Bahagia Yang Salah

Bahagia Yang Salah
Inikah Takdir Atau Hanya Kebetulan


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti dihalaman rumah semua penghuni rumah keluar dengan perasaan bingung dan bertanya-tanya siapa yang datang memakai mobil mewah tersebut,Pak Nuh keluar dan membuka pintu mobil,air mata bahagia menetes dibalik kacamata hitam yang Anaya Gunakan,melihat Ibu dan Ayahnya sudah sepuh, Anaya menghambur menghampiri Orang tuanya dan memeluk mereka.


"Anaya,,,ini kamu nak? sungguh ini kamu nak?"


Ibu Anaya berkaca-kaca sambil memeluk erat Putri Sulung nya.


"Iya bu ini anak ibu aku Anaya Bu"


Moments mengharukan itu berlalu dengan seiringnya waktu,begitu juga dengan kejadian di siang ini Anaya melupakan nya,hati kecilnya menolak untuk melangkah lebih jauh mengenal laki-laki yang tak sengaja di jumpai Nya siang ini.


Pagi yang Cerah di pedesaan yang indah udara segar menyelimuti desa.


"Kenapa dari kemaren Mas Pram tidak menelpon ataupun mengirim pesan,ah mungkin dia sibuk"


Anaya melihat layar Handphone nya, kemudian menyimpannya lagi di meja rias,kemudian turun untuk ikut sarapan.


"Kakak sudah bangun?"


Seru Adiknya tersenyum melihat kakaknya menuruni tangga dengan wajah cerah ceria.


"Kamu sudah besar ya, sudah punya pacar jangan-jangan hahaha"


Goda Anaya pada adiknya


"Kakak apaan sih ah mana boleh aku pacaran-pacaran nanti aku di keluarkan dari sekolah sama Ayah"


"Hahaha, ah yang bener..."


"Anak -anak ibu lagi pada ngomongin apa sih ini kayanya seneng banget"


Suara ibu terdengar mendekat dengan membawa sayur dari arah dapur.


Anaya dan Akila saling menatap dan melempar senyum.


"Sini Anaya bantu bu"


"Sudah kamu duduk saja kita makan sekarang"


"Ayah kemana Bu?"

__ADS_1


"Ayah sudah berangkat kerja kak tadi pagi"


"Sepagi ini aya sudah berangkat?"


"Iya, sudah ayo kita makan dulu"


Ibu menyodorkan piring berisi nasi pada kedua anaknya, ini kali pertama mereka bisa makan bersama semenjak menikahnya Anaya.


"Ibu Anaya ingin pergi ke beberapa tempat hari ini"


"Kamu mau kemana apa kamu tidak rindu pada ibu, sampai ingin menghabiskan waktu diluar rumah? hehe "


"Ibu ini bisa saja, Anaya ingin melihat beberapa tempat yang dulu biasa Anaya kunjungi bu, ibu tenang saja Anaya akan lama disini karena mas Pram juga mengijinkan"


"Benarkah? tumben suamimu memberi ijin kamu berlama-lama di rumah ibu?"


"Ga papa bu justru Anaya senang, lagian di rumah Anaya sering di tinggal ke luar kota sama mas Pram makanya sering Kesepian"


"Ya sudah, kamu tunggu adikmu pulang nanti minta ditemani adik mu saja jalan-jalan nya"


"Tidak usah bu Anaya bisa pergi sendiri memakai sepeda ibu."


"Emhsss kalau ada manya saja pake peluk-peluk ke ibu,hahahah"


Goda Akila pada Anaya


"Hemhsss baiklah,pergilah tapi usahakan pulang sebelum makan malam!"


"Baik bu,Terimakasih"


Tempat pertama yang Anaya kunjungi adalah Sungai ditepian desa, suara air yang mengalir dengan tenang burung-burung berkicau riang, dan tempat dimana biasanya Anaya menghabiskan waktu untuk menunggu matahari tenggelam.


"Tidak banyak yang berubah dari tempat ini semua masih nampak sama seperti dulu"


Anaya duduk ditepian Sungai sembari memainkan air, tanpa sadar sendal yang dia gunakan ikut terhanyut oleh air.


"Oh tidak sendal!, sendalku!"


Anaya berlarian menyusuri tepian sungai sembari berusaha meraih sendalnya yang hanyut sampai akhirnya Anaya tersandung dan terjatuh kepinggiran sungai.Tanpa memperdulikan kondisi tubuhnya Anaya segera bangkit dan kembali berlari mencoba menggapai Sandalnya namun akhirnya sendal nya menghilang dari pandangan Anaya.

__ADS_1


"Ya ampun hilang, dan bajuku sekarang basah, sebaiknya aku segera pulang dan mengganti baju sebelum aku masuk angin"


Saat hendak menaiki tepian sungai Anaya melihat seseorang yang mengulurkan tangannya, Anaya tertegun dan menyusuri tangan tersebut dengan matanya sampai tersentak kaget ketika melihat wajah lelaki yang kini dihadapannya adalah lelaki yang kemaren dia temui di depan mini market.


"Mari saya bantu Nona!"


Anaya hanya mengangguk pelan dan menggapai tangan tersebut.


"Ini sendal anda nona?"


Anaya tertegun melihat sendalnya yang tadi hanyut ada pada lelaki yang kini dihadapannya.


"Bagaimana?..."


"Saya menemukannya tersangkut di bebatuan dan memutuskan mengembalikannya kepada pemiliknya dengan menyusuri sungai ini"


Tanpa sempat Anaya melanjutkan pertanyaanya, laki-laki dihadapanya sudah tahu apa yang akan diucapkan oleh Anaya.


"Silahkan pakai sendalnya nona kalau tidak kaki anda bisa terluka"


"Ba,,, ba,,, baiklah,,, terimakasih Tuan"


Suara Anaya bergetar karena rasa dingin ditubuhnya semakin menusuk, laki-laki dihadapanya melepaskan jas yang ia gunakan kemudian memakaikanya pada Anaya.


"Pakai ini nona anda bisa masuk angin, mari saya antar pulang nona"


"Ti,,,ti,, tidak usah Saya bisa pulang sendiri."


Anaya berlari dari hadapan Pria tersebut semakin jauh dan tak terlihat lagi bayangannya.


"Wanita yang aneh namun menarik!"


Gumam laki-laki tersebut sembari berbalik menuju mobilnya, terlihat jelas senyuman itu melebar di bibir laki-laki itu...


"Apakah ini takdir atau hanya sebuah kebetulan?


Akhs tidak ini pasti hanya sebuah kebetulan semata, tapi apa iya hanya kebetulan?"


Anaya masih berlari dengan sejuta tanya dalam hati dan pikiranya...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2