
Sesampainya Anaya di rumah, Anaya enggan istirahat dikamar dia ingin ikut berkumpul dan berbincang dengan kedua orang tuanya serta Wijaya.
"Sayang mas antar ke kamar ya?"
"Jangan mas, aku sudah sangat bosan di rumah sakit saja hanya tiduran yang bisa aku kerjakan, massa dirumah juga masih harus tiduran dikamar!"
"Tapi Nay kondisi kamu belum sepenuhnya pulih."
Ibu Anaya ikut bicara.
"Benar kata ibu kamu Nay, sebaiknya kamu ke kamar dan Istirahat!"
"Tidak Ayah, jarang sekali kita bisa berkumpul seperti ini, Naya ingin kita berkumpul salam satu ruangan yang sama dan berbincang hal-hal yang menyenangkan!"
"Emhsss baiklah tapi kali ini saja ya!"
"Baik ibu terimakasih!"
Anaya tersenyum bahagia dan masih terduduk di kursi rodanya.
"Kalau begitu biar mas bantu kamu pindah ke sopa ya?"
"Jangan mas, Naya disini saja, jangan terlalu memporsir tenaga mas bantu mas bisa-bisa kelelahan sebelum waktunya hahahah!"
Setiap orang yang berada didalam ruangan itu saling beradu pandang, sementara Wijaya wajahnya mulai memerah merona dengan mata melirik Ayah dan Ibu Anaya.
"Kamu ini apa-apaan sih?"
Wijaya berbisik di telinga Anaya.
"Maaf mas bercanda heheh!"
"Sudah bercandnya ah, Nak Wijaya silahkan duduk dulu biar ibu ambilkan minum dari dapur."
"Terimakasih bu!"
Sementara Ibu Anaya pergi ke dapur untuk mengambil minum Anaya bersama Wijaya dan Ayahnya tengah berbincangan di ruang tamu.
"Sayang apa tidak sebaiknya kalau kita cari pelayan rumah yang baru untuk sementara?, lagian kan kalaupun bibi nanti sudah boleh pulang ke rumah belum bisa bekerja seperti biasa"
"Sebaiknya memang begitu, malah kalau menurut Ayah lebih baik tidak sementara!"
"Maksud Ayah?"
Tanya Anaya.
"Ayah yakin bibi tidak bisa bekerja dengan baik seperti dulu meskipun bibi sudah boleh bekerja lagi, mengingat kondisinya juga, selain sudah sepuh bibi juga pasti akan gampang merasa lelah akibat benturan di kepalanya!"
"Iya rata-rata memang demikian seseorang yang mengalami pembekuan darah dibagian kepala, meskipun sudah di operasi mereka akan tetap merasakan beberapa efek fasca operasi tersebut dan itu bisa terjadi kapan saja dan dimana saja!"
"Lagi pada ngobrolin apaan ini, kenapa sepertinya sedang serius sekali?"
Ibu Anaya bertanya sambil menyimpan beberapa gelas minuman dan cemilan di atas meja ruang tamu.
"Hanya sedang mengusulkan mencari pelayan yang baru untuk rumah ini bu!"
Jelas Ayah Anaya.
"Loh memangnya bibi mau dikemanakan?"
"Bukan mau dikemanakan bu, tapi sebaiknya dirumah ini ada dua orang pelayan, selain bisa membantu bibi bekerja nantinya, Anaya juga tidak akan terlalu kesepian kalau dirumahnya banyak orang!"
"Seperti itu rupanya, kalau ibu sih setuju saja tapi ya kita kembalikan pada Anaya saja!"
"Jadi gimana sayang, kamu setuju?"
__ADS_1
"Tentu mas,tidak mungkin Naya tidak setuju, apalagi tujuan ya demi kebaikan bibi dan Naya sendiri!"
"Syukurlah kalau begitu biar mas hubungi teman mas yang bekerja di yayasan secepatnya!"
"Iya terimakasih mas!"
Anaya tersenyum sambil memegang tangan Wijaya.
Ayah dan Ibu Wijaya takut tersenyum dan saling tatap meliha kemesraan Anaya dan Wijaya.
"Ibu bersyukur sayang, akhirnya saat ini kamu sudah bisa berbahagia meskipun belum sepenuhnya!"
"Selain itu krena kita sekarang sudah berkumpul di sini, ada hal lain yang ingin Ayah bicarakan!"
Semua orang di dalam rumah menatap kearah Ayah Anaya dengan penuh penasaran.
"Memangnya apa Yah?"
Tanya ibu Anaya
"Karena kejadian Pramono sudah dua kali berusaha mencelakai Anaya, Ayah rasa pernikahan mereka harus kita percepat bu!"
Wijaya spontan melirik kearah Anaya, Wijaya penasaran ekspresi apa yang akan Anaya tunjukan.
"Kalau mereka sudah menikah, mereka bisa tinggal satu rumah, jadi kita juga tidak perlu khawatir lagi dengan keadaan Anaya karena sudah ada Nak Wijaya yang selalu bersamanya!"
"Ibu setuju dengan usulan Ayah, Ibu rasa memng tidak ada jalan lain lagi selain mempercepat pernikahan mereka!"
"Bagaimana menurut kamu sayang?,mas tidak akan memaksa, .as akan hargai keputusan kamu!"
Ucap Wijaya sembari mengelus-elus tangan Anaya, kekhawatiran mulai nampak terlihat dari raut wajah Wijaya karena sedari tadi Anaya tidak bereaksi bahkan tanpa sepatah katapun Anaya Ucapkan.
Anaya melirik kearah Wijaya, kemudian menatap kearah orang tuanya bergantian.
"Naya mau bu,memang Naya rasa itu lebih baik, Naya pribadi akan merasa lebih tenang dan aman jika kami sudah menikah, mungkin mas Pramono juga akan berhenti mengikuti Anaya dan berusaha mendapatkan Anaya jika kenyataanya Anaya sudah menikah dengan Mas Wijaya."
"Terimakasih sayang!"
Wijaya mencium tangan Anaya.
"Karena semua pihak yang ada disini sudah setuju,Ayah berencana mengundang orang tua Nak Wijaya untuk makan malam bersama di rumah, sekalian kita tentukan tanggal pernikahan kalian berdua!".
"Tapi siapa yang akn masak untuk makan malam nanti ayah?"
Tanya Anaya kebingungan.
"Jangan khawatir sayang biar nanti mas pesankan makanan dari luar saja."
"Apa tidak sebaiknya di restoran saja?"
Usul ibu Anaya
"Ayah juga ingin ya begitu tapi melihat kondisi Anaya tidak akan memungkinkan untuk kita makn diluar, lagian kalau dirumah kita bisa lebih akrab ngobrolnya!"
"Memang betul apa yang Ayah katakan!"
Anaya dan Wijaya masih tersenyum tersipu malu dan saling pandang sesekali.
"Sudah kasmaran nya, sebaiknya Nak Wijaya antar Anaya untuk istirahat di kamar supaya nanti malam bisa segar!"
"Baik Ayah,ayo sayang!"
Anaya mengangguk.
"Ibu, Ayah Anaya ke kamar dulu!"
__ADS_1
Ibu dan Ayah Anaya tersenyum dan mengangguk.
"Melihat mereka begitu bahagia rasanya ibu sangat lega yah!"
"Benar bu Ayah juga demikian, rasa sesak yang dahulu sepertinya Mukai terobati melihat kebahagiaan Anaya sekarang!"
"Semoga mereka langgeng ya Yah."
"Iya bu, Ayah juga berharap begitu!"
"Ayah gak cape?"
"Ya cape lah bu!"
"Ya sudah mari kita istirahat ke kamar!"
"Ayo bu!"
Ayah dan Ibu Anaya bergegas ke kamar untuk beristirahat.
Sementara Anaya di kamar nya bersama Wijaya.
"Mas bantu kamu pindah ke tempat tidur ya."
Anaya mengangguk
"Pelan-pelan ya mas, soalnya masih sangat ngilu ini!"
"Iya sayang tenang saja, kamu tahu kan kalau mas adalah laki-laki super lembut yang pernah ada di dunia ini heheheh"
"Emhssss hidungnya ngembang sudah kalau udah muji dirinya sendiri heran."
"Hahahah, ko gitu sih sayang?"
"Udah bantu aku dulu nanti saja bicara lagi!"
"Iya sayang!"
Wijaya menggendong Anaya ke tempat tidurnya.
Anaya menatap wajah Wijaya sambil tersenyum.
"Kenapa ngeliatin nya begitu?"
"Suka aja, memang nya mas gak suka?"
"Suka ko apa sih yang mas ga suka kalau sudah berhubungan dengan calon istri mas yang satu ini!"
"Dasar gombal,cepat turunkan memangnya tidak berat ya?"
"Berat banget aduhhhh!"
"Tuh jahat banget kan masa bilang aku berat banget berarti aku gemukan dong!"
"Hahahah manyun jelek banget,mas cuman bercanda sayang!"
Wijaya membaringkan Anaya di tempat tidurnya, dan memakaikan selimut pada Anaya hingga menutup dada Anaya.
"Sekarang kamu istirahat, mas akan pulang untuk menjemput orang tua mas dulu."
"Hati-hati mas!"
"Kamu juga jaga diri baik-baik sayang!"
Anaya mengangguk, Wijaya mencium kening Anaya,kemudian keluar dari kamar.
__ADS_1
Bersambung