Be My Husband

Be My Husband
Presdir Curiga


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu. Waktu lampau sedang diulang oleh Kin melalui tutur kata yang terdiri dari suatu ungkapan yang amat sangat dalam, ia mencurahkan isi hatinya kepada orang yang bisa dibilang dekat dengannya.


Kin menceritakan semuanya dari awal pertemuan hingga akhir-akhir ini. Presdir Han agak terkejut ketika mendengar pernyataan dari Kin. Bukan, bukan soal perusahaannya melainkan apartemen yang dibelinya untuk Sya dalam waktu singkat.


Presdir Han mulai curiga, apa Kin menaruh hatinya pada Sya?. Ia curiga karena mempunyai bukti pendukung yang sangat akurat. Rasa ingin bertanya sangat membeludak saat ia mendengarkan cerita dari direktur utama-nya, yang semakin lama mengarah jika Kin benar benar mencintainya.


"Kin, tidak usah bertele-tele. Katakan saja jika kau mencintainya" Potong presdir Han dengan kalimat yang amat mengejutkan bagi Kin.


"Mengapa presdir berbicara seperti itu?" Tolak kin atas pernyataan yang diberikan oleh presdir Han.


"Saya sudah mengetahuinya sejak lama, Kin. Hanya saja saya tidak langsung berbicara padamu, perlakuan mu terhadapnya sangat berbeda jika dibandingkan dengan karyawan perempuan lainnya" Jelas presdir Han.


"Jangan sok tau. Menurut saya sama saja, tidak ada yang saya bedakan. Mungkin hanya perasaan presdir saja yang selalu mencurigaiku" Kin mencoba meyakinkan presdir Han agar percaya pada dirinya. Dirinya benar-benar tidak mencintai perempuan berambut panjang itu notabane sekretarisnya.


"Jangan keras kepala untuk menutupi perasaanmu bodoh, saya mengenalmu sejak lama" Presdir Han memaksa Kin untuk mengaku.


"Kenapa anda tidak mempercayai saya?" Wajah angkuhnya kembali tercetak.


"Kau memang pintar dalam dunia bisnis, tetapi kau terlalu bodoh untuk menutupi perasaanmu" Umpatnya. Emosinya sudah naik pitam sejak Kin terus mencoba untuk menutupinya.


"Baiklah, presdir Kin. Aku tidak mencintainya" Presdir Han berteriak penuh kekesalan dalam hatinya setelah mendengar pengakuan Kin dari mulutnya.


"Selamat pagi" Sapa Sya, membuat dua penduduk negara terkejut mendengar sapaan-nya.


"P-pagi Sya" Saut mereka bersama dengan perasaan gugup.


Sekretaris Sya menciptakan seyuman di bibirnya. Senyumannya sangat manis, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa hangat dan damai.


"Ah, iya. Tumben kalian tidak bersamaan?" Ucap presdir Han, mengalihkan suasana hening yang menempati ruangan.


"Ka-" Sya berbicara dengan volume yang kecil. Kin yang tidak mendengarnya pun memotong kalimat pertama pada jawabannya.


"Saya ingin berangkat lebih awal dan ingin sendirian" Jelas Kin.


"Baiklah, saya akan kembali ke ruangan saya dan melanjutkan pekerjaan"

__ADS_1


"Kenapa terburu-buru?, kita kan baru berbincang" Ujar Kin. Membuat Han bingung menjawabnya.


"Tidak apa. Jam makan siang ikutlah denganku Kin" Presdir Han pergi meninggalkan dua insan yang berstatus sebagai CEO dan sekretaris.


Suasana hening kembali menempati ruangan. Kin sedikit melirik Sya yang tengah merapihkan mejanya, dari lirikan berubah menjadi tatapan. Sya membalas tatapan yang diberikan Kin, terlihat ketulusan dan harapan dimata pria tampan itu.


"P-pak?" Sya menyadarkan Kin dari lamunannya.


"Maaf" Kin meminta maaf atas perlakuannya yang kurang sopan, tapi masih dengan wajah yang angkuh.


"Tak apa" Sya kembali mengembangkan senyuman manisnya.


Kin mulai membuka laptop-nya, membuka beberapa file lalu menatap layar laptop dengan seksama, membacanya dan mencerna isi dari file tersebut.


"Sya, akhir pekan saya akan ada waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Jadi anda harus menggantikan posisi saya saat rapat" Jelas Kin.


"Baik, pak" Sya paham atas penuturan Kin.


...----------------...


Waktu menunjukan pukul 12:00, tepat waktu istirahat dimulai. Kin sangat ingat dengan perkataan presdir Han sebelum meninggalkan ruangan. Secepat kilat Kin pergi menghampiri presdir Han setelah pamit pada Sya dan menyuruhnya untuk tetap diruangan.


Telfon berakhir dan Sya belum sama sekali menyentuh makanan itu. Kin menatapnya dengan tatapan binggung, apakah dia tidak menyukai makanan yang diberikan oleh Kin?


"bapak memberiku ini?" Sya bertanya. Hanya anggukan yang diberikan oleh Kin.


"...seharusnya aku yang membelikan" Ujar Sya, merasa tidak sopan.


"Bukan masalah besar. Ah, iya. Saya akan menemui presdir Han" Jelas Kin.


"bukankah kalian sudah bertemu?" Sya nampak bingung.


"Tadi presdir Han sedang mengurus sedikit dokumen, sekarang presdir telah menyelesaikan dokumen itu" Jelas Kin, dibalas anggukan.


"Baiklah, terimakasih makanannya pak" Ujar Sya di iringi senyum hangatnya. Lalu Kin membalas dengan senyuman tipis yang membuat ketampanan-nya bertambah 3 kali lipat.

__ADS_1


Kin berjalan dengat sangat cepat menuju ruangan presdir Han. Mereka berjalan menuju kantin, presdir Han mengajaknya, sebab ada faktor lain yang ingin ditanyakan. Presdir Han ingin tau cerita Kin lebih dalam lagi, lagi, dan lagi.


"Saya cukup terkejut ketika Sya datang ke ruangan secara tiba-tiba. Apakah dia mendengar perbincangan kita?" Ucap presdir Han dengan tatapan penasaran.


"Saya juga tidak mengetahuinya, apakah dia mendengar ataupun tidak" Kin berbicara dengan ekspresi santai seperti tidak ada yang terjadi.


"Presdir, apa kau pernah merasakan jantung berdetak lebih cepat?" Tanyanya. Dibalas dengan sedikit anggukan.


"Saya ingi pergi ke dokter untuk memeriksanya, saya khawatir pada jantung saya yang sering berdegup lebih cepat" Lanjut Kin menjelaskan.


"Saat kapan jantungmu itu berdegup cepat?" Tanya presdir Han, menahan tawanya.


"Saat aku berdekatan dengan sekretaris ku" Ujar Kin. Raut wajahnya mengambarkan jika ia penasaran pada jawaban.


Presdir Han tertawa sangat keras ketika mendengar penjelasan dari atasannya. Atasannya ini terlalu polos atau bodoh sih?, pikir presdir Han. Yang ditertawakan hanya diam tidak mengerti apa-apa.


"Kin, tolonglah jangan terlalu bodoh soal hati" Presdir Han berkata di-iringi dengan tawanya.


"Aku tidak mengerti bapak berkepala 3" Ujar Kin kesal sebab presdir Han terus menertanwainya.


"Baiklah, baiklah. Itu menandakan bahwa kau cinta padanya bapak Kin perkepala 2" Presdir Han berkata masih dengan sedikit tawanya.


"Aku tidak menyukainya ataupun mencintainya, dia tidak satu level dengan ku" Ujar Kin sembari membenarkan jas-nya.


Kin dan Han berbincang yang dibumbui sedikit candaan. Suasana hening pun menjadi ramai.


Akhirnya mereka memesan makanan. Beberapa menit kemudian Kin mendapatkan pesan dari salah satu rekan sejawatnya di SMA.


Ia harus datang ke acara kumpul bersama. Kin memberikan kabar ini kepada presdir Han yang sedang bersama dengannya dikantin. Kin menitipkan pesan untuk sekretaris Sya karena ia sudah terburu-buru.


Presdir Han yang mengerti hanya membalas dengan anggukan. Secepat angin berhembusan Kin menghilang dari perusahaan untuk pergi ke tempat tujuan.


Sya yang sedari tadi menunggu kedatangan Kin yang tak kunjung datang merasa bosan dan mulai memainkan benda persegi panjang yang terkenal pintar dan canggih.


Presdir Han mendatangi ruangan sang CEO untuk menemui sekretaris yang tengah duduk manis dikursinya.

__ADS_1



—Presdir Han


__ADS_2