
Seribu pertanyaan berkecambuk didalam hati Wijaya, heran dan penasaran berbaur membuat Wijaya merasakan kepiluan yang dalam.
"Aku harus menghubungi keluarga Anaya dan memberi tahu mereka keadaan Anaya"
Wijaya mengambil telpon genggam dari saku jas nya.
"Halo, bagaiman kabarnya nak Wijaya?, Tumben nelpon Ibu ada apa?"
"Baik bu, Anaya masuk rumah sakit bu."
"Apa...!"
Suara Ibu Anaya mulai terdengar sendu terdengar isak tangis dari balik telpon.
"Iya bu, saya sekarang sedang menuju ke rumah sakit"
"Kenapa dengan Anaya nak Wijaya?"
"Ceritanya panjang bu biar nanti Wijaya ceritakan kalau Wijaya sudah melihat kondisi Anaya!"
"Baiklah nak Wijaya kirim saja Alamat Rumah sakit nya nanti ibu sama Ayah kesana!"
"Nanti biar saya minta pak Wahyu saja Yang jemput ibu sama Ayah"
"Tidak perlu Nak Wijaya, itu akan memakan lebih banyak waktu, biar ibu naik taxi online saja!"
"Baik bu nanti akan Wijaya kabari lagi kalau sudah pasti Alamat rumah sakit nya!"
"Baiklah Nak Wijaya hati-hati tolong titip Anaya !"
"Baik bu, saya tutup telponnya!"
Wijaya menutup telpon kemudian kembali mencoba menghubungi Pak Wahyu untuk memastikan keadaan Anaya, namun tetap tidak ada Jawaban.
"Ya ampun Pak Wahyu kemana lagi bikin khawatir orang aja"
Wijaya mendatangi rumah sakit dekat komplek perumahan Anaya, usai memarkirkan mobil Wijaya berlari menuju Meja Resepsionis.
"Suster Apa ada pasien bernama Anaya yang datang hari ini?"
"Sebentar saya carikan dulu di daftar pak!"
"Baik sus tolong cepat ya!"
Suster mencari Nama Anaya di daftar buku pasien.
"Pasien Atas Nama Anaya ada pak, dirawat di kamar nomor 12 di ruang Mawar"
"Syukurlah terimakasih suster!"
Wijaya berlari menuju kamar rawat Anaya, Wijaya melihat Pak Wahyu sedang duduk di kursi tunggu didepan kamar rawat Anaya.
"Pak Wahyu!"
Seru Wijaya, Pak Wahyu berdiri seketika dan menghampiri Wijaya yang berlari kearahnya.
"Tuan saya minta maaf saya tidak bisa menjaga Nyonya Anaya!"
"Sudah pak nanti saja ceritanya, bagaimana kondisi Anaya?"
''Nyonya Anaya sudah siuman tuan, sekarang Nyonya Anaya sedang istirahat, Dokter bilang belum ada yang boleh menemui Nyonya untuk saat ini, karena Nyonya perlu istirahat!"
"Hah syukurlah"
Wijaya menatap Anaya dari kaca balik pintu, melihat kondisi Anaya yang terbaring lemah membuat Wijaya merasa tidak berguna.
Kemudian Wijaya duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
"Sini pak coba duduk disini, ceritakan apa yang terjadi, dan kenapa bapak sulit sekali dihubungi?"
"Baik tuan, maaf tuan sepertinya Handphone saya tertinggal di rumah Nyonya, atau entah jatuh saat saya mencoba mendobrak pintu rumah nyonya Anaya."
"Apa yang sebenarnya terjadi pak?"
"Sepulang meeting saya mengantarkan nyonya Pulang kerumah, lalu Nyonya meminta saya mengantarkan sekretarisnya pulang, setelah saya pulang...."
Pak Wahyu menceritakan setiap kejadian dengan detail, Wijaya yang mendengar cerita Pak Wahyu mulai geram, tangannya mengepal seolah-olah siap menghajar Pramono.
"Lagi-lagi ******** tengik itu,tidak bisa dimaafkan, aku harus bikin perhitungan dengan dia!"
Wijaya bangkit dan seolah akan pergi, namun Pak Wahyu berhasil menahannya.
"Tuan sebaiknya jangan gegabah, apalgi saat ini Nyonya membutuhkan tuan di sisinya, sebaiknya tuan temani Nyonya sampai membaik setelah itu baru kita pikirkan bagaimana cara yang tepat untuk memberikan pelajaran pada Tuan Pramono!"
Usul pak Wahyu.
Wijaya menarik napas panjang kemudian duduk kembali di kursi tunggu setelah mendengar usulan pak Wahyu.
"Baiklah pak, lantas bagaimana keadaan pelayan rumah?"
"Akibat mengalami benturan keras dibagian kepala belakang, bibi harus di Operasi karena ada gumpalan darah yang bisa sangat berbahaya!"
"Apa?!, lalu apa pak Wahyu sudah menyetujui usulan dokter?"
"Maaf tuan saya terpaksa menyetujuinya, karena operasi harus dilakukan dengan segera!"
"Baguslah pak, saya justru akan marah jika sampai bibi kehilangan nyawanya karena telah berusaha menyelamatkan Anaya"
"Tuan tidak marah?"
"Kenapa saya harus marah pak ini sudah jadi kewajiban saya menanggung semua biaya pengobatan bibi dan Anaya!"
"Syukurlah!"
Pak Wahyu tersenyum lega.
"Tapi tuan..."
"Sudah pak tidak perlu tapi-tapian sekarang bapak pulang dan istirahat, besok pagi-pagi datang lagi kesini!"
"Baiklah tuan saya permisi!"
"Iya!"
Pak Wahyu berpamitan meninggalkan Rumah sakit untuk pulang dan istirahat.
"Aku hampir lupa belum mengabari kembali kondisi dan Alamat rumah sakit tempat Anaya di rawat!"
Wijaya menelpon keluarga Anaya dan memberi tahukan Alamat rumah sakit tempat Anaya dirawat.
"Baiklah Nak Wijaya, ibu sama Ayah sekarang sudah di jalan menuju kesana tapi masih beberapa jam lagi kami akan sampai tolong jaga Anaya sampai kami tiba di rumah sakit!"
"Tentu bu, ibu tidak perlu khawatir!"
"Baiklah terimakasih nak!"
"Sama-sama bu!"
Wijaya kembali berdiri, tiba-tiba seorang suster menghampiri Wijaya.
"Permisi anda wali dari pasien yang datang bersama perempuan di dalam kamar?"
"Oh ya tentu saya, bagaimana operasi nya suster?"
"Operasi sudah selesai dilakukan dan sekarang pasien sudah melewati massa kritis nya kita hanya perlu menunggu hingga pasien siuman!"
__ADS_1
"Baik suster terimakasih!"
"Tentu, silahkan selesaikan administrasi nya di kasir!"
"Baik suster!"
"Mari!"
Wijaya melirik kearah kamar Anaya, kemudian pergi ke arah kasir.
Selesai menyelesaikan administrasi Wijaya mencari tahu kamar rawat dari pelayan Anaya.
Kemudian Wijaya melihat keadaan pelayan dari luar ruangan, karena suster belum membolehkan ada orang yang menjenguknya.
"Ya ampun bibi, terimakasih karena bibi sudah rela mengorbankan diri bibi demi melindungi Anaya!"
Lama Wijaya tertegun melihat perempuan yang hampir sebaya dengan Ibunya, dengan kondisi masih terbaring di tempat tidur,tanpa terasa Wijaya meneteskan air mata nya di pipi.
Kringggg!
Kringggg!
Suara handphone Wijaya berbunyi, membuat Wijaya tersentak dan menghapus air matanya.
"Oh ibu Anaya!"
Wijaya mengangkat telponnya.
"Iya ibu."
"Nak Ibu sudah di depan rumah sakit.!"
"Baik bu Wijaya segera kesana!"
"Iya ibu tunggu!"
Wijaya melirik ke arah pelayan yang masih terbaring di kamar rawatnya,kemudian Wijaya berjalan kearah pintu masuk rumah sakit disana sudah nampak Ibu dan Ayah Anaya, Wijaya mencium tangan Ibu dan Ayah Anaya kemudian mengajak mereka untuk segera melihat kondisi Anaya.
Disaat yang bersamaan, seorang Dokter baru saja keluar dari dalam kamar rawat Anaya, Wijaya menghampiri dokter itu.
"Dok... gimana keadaan Pasien dok?"
"Loh Dokter Wijaya?"
"Ya Ampun Dokter Reyhan!"
Dokter Reyhan memeluk Wijaya.
"Jadi Pasien yang didalam itu siapa Dok?"
Tanya Dokter Reyhan pada Wijaya.
"Itu calon istri saya Rey!"
"Kamu, dan ibu serta bapak tidak perlu khawatir Pasien baik-baik saja, sekarang pasien sedang tidur jadi sudah boleh ada yang menemani tapi lebih baik satu orang saja yang menemaninya!"
"Baik Dokter Reyhan terimakasih!"
"Tidak perlu sungkan Dokter Wijaya"
Wijaya tersenyum menatap Dokter Reyhan.
"Senang bisa bertemu teman satu perjuangan.!"
Ucap Dokter Reyhan smbil menepuk bahu Wijaya.
"Lama tidak berjumpa Rey.!"
__ADS_1
Reyhan dan Wijaya bertukar no telpon kemudian mereka berpisah, sementara Wijaya membiarkan Ibu Anaya menemani Anaya di dalam kamar rawatnya.
Bersambung...