Bahagia Yang Salah

Bahagia Yang Salah
Persidangan Pertama


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama persidangan Anaya dan Pramono sesuai jadwal yang telah ditentukan.


Anaya diantar Ibu dan Adiknya ke persidangan pertama, mereka tampak telah duduk di ruangan sidang hanya Pramono yang belum terlihat hadir...


"Kenapa Pramono belum datang?"


Tanya ibu Naya penasaran


"Tidak apa-apa bu justru ini akan semakin cepat selesai andai dia tidak datang ke persidangan selama 3 kali berturut-turut"


"Apa yang dikatakan Nona Anaya benar adanya, kita tidak perlu khawatir atas ketidak hadiran Tuan Pramono dalam persidangan"


Ucap Pengacara Anaya meyakinkan..


Sementara itu di tempat lain...


"Mas kamu ga boleh hadir dalam persidangan ini!"


Teriak Rania dari dalam rumah setengah berlari mengejar Pramono yang berjalan melangkah keluar rumah.


"Rania cukup!, kamu mau kita menjadi miskin!?"


"Tapi aku juga tidak rela jika terus menjadi


istri muda yang hanya dinikahi secara siri mas!"


"Kamu lebih ingin melihat kita bangkrut dan jatuh miskin lalu hidup di jalanan hah?!"


"Mas kamu bisa meminta harta gono gini pada Anaya salah satu nya rumah ini dan seisinya!"


"Kamu pikir Perempuan itu akan berbelas kasih memberikan apa yang kita inginkan setelah semua yang kita lakukan kepadanya,jangan mimpi kamu Rania, kita berdua bahkan akan dipecat dari pekerjaan dan tidak akan ada perusahaan yang mau mempekerjakan kita!"


"Lantas kamu mau apa mas?"


"Aku akan hadir ke persidangan ini, dan berpura-pura masih mencintainya,jadi aku tidak akan kehilangan apapun dan Wanita Licik itu tidak akan pernah bisa menikah dengan siapapun lagi hahahah"


Rania kesal mendengar jawaban Pramono dengan tawa puasnya.


"Kalau begitu aku ikut mas"


"Tidak perlu kamu di rumah saja tunggu!"


''Tapi mas!"

__ADS_1


"Sudah mas pergi dulu ya."


Rania terpaksa mengikuti kemauan Pramono untuk tetap tinggal di rumah...


Sesampainya di Di pengadilan Pramono sudah ditunggu oleh pengacaranya, mereka berdua langsung memasuki ruangan persidangan.


Pramono menatap Anaya yang kini duduk di sebelahnya.


"Kamu sudah memulai semua ini,tapi kamu harus mengikuti alur yang aku buat"


Gumam pramono dalam hatinya sembari tersenyum menatap Anaya.


Anaya memilih memalingkan muka dan berpura-pura tidak melihatnya.


Persidangan hari ini begitu berliku bagi Anaya, disatu sisi Pramono ingin tetap menjalani pernikahan ini tapi disisi Anaya, sedikitpun tidak berubah tetap ingin bercerai.


Sementara di tempat parkir Pramono menghampiri Anaya


"Jangan harap aku akan diam saja kamu jatuhkan seperti ini, aku tidak akan merelakan sedikitpun yang seharusnya menjadi miliku dinikmati sendiri oleh mu!"


Kemudian Pramono menju mobilnya dan keluar dari Parkiran.


"Sebaiknya Nona Anaya segera memproses pemindahan Tuan Pramono ke kantor cabang yang ada diluar kota sesuai rencana nona!"


Tanya Anaya pada pengacaranya


"Saya rasa yang dimaksud tuan Pramono barusan adalah harta yang keluarganya alihkan ke nyonya"


"Lalu?"


"Tuan Pramono berpikir bahwa nona akan memecat nya dan membuat dia jatuh miskin!"


"Pemikirn yang gila"


"Sebaiknya kamu bicarakan baik-baik rencana kamu kedepanya terhadap Pramono dan istrinya itu,siapa tahu mereka akan paham jika di ajak bicara"


Ibu Anaya memberi saran


"Apa yang nyonya sepuh katakan itu ada benarnya nona"


"Baiklah sekarang kita langsung kerumahnya saja, Naya tidak mau membuang-buang waktu lagi"


Setibanya dirumah Pramono...

__ADS_1


"Sayang... sayang...!"


Pramono memanggil Rania


"Ada apa sih mas ko pake teriak-teriak segala?"


"Lihat siapa yang datang"


Rania tertegun melihat Anaya sudah duduk di ruang tamu bersama beberapa orang.


"Mau apalagi kamu kesini?,bahagia kamu karena mas Pram memilih mempertahankan rumah tangga kalian?"


"Justru aku merasa jadi perempuan paling tidak beruntung didunia ini karena harus berada di tengah-tengah kalian berdua"


"Sudah-sudah, kalian berdua harus belajar akur dong kan sebentar lagi kita akan tingga satu atap"


"Aku akan memindah tugaskan kalian ke kantor cabang luar kota, dan aku sudah menyiapkan rumah beserta isinya disana untuk kalian tempati, sementara rumah ini akan aku hibahkan pada anak-anak jalanan!"


"Kalau kami tidak mau?"


Jawab Rania


"Terserah kalian boleh memilih ko, jika mas Pram tetap ingin seperti sekarang ceraikan Rania, kecuali kalian ingin jadi gelandangan, aku akan sangat senang mengabulkanya"


"Mas,!"


Rania menyentuh bahu Pramono


"Aku akan menyetujui Perceraian ini dengan syarat semua harta yang keluargaku alihkan kepadamu kamu kembalikan atas namaku!"


"Oh ya,jika kamu ingin seperti itu berarti kamu lebih senang menjadi gelandangan di jalanan, mulai besok kalian tidak perlu datang lagi ke kantor aku akan memecat kalian!"


"Perasaan apa ini, rasanya ini tidak seperti diriku, maafkan aku mas Pram, aku tidak punya pilihan selain memanfaatkan semua ini untuk berpisah dengan mu"


"Naya mari kita pulang!"


Ibu Anaya menepuk pundak anaknya yang tengah tertegun.


Anaya melirik kearah ibunya dan melihat ibunya mengangguk.


"Pilihan ada di tangan kalian, pikirkanlah dulu sampai sidang berikutnya,dan seperti yang Aku katakan tadi kalian tidak perlu datang ke kantor sampai kalian memberi keputusan!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2