Be My Husband

Be My Husband
Sakit


__ADS_3

Pagi ini entah kenapa Tea merasakan kepalanya sangat pusing. ia tidak bisa beranjak dari kasurnya bahkan berdiri saja dia tidak bisa karena kepalanya yang sangat pusing.


Mama Karina yang belum melihat keberadaan Tea di meja makan pun nampak heran karena biasanya gadis itu sudah duduk lebih dulu di meja maka sementara sekarang semuanya justru yang menunggunya.


"Dimana Tata ma kenapa dia belum disini?" tanya Rosa yang tidak melihat adiknya.


"Tidak tahu mungkin dia belum bangun. coba kamu bangunin dia mama mau membuatkan kopi untuk papa." kata mama Karina yang di angguki oleh Rosa.


Rosa bergegas ke kamar adiknya dan mengetuk pintunya namun tidak ada jawaban sama sekali sehingga ia pun langsung masuk saja karena mengira jika Tea tengah berada di kamar mandinya.


Ia hanya memutar bola matanya saja ketika melihat adiknya yang masih berbaring di kasur tanpa menghiraukan kehadirannya.


"Ck anak ini benar-benar ya. disaat semua orang sudah menunggunya dia ternyata masih berada di dalam mimpinya." ucap Rosa kemudian membangunkan Tea dengan menarik selimutnya.


Begitu selimut di tarik, betapa terkejutnya Rosa ketika melihat tubuh Tea yang gemetaran dengan wajah yang terlihat pucat.


"Astaga Ta, apa yang terjadi denganmu?" tanya Rosa dengan khawatirnya.


"Aku hanya kelelahan saja kak tidak perlu khawatir. kau turun saja dan bilang ke mama aku akan menyusulnya nanti." jawab Tea dengan suara pelan dan lemahnya.


"Kau demam Ta. apa kau sudah minum obat? apa kita pergi ke dokter saja?" tanya Rosa dengan menyentuh dahi Tea yang terasa sangat panas.


"Tidak. ambilkan saja obat pereda sakit kepala di laci itu." jawab Tea.


Rosa pun mengambilkan obat dan juga air minum kemudian ia membantu Tea untuk bangun. melihat keadaan Tea yang seperti itu membuatnya tidak tega untuk meninggalkannya.

__ADS_1


"Kau turunlah aku ingin beristirahat sebentar. ini Hanya masuk angin biasa jadi tidak perlu khawatir. sudah sana keluar kau mengganggu ketenangan ku." ujar Tea dengan mendorong pelan Rosa.


"Ck baiklah kau tidak berubah meskipun sedang sakit." cibir Rosa kemudian keluar dari kamar adiknya.


Tea kembali memejamkan matanya dan menahan rasa pusingnya. apakah karena dia makan terlalu banyak kemarin sehingga membuatnya sakit seperti ini. entahlah ia juga tidak tahu.


"Loh dimana adikmu Ros? belum bangun?" tanya mama Karina .


"Sudah ma dia sedang beristirahat katanya tidak enak badan." jawab Rosa yang membuat kedua orangtuanya terkejut.


"Apa Dia sakit?" tanya papa Hendrawan.


"Hanya masuk angin biasa. Rosa sudah memberikannya obat tadi jadi mama papa tidak perlu khawatir lagi. sebentar lagi dia akan membaik." jawab Rosa


"Apa tidak sebaiknya langsung ke dokter saja, mama khawatir jika terjadi sesuatu pada Tea." kata mama Karina.


Setelah siang, mama Karina yang tidak melihat Tea turun pun menjadi khawatir dan segera menuju kamar gadis itu. ia melihat jika Tea masih berbaring di atas tempat tidurnya dengan wajah yang pucat.


"Astaga sayang kita rumah sakit saja ya." kata mama Karina dengan khawatirnya.


"Tidak ma ini juga sudah agak lebih baik. mungkin sebentar lagi akan sembuh. dimana kak Rosa ma?" tanya Tea.


"Dia ke kantor bersama papa." jawab mama Karina.


Tea hanya mengangguk saja yang membuat mama Karina semakin khawatir namun Tea berusaha untuk menenangkan mamanya jika dia akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Mama pergi saja mengurus butik aku tidak papa." kata Tea.


"Tapi kau sedang sakit bagaimana bisa mama meninggalkan mu sendirian." ujar mama Karina.


"Aku bukan anak kecil lagi ma. aku sudah baik-baik saja." ucap Tea yang membuat nama Karina hanya menghela nafasnya saja.


"Baiklah. tapi jika ada sesuatu yang terjadi denganmu hubungi mama ya. setelah ini mama ada meeting penting rekan mama." ujar mama Karina yang di angguki oleh Tea.


Kini Tea hanya sendirian saja di rumah. ia mencoba untuk bangun dan ke kamar mandi. setelah sampai di kamar mandi, ia mencuci wajahnya dan menatapnya di pantulan cermin.


"ada apa denganku kenapa aku tiba-tiba menjadi seperti ini." ucap Tea dengan tidak mengerti.


Saat menatap wajahnya di pantulan cermin tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu yang membuat jantungnya langsung berdegup dengan kencangnya. ia pun segera beranjak dari kamar mandi dan mencari kalender.


"Tanggal 28, seharusnya aku sudah datang bulan 3 Minggu yang lalu. kenapa Sampai sekarang aku belum juga datang bulan. tidak mungkin jika aku..." ucap Tea dengan menutup mulutnya dan melihat ke arah perutnya yang masih terlihat rata.


Ia pun langsung mengganti pakaiannya dan segera pergi dari rumah. walaupun kepalanya masih terasa pusing tapi ia tidak akan mempermasalahkannya. ia menuju ke apotek untuk membeli sesuatu.


Setelah sampai di sana ia agak ragu untuk menanyakannya tapi setelah memantapkan diri akhirnya ia menanyakannya dan saat ini ia sudah memegang sebuah tespack dengan tangan yang sedikit gemetaran.


Ia sangat takut untuk mencobanya jika saja apa yang dia bayangkan benar-benar terjadi. ia tidak tahu harus berbuat apa jika semua itu benar-benar terjadi. rasa gugup dan takut menyelimuti gadis itu. dengan ragu-ragu ia pun mulai mencobanya.


Saat sudah selesai, dia memejamkan matanya karena sangat takut jika dia melihat dua garis di depannya itu. ia menghembuskan nafasnya beberapa kali untuk menghilangkan rasa gugupnya kemudian perlahan membuka matanya


Seketika ia langsung terduduk lemas ketika melihat dua garis biru. air matanya tidak dapat di tahan lagi ia menangis di dalam kamar mandi dengan memeluk kakinya.

__ADS_1


"Ini tidak mungkin hiks..." ucap Tea dengan menangis.


__ADS_2