
"Pagi sayang...!"
"Pagi juga mas.!"
"Kamu mau kemana sudah rapi pagi-pagi kaya gini?"
Tanya Wijaya Pada Anaya.
"Ke kantor lah mas mau kemana lagi."
Jawab Anaya sambil tersenyum dan kembali memakai makeup.
"Tapi sayang bukanya dokter sudah bilang kalau kamu harus istirahat dulu lagian kan baru satu hari kemarin aja kamu istirahat nya."
"Dua hari mas..."
"Ya enggak lah itu kan pas hari kamu di periksa dokter"
"Ga papa mas, percaya deh aku udah lebih baik udah segeran ko liat kan?"
"Tetep aja sayang sehari lagi saja ya?"
"Aku bosan mas d kamar terus."
"Iya pindah aja ke ruang tamu heheheh"
"Ikhsss massss!"
"Becanda sayang ih ngambekan"
"Abis mas nya gitu!"
"Kan bercanda doang sayang"
"Iya,,,iya"
"Intinya hari ini kamu jangan dulu ke kantor, ya!"
"Tapimas udah tanggung ini, Naya udah dandan udah siap-siap tinggal berangkat."
"Pokoknya enggak boleh,mas ga ijinin kamu keluar dari rumah terutama dari kamar ini"
"Ih ngeselin banget sih mas"
"Terserah,biarin, ga papa, yang penting kamu cepat sehat!"
"Mas...."
"Ga boleh pake tapi-tapian lagi!"
"Ya udah deh iya tapi ada syaratnya!"
"Apa?"
"Temenin yah?"
"Tapi kan mas harus ke Klinik"
"Tuh kan ya udah Naya juga pergi kerja aja!"
"Eh jangan dong!"
"Ya udah temenin dong!"
"Hemhsss kamu ini, tar yah mas pikir-pikir dulu!"
"Tuh kan gitu mulu,emang ngeselin!"
"Hahahh iya deh iya mas temenin, tapi....."
"Tapi apa?"
"Tapi sayang juga kalau mas gak jadi pergi ke klinik..."
"Memangnya kenapa?"
"Iya sayang aja, mas udah ganteng dan rapih begini kan, mubajir dong kalau cuman dinikmati sama Calon istri doang!"
"Ohhhhhh jadi gitu ya, udah berani ya sini biar ga mubijr..."
__ADS_1
Anaya mengacak-acak rambut Wijaya sampai berantakan,Wijaya yang mencoba mempertahankan rambutnya tidak berdaya hanya mampu pasrah.
"Tuh sudah gak mubajir lagi kan?"
"Ya ampun rambut ku!"
Canda Wijaya sambil berkaca pada cermin.
"Masih kurang yah sini Naya tambahin!"
"Kalau sudah di acak-acak kaya gini seharusnya tinggal di sayang heheh"
"Canda Wijaya lagi sambil merapihkan rambut nya.
"Mau nya memang!"
"Iya mau lah."
"Oh ya mas ngomong-ngomong kmaren ada Rania kesini."
"Apa,sama siapa dia kesini,dan mau apa,dia nyakitin kamu? kenapa ga nelpon mas biar mas kasih pelajaran tu mereka!"
"Itu pertanyaan atau kereta sih mas panjang banget!"
"Iya kan mas khawatir sayang"
"Dia datang sendiri mas"
"Lantas mau apa dia kemari?"
"Jadi ceritanya gini mas..."
Anaya menceritakan semua kejadian yang dialami nya saat Rania datang menemuinya ke kamar kemarin.
"Ya sudahlah,lagian itu juga kan sebagian besar salah nya dia"
"Iya sih mas tapi melihat perlakuan mas Pram terhadap Rania dan omongan-omongan mas Pram terhadap Naya kemarin-kemarin malah bikin Naya jadi takut Mas"
"Ga perlu takut Sayang, mas akan terus lindungin kamu"
"Makssih mas"
"Mas...!"
"Hemhsss"
"Sebenarnya sebelum kejadian siang itu Mas Pram datang menemui Naya di restoran dekat kantor"
"Apa,?!"
"Iya mas maaf Naya baru cerita"
"Apa yang sudah dia lakukan sama Kamu,apa dia nyakitin kamu juga seperti kejadian di Kantor?"
"Enggak mas!"
"Lalu apa yang kalian lakukan di restoran?"
"Awalnya Naya pikir mas Pram sudah berubah, jadi saat mas Pram menghubungi Naya dan berkata ada hal penting yang harus dibicarakan, Naya mengiyakan dan menemui mas Pram di restoran itu."
"Lalu?"
"Saat Naya tanya masalahnya apa, mas Pram mengatakan ingin kembali dan memperbaiki semuanya!"
"Kamu jawab apa?"
"Naya bilang tidak bisa, tapi dia bersikeras akan menghancurkan hubungan kita mas!"
"Dasar Brengsek!"
"Apa yang harus Naya lakukan mas Naya takut sekali jika Naya keluar rumah mas Pram akan mengikuti Naya lagi seperti tempo hari"
"Maksud kamu apa dengan mengikuti seperti tempo hari?"
"Seperti siang itu yang kita lihat di restoran...."
Naya kembali menceritakan kejadian sebenarnya dari awal hingga akhir.
"Kenapa kamu gak cerita sih Nay,kalau seandainya mas siang itu tidak di telpon oleh sekertaris kamu mas ga akan bisa nolongin kamu,kamu juga jadi orang jangan baik-baik banget akhirnya di manfaatin kan sama mereka!"
__ADS_1
"Iya mas Naya minta maaf"
"Mulai hari ini kemanapun kamu pergi harus selalu pake supir jangan pergi-pergi sendiri lagi!"
"Tapi mas..."
"Sudah jangan nawar lagi hari ini mas carikan sopir buat kamu supaya besok kamu mau ke kantor atau pergi kemanapun ada yang jagain, setidaknya mas bisa sedikit lebih tenang jika di klinik sedang sibuk"
"Iya mas, makasih ya"
Anaya memeluk Wijaya dari samping dan menyandarkan kepalanya pada pundak Wijaya.
"Udah dong jangan marah lagi mas,jelek tahu!"
"Mas gak marah cuman khawatir"
"Iya deh iya tapi udah aja jangan gitu ekspresinya,senyum dong!"
Wijaya tersenyum namun seolah-olah senyumannya terpaksa dia lakukan karena masih merasa kesal dengan kelakuan Anaya.
"Jangan terpaksa gitu dong mas"
Wijaya tidak menimpali, sampai akhirnya Anaya melepaskan pelukannya dan berpindah berdiri di hadapan Wijaya.
"Apa?"
Tanya Wijaya melihat ekspresi Anaya yang kini berdiri di hadapannya.
Tanpa menjawab Anaya langsung menyentuh wajah Wijaya dengan kedua belah tangannya, dan ******* bibir Wijaya.
Wijaya sedikit tersentak kaget melihat reaksi Anaya, namun melihat Anaya yang menutup mata Wijaya pun membalas cumbuan bibir Anaya, hingga terbaring di atas ranjang, Wijaya memeluk erat tubuh Anaya yang kini tengah menindih tubuh Wijaya,Mereka berguling dan berganti posisi kini Wijaya yang menindih tubuh Anaya, kecupan demi kecupan Wijaya berikan pada bibir dan leher Anaya, sementara yang terdengar hanya desahan demi desahan lembut dari mulut Anaya, suasana dikamar yang semakin memanas, napas Anaya dan Wijaya saling memburu, semakin erat pelukan Anaya pada tubuh Wijaya membuktikan semakin terhanyut mereka kedalam samudera cinta,Perlahan Anaya membuka satu demi satu kancing kemeja Wijaya.
Tok...tok...tok!
Tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara ketukan pintu.
"Tuan,Nyonya!, saya mau antar sarapan dan obat untuk nyonya!"
Wijaya dan Anaya kaget kemudian bangkit dan merapikan pakaian mereka.
"Iya bi tunggu sebentar!"
Jawab Anaya sambil merapihkan rambutnya.
Wijaya yang berjalan membuka pintu, setelah melihat Anaya selesai merapihkan rambut dan baju nya.
"Masuk bi!"
"Terimakasih Tuan!"
Wijaya tersenyum sambil mengangguk.
Setelah selesai menyimpan sarapan dan obat di meja kamar Anaya, tanpa sengaja Pelayan melirik tempat tidur Anaya yang berantakan, saat itu Pelayan sadar bahwa kedatanganya ternyata mengganggu kesenangan majikanya.
Anaya dan Wijaya sepontan menjadi kikuk dan saling tatap satu sama lain.
"Emhsss ini akan saya bereskan sendiri bi, bibi boleh keluar."
Ucap Anaya sambil berdiri.
Pelayan itu tersenyum ke arah Anaya dan Wijaya.
"Saya permisi nyonya!"
"Iya bi makasih!"
Setelah Pelayan keluar kamar, Anaya dan Wijaya tertawa geli dengan kelakuan mereka berdua.
"Bibi ganggu aja ya...!"
Ucap Wijaya pada Anaya.
"Mas sih nakal..."
"Ko mas coba?"
Anaya dan Wijaya tersenyum sambil saling menggelitik.
"Bersambung..."
__ADS_1