
Pernikahan yang nampak bahagia dari luar, aku tampak sebagai wanita paling beruntung di dunia memiliki suami yang mapan, namun bagiku itu semua hanya cangkang yang nampak indah dari luar namun rapuh dari dalam... Aku memiliki semuanya yang aku butuhkan namun tak ada bahagia sedetikpun dalam hidupku, bahagia itu bagaikan hal tabu dalam hidupku, bagaimana tidak 4 tahun pernikahan tidak sekalipun dia memperlakukanku dengan semestinya sebagai seorang istri aku hanya bagaikan pelayan rumah tidak lebih.
"Nyonya apa anda butuh sesuatu?"
Suara pak Nuh membuatku terbangun dari lamunan.
"Emhsss tidak pak"
"Baiklah nyonya"
"Pak Bisa tolong berhenti sebentar di mini market depan, saya akan membelikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah"
"Baik Nyonya"
Mobil Pun berhenti di depan sebuah Mini market yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman keluarga Anaya. Pak Nuh mengikuti langkah Anaya dari belakang masuk kedalam Mini market.
Selesai memilih beberapa cemilan dan sudah membayar Pak Nuh disibukan dengan beberapa tas belanja yang berisi makanan,tiba-tiba Brush!
"Awww"
Teriak anaya dalam keadaan posisi tengah terduduk dilantai.
"Maafkan saya nona, saya tidak sengaja, saya tidak melihat anda, apa anda terluka? mari saya antar ke rumah sakit, bagian mana yang sakit?"
Anaya menatap tangan yang tengah menyentuh nya menyusuri nya hingga ke wajah pria tersebut, tanpa sadar Anaya menatap lekat wajah lelaki tersebut, pandangan mereka beradu degup jantung Anaya terasa lebih kencang dari biasanya.
"Apa ini mimpi? kenapa dia begitu tampan dan bercahaya, perasaan apa ini,kenapa jantungku rasanya mau copot"
Seorang laki-laki sebaya dengan Anaya tanpa sengaja menabrak Anaya dari belakang,Pak Nuh berlari menghampiri Anaya yang sedari tadi hanya terdiam memandang laki-laki yang menabraknya.
"Nyonya ,apa anda terluka?"
Seru Pak Nuh,membuat Anaya tersentak dan berdiri dengan bantuan laki-laki disampingnya.
"Em ti ti tidak pak, saya tidak apa-apa Pak, tidak perlu khawatir"
Jawab Anaya gugup sembari coba mengendalikan perasaanya.
Pak Nuh hanya menganggukkan kepala kemudian berlalu dari hadapan Anaya.
__ADS_1
"Anda sungguh tidak apa-apa nona?"
Anaya tertegun mendengar suara lembut ditelinga nya.
"Apa ini bukankah tadi itu mimpi kenapa aku masih bisa mendengar suara lembut itu"
Anaya menatap perlahan kearah suara tersebut. Anaya ternganga melihat lelaki itu disisinya, Anaya tersadar bahwa ini kenyataan.
"Nona anda kenapa? apa anda baik-baik saja?"
Melihat Anaya yang ternganga menatap kearahnya membuat lelaki tersebut merasa kebingungan.
"Nona, nona!"
Laki-laki itu membuyarkan pandangan Anaya.
"Emh eu i i iya saya baik-baik saja"
Jawab Anaya terbata, lelaki itu tersenyum sembari mengeluarkan dompet dan mengambil kartu nama dari dalamnya.
"Syukurlah kalau begitu tolong simpan ini barangkali nanti ada yang anda rasakan akibat benturan saya tadi, anda jangan sungkan menghubungi saya nona"
"Tampan sekali"
Sementara di tempat lain Pramono tengah Sibuk dengan urusan perusahaan nya...
Tok...tok... terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan Pramono
"Masuk!"
Terlihat Rania sekertaris Pramono membawakan beberapa berkas untuk ditanda-tangani.
"Pak ini berkas-berkas hasil meeting tadi pagi dengan para klien"
"Simpan saja dulu nanti akan saya periksa"
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi"
"Kamu bisa temani saya makan siang Ran?"
__ADS_1
Rania menghentikan langkah kakinya, dia tersenyum kemudian berbalik ke arah Pramono dan menganggukkan kepala malu-malu.
"Kamu mau makan dimana Ran?"
"Saya ikut bapa saja"
"Kalau sedang diluar panggil Mas saja biar lebih akrab"
"Ba ba baik mas"
Jawab Rania gugup, dia menutupi bunga-bunga yang tengah bermekaran dalam hatinya dengan kegugupan.
Pramono tidak bisa menyembunyikan rasa ketertarikan hatinya terhadap sekertaris muda nan cantik disebelahnya.
Perasaan itu semakin kuat seiring sering bertemunya mereka di kantor.
"Kamu mau makan steak?"
"Boleh juga Pak, emhsss maksud saya mas"
Pramono menatap mesra dengan senyum manisnya.
Sesampainya ditempat makan mereka berbincang mesra sembari sesekali Pramono menatap mata Rania Penuh bujuk Rayu.
"Akhir pekan ini kamu ada acara Rania?"
Tanya Pramono penuh harap
"Emhsss tidak ada mas"
"Bagaimana kalau kita menonton Pementasan kembang api?"
"Tentu mas"
"Baiklah akhir pekan nanti saya jemput kamu ke rumah pukul 08 malam."
Rania menganggukkan kepala dengan senyuman merekah dibibir nya.
Bersambung...
__ADS_1