"


"Sejujurnya mas masih sayang sama kamu Nay, mas berharap kamu mau memperbaiki masalah kita dulu dan kembali ke mas seperti dulu,yah kamu mau kan?"


Pramono menyentuh tangan Anaya menggenggamnya dengan erat, Namun Anaya seketika menghibaskan tangan Pramono.


"Maaf mas, saya harap mas bisa bersikap Sopan sama saya!"


"Ya ampun mas keterlaluan sekali kamu mas, tega kamu bicara seperti ini kepada Anaya padahal kita masih resmi menikah bahkan telah memiliki Anak!"


Rania meneteskan air mata nya menyaksikan sikap suaminya terhadap mantan madu nya.


"Ok...ok... mas minta maaf, mas hanya refleks tadi, iti semua semata-mata karena mas masih sayang sama kamu.!"


"Masih ada yang ingin dibicarakan mas?"


Tanya Anaya, Pramono tertegun melihat Anaya yang berdiri, kemudian Pramono menggelengkan kepala.


"Kalau begitu saya pamit, permisi!"


Anaya bergegas keluar dari restoran namun Pramono mengikutinya begitu juga dengan Rania.


"Nay,, nay...! tunggu nay!"


Pramono setengah berlari mengejar Anaya kemudian diluar restoran Pramono berhasil menarik tangan Anaya.


"Mas lepasin mas!"


"Ingat ini Anaya, aku tidak akan pernah membiarkan laki-laki manapun memiliki kamu, karena kamu hanya milik aku dan harus kembali kepadaku, sampai kapanpun aku akan mengejar kamu Naya.!"


Suara gelak tawa dari Pramono membuat Anaya kesal.


"Diam mas, dan lepaskan tanganku,!"


"Coba saja kalau bisa!"


"Tolong...tolong!!!"


"Naya kamu apa-apaan hah?!"


"Kamu yang apa-apaan mas, kalau kamu tidak mau aku berteriak lagi kamu lepaskan tanganku mas!"


"Ok... aku lepaskan !"


Pramono melepaskan tangan Anaya dengan kesal kemudian menatap Anaya yang setengah berlari menuju ke kantor nya, Pramono hanya menatap penuh dengan ketidak puasan.


Sementara Rania masih berlinangan air mata di belakang Pramono menyaksikan kelakuan suaminya.

__ADS_1


"Kali ini kamu bisa lepas Naya, tapi aku tidak akan pernah menyerah sedikitpun buat dapetin kamu lagi, kamu tunggu saja Naya kamu pasti kembali kedalam pelukanku sayang!"


Bersambung....


__ADS_2