
Pramono nampak kesal sepulang menghadiri acara pertunangan Anaya dan Wijaya,dia lebih sensitif di banding biasanya.
"Mas kamu kenapa sih sejak pulang dari acara pertunangan Anaya bawaannya sensitif melulu,kamu cemburu?!"
"Diam kamu suami lagi kesal kamu malah nuduh-nuduh lagi!"
"Iya terus kamu kesal kenapa? cerita dong sama aku!"
"Kamu bisa diam atau tidak?!"
"Mas ingat mas kita sudah punya Anak jangan sampai kamu cemburu pada Anaya, dia tidak akan mau kembali ke kamu, kamu lupa setelah semua yang kita lakukan kepada Anaya,tapi Anaya masih berbaik hati memaafkan kita?!"
"Jaga bicara kamu ya, kalau kamu masih bicara juga, aku ceraikan kamu!"
Rania menangis dan terduduk di kursi mendengar jawaban Pramono.
"Ternyata kamu masih mencintainya mas, setelah semua yang kita lewati kamu tidak sepenuhnya mencintaiku!"
"Bagus kalau kamu sadar,besok kamu pulang duluan keluar kota aku sudah menyiapkan tiket untuk kamu!"
"Lalu mas, bagaimana dengan kamu?"
"Aku masih ada pekerjaan yang harus aku urus disini!"
"Mas jangan bilang ini tentang Anaya!"
"Berhenti memintaku mengatakan apa yang tidak ingin aku katakan, dan sebaiknya kamu tutup mulut kamu, kamu hanya perlu mengikuti perintahku!"
Rania tersendu mendengar ucapan kasar dari laki-laki yang selama ini diperjuangkannya.
..."Baru kali ini dia se marah ini terhadapku sebenarnya apa yang dia inginkan, aku tidak bisa tinggal diam, aku tidak boleh pergi dulu, aku harus tetap berada di kota ini meski tidak satu rumah dengan mas Pram, semua ini demi anak ku, aku tidak mau dia tumbuh dewasa tanpa seorang ayah disisinya,iya benar aku tidak boleh mengalah!"...
"Baik mas aku akan ikuti semua kemauan kamu, besok aku akan pulang!"
"Bagus kalau kamu mau mengikuti mauku!"
Rania beranjak berniat pergi ke kamar.
"Hey mau kemana kamu?"
"Apalagi mas? aku mau istirahat di kamar!"
"Kamu bikinkan aku minum dulu sana ke dapur!"
"Tapi mas...!"
"Oh jadi sekarang sudah berani membantah kamu ya"
"Mas biasanya juga kamu ambil sendiri ke dapur!"
"Kamu ini benar-benar sudah tidak betah jadi istriku?!"
__ADS_1
Rania dengan kesal menuju dapur dan mengambilkan minum kemudian menyimpannya dimeja.
"Kamu mau aku ambilkan apa lagi?"
Tanya Rania ketus.
"Kamu ngeledek aku?"
"Ya ampun mas aku cuman tanya biar sekalian aku ambilkan sebelum aku ke kamar, maksud aku gitu."
"Halah diam kamu, pergi sana muak aku ngeliat kamu yang serba ga becus, apa-apa ga bisa!"
"Mas kamu ko keterlaluan sih sama aku!"
Plakkk Rania di tampar oleh Pramono sampai tersungkur di kursi, Rania menatap Pramono sambil memegang pipinya, pramono masih berdiri dan menatap Rania penuh dengan emosi.
Rania bangkit kemudian berlari kearah kamar, Rania menangis di kamar sejadi-jadinya.
"Baru kali ini mas Pram berani menamparku, laki-laki yang begitu lembut baik hati penyayang dan penuh pengertian, kenapa sekarang berubah begitu cepat hanya dalam hitungan jam menjadi begitu pemarah dan kasar, apa ini kamu yang sebenarnya mas?"
Pramono masih menatap tangannya yang baru saja dia gunakan untuk menampar istrinya,Pramono terduduk di kursi sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Apa ini, kenapa aku bisa menampar Rania, tapi perempuan ini memang jauh berbeda di bandingkan Anaya, dia serba cekatan dan tanpa diminta pun selalu sudah tersedia di hadapanku apapun yang aku butuhkan, dan hari ini dia begitu cantik, anggun bahkan sangat mempesona, bodoh sekali aku tidak pernah menyadari memiliki istri yang begitu sempurna!"
Pramono menyesali perbuatanya meninggalkan Anaya demi Rania, namun alih-alih tidak mengulangi kesalahannya dulu Pramono malah memiliki ambisi untuk kembali kepada Anaya dan menghalalkan segala cara.
Pramono menuju kamar, dia mengetuk pintu dan meminta Rania membukakan pintu untuk nya.
"Maafkan mas sayang,mas tadi emosi mas hanya kecapean tidak ada maksud apa-apa,tolong kamu kedepannya berusaha menjadi istri yang lebih baik lagi yah supaya mas tidak emosian lagi ya!"
"Iya mas"
Rania menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan Pramono sambil menangis tersendu-sendu.
"Sudah jangan menangis lagi, bagaimana kalau sebagai permintaan maaf mas kita makan malam diluar ya,kamu mau?"
"Iya mas aku mau"
"Ya sudah sebaiknya kamu mandi dan siap-siap ya nanti selesai kamu mandi gantian mas yang mandi"
"Iya mas"
Rania bangkit dan mengambil baju mandi nya kemudian bergegas ke kamar mandi, rasa trauma ditampar Pramono masih begitu jelas terasa oleh Rania, sehingga kali ini dia lebih cepat melaksanakan apa yang Pramono minta.
"Kamu sudah siap Ran?"
"Sebentar lagi ya mas"
"Ya sudah mas tunggu di depan ya, kamu jangan lama-lama!"
"Iya mas!"
__ADS_1
Pramono menunggu Rania di dalam mobil di halaman rumahnya, beberapa menit berlalu Rania belum juga muncul, pramono berkali-kali menyalakan klakson mobilnya dan nampak mulai kesal namun Rania belum juga keluar rumah.
Dengan kesal pramono keluar mobil dan measuki rumah saat pramono akan masuk kedalam kamar Rania sudah lebih dulu keluar.
"Kamu ini lelet banget sih, disuruh cepat-cepat cuman iya-iya doang!"
"Ya maaf mas,namanya juga perempuan kan kalo dandan lama!"
"Halah ngeles aja kamu Anaya juga perempuan tapi dia tidak pernah dandan lama-lama kaya kamu!"
"Mas ko kamu malah banding-bandingin aku sama Anaya sih sekarang!"
"Memang faktanya begitu!"
"Mas kamu ini..."
"Diam kamu, cepat berangkat,keburu tengah malam nanti!"
Sesampainya di restoran mereka makan bersama satu meja, tapi mereka tidak terlihat seperti suami istri yang ada malah terlihat seperti musuh saling berdiam-diaman dan acuh tak acuh...
"Anaya aku pastikan kamu akan kembali kepelukanku, apapun dan bgaimanapun caranya kamu tunggu saja, aku tidak kan merelakan kamu bersama si brengsek Wijaya bahagia begitu saja"
Pramono bergumam dalam hatinya tanpa dia sadari dia memotong-motong daging panggang dihadapanya dengan sangat kasar, membuat orang-orang disekitarnya merasa ngeri.
"Mas!"
"Mas...!"
"Mas!!!"
"Hah apa?"
"Kamu dari tadi motongon daging apa motongin manusia sih, kamu lihat tuh semua orang menatap kearah kita karena cara kamu motong daging"
"Apa?"
Pramono melihat kesekelilingnya kemudian kembali menatap Rania
"Kenapa kamu tidak bilang sejak tadi?"
"Aku sudah manggil kamu berkali-kali tapi kamu fokus sama daging kamu!"
"Kamu ini alasan saja!"
"Ada apa dengan kamu hari ini mas, benar-benar tidak seperti biasanya, aku bahkan tidak bisa mengenali kamu hari ini"
Rania memilih diam dan meneruskan makan dari pada mengambil resiko membela diri tapi akan berakhir mempermalukan diri didepan umum.
Sesuai kata pepatah...
Jika yang kamu ambil itu milik orang lain, dan dengan mudah kamu mendapatkanya maka kamu juga akan dengan mudah kehilanganya...
__ADS_1
Bersambung...