
Tok...
tok...
tok...
Setelah mengetuk pintu, Ibu Anaya masuk kedalam kamar.
"Nay kamu sudah selesai siap-siap!"
"Sudah bu."
"Memangnya kaki kamu sudah tidak sakit?"
"Sedikit bu, tapi massa Naya harus duduk di kursi roda saat orang tua mas Wijaya datang ke rumah bu!"
"Iya tidak apa-apa daripada kamu memaksakan diri, bagaimana kalau nanti malah sakitnya makin terasa karena kamu paksakan,lagian ibu yakin keluarga Nak Wijaya akan mengerti"
"Iya bu tapi rasanya Naya kurang Percaya diri saja kalau duduk di kursi roda di depan keluarga mas Wijaya."
"Sudah tidak perlu terlalu dipikirkan yang lebih penting itu sekarang kesehatan kamu!"
Anaya melihat kearah cermin meja rias nya.
"Sekarang kamu selesaikan makeup nya ibu mau kembali menyiapkan hidangan di ruang makan, nanti kalau keluarga Nak Wijaya sudah datang, ibu kembali lagi."
"Iya bu."
"Jangan lupa berdandan yang cantik biar calon mertuamu kagum!"
"Ibu ada-ada aja hahahah"
"Ehhh malah tertawa, ya sudah ibu keluar ya."
"Iya ibu."
Anaya memakai beberapa makeup lagi,seolah-olah ingin me.pertegas kecantikannya.
Sementara diluar terdengar suara mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumah Anaya.
Anaya menatap kearah jendela kamarnya.
Hatinya berdebar-debar tak karuan.
"Kenapa aku jdi deg-degan seperti ini, ya Ampun udah kaya anak muda yang lagi kasmaran saja!"
Anaya tersenyum memikirkan perasaannya.
"Sudah pada datang, ayo masuk, apa kabar?"
Ibu dan Ayah Anaya menyambut kedatangan keluarga Wijaya dan mempersilahkan mereka masuk.
"Ayo mari duduk.!"
Keluarga Wijaya tersenyum puas menerima perlakuan baik dari keluarga Anaya.
"Gimana kabar keluarga disini Bu sehat?"
Tanya Ibu Wijaya.
"Kami semua sedang dalam keadaan sehat Bu!"
"Syukurlah."
"Silahkan di cicipi dulu makanan ringan dan minumnya!"
"Terimakasih bu!"
Beberapa saat kedua keluarga terdengar asik mengobrol dan bercengkrama.
"Ngomong-ngomong Anayanya kemana?"
Tanya Ayah Wijaya sembari melirik ke kiri dan kanan mencari-cari keberadaan Anaya.
__ADS_1
"Anaya masih dikamar, biar saya panggilkan.!"
Jawab Ibu Anaya sambil langsung berdiri.
"Emhs bu, biar Wijaya saja yang panggilkan."
Wijaya menawarkan diri.
"Anak ini tidak sabaran sekali ingin bertemu dengan calon istrinya, biarkan saja Bu biar Wijaya yang panggilkan kasihan dia sudah tidak kuat menahan rindu sepertinya hahahah."
Canda Ayah Wijaya, membuat semua orang tertawa.
"Ah Ayah ini bikin malu Wijaya Saja."
"Tidak usah sungkan nak Wijaya silahkan panggillah Anaya dan bawa kemari!"
"Baik bu"
Sementara Wijaya meninggalkan ruangan Tamu, kedua keluarga masih mentertawakan kelakuan Wijaya.
Tanpa mengetuk pintu Wijaya masuk kedalam kamar, terlihat Anaya sedang duduk di atas ranjangnya sambil memandang keluar jendela, perlahan Wijaya mendekati Anaya dengan langkah kaki yang hati-hati dan tidak menimbulkan suara, semakin dekat Wijaya menutup mata Anaya.
"Coba tebak siapa?"
"Arghhhhhh tolong...jangan mas jangan sakiti aku mas aku mohon.!
Anaya berteriak sambil menangis membuat Wijaya kaget.
Wijaya melepaskan tangannya dari mata Anaya dan mencoba menenangkannya.
"Sayang,,sayang tenang ini mas Wijaya sayang!"
Anaya yang masih menutup wajah dengan kedua tangan ya histeris ketakutan.
"Bukan kamu bohong, pergi kamu pergi dari sini.!"
"Sayang buka mata kamu lihat baik-baik!"
"Ada apa ini!"
Tanya Ibu Anaya, sambil menghampiri Anaya yang masih menutup wajahnya.
"Maaf bu Anaya kaget karena saya tidak sengaja ingin mengagetkannya.!"
"Ibu Naya takut bu!"
"Naya sayang buka mata kamu turunkan kedua tangan kamu lalu lihat baik-baik siapa yang ada dihadapanmu!"
Anaya perlahan-lahan menurunkan kedua tangannya dan membuka matanya, saat seharusnya mengetahui orang yang ada dihadapnya adalah Wijaya, Anaya sontak memeluk Wijaya.
"Mas Maafkan Anaya, Naya... Naya...!"
"Sudah sayang tidak apa-apa mas yang minta maaf sama kamu karena bercandaan mas keterlaluan!"
Kedua keluarga saling bertatapan dan melempar senyum merasa lega akhirnya mereka berdua tidak apa-apa.
"Ya sudah sebaiknya kita langsung ke meja makan saja, sebelum makanannya dingin!"
Orang tua Anaya dan Wijaya kekuar dari kamar Anaya dan Menuju ke ruang makan.
Sementara Anaya kembali memeluk Wijaya.
"Mas maafin Anaya mas.!"
"Sudah sayang tidak apa-apa mas juga yang salah karena membuat kamu kaget, mas minta maaf ya."
Anaya mengangguk kemudian melepaskan pelukannya.
"Sekarang kita ikut bergabung dengan keluarga di meja makan saja, ayo!"
Wijaya mendudukan Anaya kembali di tempat tidurnya. Kemudian mengambil kursi roda dan menggendong Anaya untuk duduk di kursi roda.
"Mas...!"
__ADS_1
"Apa sayang?"
"Apa tidak apa-apa kalau Naya duduk di kursi roda?"
"Loh ko ngomongnya gitu sih sayang, kamu jangan khawatir ya, lagian kan orang tua mas sudah tahu apa yang kamu Alami, jadi kamu tidak perlu khawatir ya.!"
Anaya hanya tersenyum.
Wijaya kembali mendorong kursi roda Anaya menuju meja makan...
Sesampainya di meja makan, Anaya kembali di bopong oleh Wijaya dipindahkan untuk duduk di kursi meja makan.
Orang tua Wijaya merasa bangga melihat anaknya begitu bertanggung jawab.
"Anaya bagaimana perasaan kamu sekarng nak?"
Ibu Wijaya bertanya cemas.
"Sudah jauh lebih baik bu, terimakasih!"
Anaya tersenyum.
"Sepertinya kekhawatiranmu terlalu berlebihan, benar saja apa yang dikatakan ibu dan mas Wijaya, keluarga mas Wijaya paham betul dengan kondisiku saat ini, hah syukurlah."
"Mari kita makan!"
Seru Ibu Anaya mempersilahkan tamu-tamunya untuk mulai mencicipi makanan yang sudah terhidang dimeja makan.
"Wijaya sudah menceritakan maksud dan tujuan dari diundangnya kami ke acara makan malam ini, sebenarnya kami setuju-setuju saja apalagi itu demi kebaikan kedua belah pihak,namun melihat kondisi Anaya saat ini apa tidak sebaiknya kita tetap memakai waktu yang sudah kita tentukan sebelumnya saja? atau setidaknya ya sampai Anaya bisa kembali sembuh dan berjalan normal seperti biasa!"
Jelas Ayah Wijaya.
Anaya terkejut mendengar ucapan dari calon mertuanya, sedikit kecewa namun Anaya masih memiliki harapan, Anaya berharap meskipun kondisinya saat ini sedang tidak baik tapi setidaknya tanggal pernikahan tetap di tentukan dari sekarang.
Anaya Menatap kearah Wijaya.
"Mas kenapa kamu diam saja, apa itu berarti tandanya kamu setuju dengan keputusan orang tua mu,kenapa kamu tidak cerita sama Aku mas kalau sebenarnya kamu sudah tahu tentang apa yang akan di katakan Ayah mu.!"
Wijaya masih juga tidak bergeming begitu juga dengan krang tua Anaya, Anaya kecewa karena setiap orang di sekitarnya tidak ada yang angkat bicara tentang keputusan dari Keluarga Wijaya.
Anaya ingin angkat bicara namun Ibunya menatap pada Anaya lalu menggelengkan kepala, Anaya menunduk berpura-pura menikmati makanannya.
"Begini, kalau menurut saya kita tidak bisa bersikeras pada pendirian kita apalagi kondisi Anaya ini hanya sementara, apa tidak lebih baik jika kita kembalikan saja kepada Anak-anak kita?"
Mendengar Ayahnya angkat bicara Anaya merasa lebih baik.
"Kalau begitu, menurut kamu bagaimana Wijaya?"
Ayah Wijaya bertanya kepada Wijaya yang sedari tadi hanya diam dan menikmati makanannya.
Wijaya mengangkat Wajahnya dan menatap Anaya.
"Sebenarnya keputusan Wijaya sudah bulat, bagaimanapun kondisi Anaya Wijaya akan menikahinya dalam waktu dekat, Wijaya tidak mau kehilangan Anaya karena kelalaian Wijaya.!"
Anaya tersenyum puas mendengar Jawaban Wijaya.
"Nah karena kita sudah mendengar jawaban dari Wijaya, bagaimana kalau kita dengar juga jawaban dari Anaya?"
Usul Ibu Wijaya.
Wijaya menatap Anaya sambil tersenyum kemudian menganggukan kepala, seperti memberi isyarat atau mungkin memberikan energi keberanian kepada Anaya untuk mengikuti kata hatinya.
"Kalau Anaya sendiri, Naya akan ikut keputusan mas Wijaya saja!"
Wijaya tersenyum bahagia mendengar jawaban Anaya.
"Karena Anak-anak kita sudah setuju, sebaiknya kita langsung saja tentukan tanggal pernikahan mereka.!"
"Bagaimana kalau awal minggu kedua bulan depan?!"
Usul Ayah Anaya, setiap orang mengusulkan tanggal pernikahan sementara Wijaya dan Anaya saling melempar senyum melihat perbincangan kedua orang tua mereka yang rusuh karena ingin tanggal yang di usulkan oleh mereka di gunakan untuk menikahkan Anaya dan Wijaya.
Bersambung...
__ADS_1