Bahagia Yang Salah

Bahagia Yang Salah
Kehilangan


__ADS_3

Malam ini Pramono membawa Anaya ke sebuah hotel tidak jauh dari bandara,tujuan ya tidak lain agar besok pagi Pramono bisa bergegas membawa Anaya pergi jauh-jauh dari semua keluarganya.


Pramono telah menyiapkan beberapa gaun tidur untuk Anaya, Pramono meminta seorang pegawai hotel perempuan untuk menggantikan pakaian Anaya.


"Tuan sudah selesai."


seorang pegawai hotel keluar dari kamar menghampiri Pramono.


"Ini tip buat kamu!"


"Terimakasih tuan!"


"Jangan lupa besok pagi-pagi sekali kamu datang lagi kesini,aku akan memberikan mu tip yang lebih besar."


"Tentu tuan tentu!"


"Sekarang kamu pergi dari sini, aku sudah tidak sabar ingin menikmati keindahan istriku!"


Pegawai restoran itu pergi dari hadapan Pramono, lalu Pramono memasuki kamar.


Pramono terbelalak matanya melihat keindahan tubuh Anaya dengan balutan gaun tidur tipis berwarna merah darah dan hiasan pita-pita hitam di beberapa sisi, rambutnya yang panjang tergerai di atas bantal dan ranjang dengan balutan seprei warna putih bersih.


Pramono menghampiri Anaya yang tengah tak sadarkan diri diatas ranjang.


Tangan ya dengan nakal menggerayangi bagian demi bagian tubuh Anaya, sesekali Pramono mencium rambut Anaya.


"Wangi sekali, masih wangi yang sama seperti dulu, indah sekali aku bahkan terlambat menyadarinya, dulu aku tidak pernah membiarkan dia menggunakan gaun tidur ternyata ini yang ingin kamu tunjukan padaku sayang?"


Pramono berkali-kali mengecup bibir Anaya yang masih tidak sadarkan diri.


"Aku sungguh tidak tahan, segeralah sdar sayang, agar aku tidak menikmati malam ini sendirian"


Pramono menciummi beberapa bagian sensitif pada diri Anaya, bahkan dengan sengaja Pramono memberikan beberapa tanda merah di beberapa bagian dada dan payudara Anaya.


"Lihat ini sayang, ini adalah tanda bukti cinta kita."


Perlahan Anaya sadarkan diri, Anaya memegangi kepalanya.


"Awww pusing sekali."


Anaya melihat ke sekitarnya.


"Dimana aku, haaaah pakaian apa yang aku gunakan ini, apa ini?!"


"Selamat malam sayangku!"


Pramono semakin mendekatkan diri pada Anaya.


Anaya terperanjat dan loncat dari atas ranjang kemudian berdiri sambil menghalangi bagian payudara dan ***********, Anaya mencari-cari pakaian ya namun tidak ditemukan.


"Kenapa kaget sayang, hahahah!"


"Apa-apaan ini mas, kamu sudah keterlaluan mas, kemana baju-baju ku mas berikan sekarang aku mau pulang!"


"Pulang,hahahah besok kita akan pulang keperaduan kita selamanya sayang dan kita akan bahagia bersama selamanya, aku akan menyingkirkan anak Wijaya brengsek yang ada didalam kandungan secepatnya dn kita bisa hidup bebas,hahahah!"


"Mas kamu jangan gila, aku tidak pernah sudi hidup dengan laki-laki phisikopat seperti kamu!"


"Kenapa kmu kasar sekali sayang, sudahlah jang munafik aku tahu kamu juga menginginkan malam ini sejak pertama kita menikah bukan,malam ini aku akan mengabulkannya untuk kamu seorang sayang..."


"Diam kamu mas, mungkin dulu aku memang berharap bisa bahagia dan kamu bisa memperlakukan ku selayaknya sebagai seorang istri, tapi akhirnya aku bersyukur karena sekalipun kamu tidak pernah menyentuh ku selama kita menikah!"


"Suuutssss nikmati saja malam ini, jangan buang-buang tenaga, mari kita tidur bersama lagi,kamu nikmati saja pelukan-pelukan hangat yang dulu tidak pernah aku berikan untuk mu,ijinkan aku menebus semua kesalahanku dulu dan memenuhi semua keinginanmu sejak malam pertama kita menikah!"

__ADS_1


Pramono melangkah mendekati Anaya.


"Berhenti disana mas kalau tidak aku akan berteriak!"


"Berteriaklah sepuasnya sayangku, karena ruangan ini kedap suara jadi orang diluar tidak akan mendengar desahan nikmat yang keluar dari bibir merahmu itu hahahah..."


"Tolongggg...!!! Tolongggg...!!!Tolong!!!"


Anaya menggebrak gebrak pintu kamar hotelnya namun nihil tidak ada respon dari luar.


"Anaya menangis tersedu-sedu dan jongkok di depan pintu"


"Cup...cup..cup jangan nangis dong sayang coba kamu perhatikan tanda cinta kita di dada kamu!"


Anaya semakin tersendu, Anaya mengacak-acak rambutnya.


"Mas Wijaya maafkan Naya mas, sekarang Naya sudah kotor, sudah ada laki-laki lain yang menyentuh Naya sebelum kamu mas, maafkan Naya mas!"


Mendengar tangisan Anaya, Pramono merasa geram.


"Kamu di ajak senang-senang malah nangis-nangis kesini kamu!"


Pramono menarik ksar tangan Anaya dan mendorong tubuh Anaya ke atas ranjang.


"Mas jangan mas Naya moho jangan!"


"Apa jangan?,aku sudah menanti sangat lama akan malam ini dan ketika semuanya sudah didepan mata kamu ingin aku tidak melakukan apapun,sungguh harapan kosong!"


Pramono mengambil sapu tangan dan menaburkan obat bubuk diatas sapu tangan tersebut.


Anaya mencoba lari ke arah kamar mndi namun tangan Pramono lebih cepat menarik Anaya dan menutupkan sapu tangan itu ke wajah Anaya.


Anaya kembali tidak sadarkan diri.


"Kamu yang memaksa aku melakukan semua ini, jadi jangan salahkan aku!"


Sementara ditempat lain,orang tua Anaya masih menanti kepulangan Anaya.


"Ya ampun Yah ini sudah lewat dari tengah malam kenapa Anaya belum juga pulang?"


"Ayah sudah mencoba menelpon no nya tapi tidak ada jawaban!"


"Coba telpon nak Wijaya pak!"


Ayah Anaya menelpon Wijaya, dua kali menelpon tidak ada jawaban juga.


"Sama bu tidak ada jawaban juga!"


"Ya ampun kemana anak-anak itu pergi bikin khawatir saja!"


Ibu Anaya berkali-kali menyingkap goreng di rumahnya melihat keluar namun tidak ada tanda-tanda Anaya akan pulang.


Kemudian Ibu Anaya keluar rumah dan mondar-mandir diteras.


"Bu sebaiknya tunggu didalam saja, nanti ibu bisa masuk angin dan malah sakit!"


"Enggak pak, perasaan ibu tidak enak, ibu tidak bisa diam dan hanya duduk menanti kepulangan Anaya"


"Iya bu Ayah paham tapi kan..."


Perkataan Ayah Anaya terhenti oleh suara dering di telponnya.


"Pak siapa yang telpon cepat lihat!"

__ADS_1


"Iya bu iya sebentar!"


Ayah Anaya mengambil handphone dari saku celananya.


"Nak Wijaya bu.!"


"Cepat pak angkat cepat.!"


"Iya bu iya."


"Halo Nak Wijaya.!"


"Iya pak, maaf tadi saya sedang mandi jadi tidak mendengar suara telpon, ada apa Ayah?"


"Nak Wijaya apa Anaya masih bersama dengan Nak Wijaya?"


"Anaya?,saya sudah mengantarkan ya pulang tadi bahkan sebelum tengah malam,memangnya ada apa ?"


"Anaya tidak ada di rumah bahkan kami dari sebelum tengah malam menunggunya di tengah rumah tapi Anaya tidak ada pulang juga, dan sekarang telponnya tidak bisa dihubungi!"


"Apa! ya sudah saya kesana sekarang Yah!"


"Kami tunggu Nak!"


"Apa katanya yah?"


"Nak Wijaya sudah mengantar Anaya pulang sejak tadi sebelum tengah malam bu!"


"Lalu kemana perginya anak kita?"


Ibu Anaya histeris mendengar penjelasan suaminya,bahkan sampai tidak sadarkan diri.


"Ya ampun bu, ibu sadar bu. Mbok, mbok!"


"Iya ada apa Tuan?"


"Cepat bantu saya bawa Ibu kedalam!"


"Baik tuan!"


Ayah Anaya mengangkat tubuh istrinya dibantu oleh Mbok Inah.


Tidak lama setelah ibu Anaya di pindahkan ke kamar Wijaya datang.


Berlarian kearah dalam rumah.


"Mbok dimana Ayah dan Ibu?"


"Ayah disini nak Wijaya!"


"Ibu kemana Yah?"


"Ibu pingsan karena mendengar Anaya sudah kamu antarkan sebelum tengah malam.!"


"Lalu bagaimana sekarang, kita tidak bisa lapor polisi karena ini belum 24 jam"


"Ayah juga tidak tahu, no telpon Anaya tidak dapat dihubungi Nak"


"Ayah maafkan Wijaya tadi Wijaya memang tidak mengantarkan Anaya sampai depan rumah, seharusnya Wijaya memastikan Anaya sampai kedalam rumah dengan selamat!"


"Sudahlah nak jangan menyalahkan diri kamu, sekarang sebaiknya kita pikirkan bagaimana caranya supaya kita bisa tahu kemana dan kenapa Anaya tidak pulang kerumah."


Ayah Anaya dan Wijaya terlihat sangat cemas Wijaya kesal kepada dirinya sendiri dan tidak berhenti menyalahkan dirinya.

__ADS_1


"Kamu dimana sayang, jangan buat mas khawatir sayang!"


Wijaya menatap ke arah langit-langit sesekali sambil mondar mandir dan menyeka air mata di pipinya.


__ADS_2