Be My Husband

Be My Husband
Kepergian Tea


__ADS_3

"Ma...." sebuah suara yang hampir tidak bisa di dengar membuat Karina yang hampir keluar menoleh.


"Pa sebentar, sepertinya mama mendengar sesuatu." ucap karina .


"Ma...." suara kembali terdengar lagi dan masih sama seperti tadi.


Karina yang yakin itu suara putrinya pun langsung menghampirinya. ia menatap suaminya dengan senyum haru.


"Sayang kau sudah sadar." ucap Karina dengan mengelus kepala Tea


Tea benar-benar berusaha sekuat tenaga agar bisa mengeluarkan suaranya. Karina yang melihat itupun hanya tersenyum saja dan mencoba menguatkan anaknya.


"Apa sayang...mama disini. mama akan menemani mu. kau harus bisa sembuh dan melahirkan cucu mama dengan selamat." ucap Karina yang sedari memang sudah menangis.


"A...a...Na...k...u...di..a........hir" ucap Tea dengan suara terbata yang hampir tidak terdengar karena itulah Karina mendekatkan telinganya agar mendengar ucapan anaknya itu.


Walaupun dia sebenarnya juga kurang memahami karena suaranya benar-benar tidak jelas namun ia masih bisa mencerna maksudnya.


Mendengar hal itu tentu saja membuat wanita paruh baya itu terkejut dan tidak berhenti menangis. suaminya pun hanya bisa mengelus punggung karina saja.


Setelah berbicara dengan dokternya akhirnya tea pun langsung di pindahkan ke ruang operasi. kondisinya benar-benar semakin memburuk. semuanya menunggu di luar dengan khawatir hingga Tian dan keluarganya datang di susul Rossa yang sudah menahan air matanya.


"Pa ma bagaimana kondisi adikku?" tanya Rossa yang membuat Karina langsung memeluknya.


"Adikmu baik-baik saja tidak perlu khawatir dia sedang di tangani oleh dokter. dan kabar bahagianya kau akan segera di panggil bibi." kata Hendrawan yang membuat rossa terkejut begitupun dengan Tian dan orang tuanya.


"Apa yang papa maksud?" tanya Tian.

__ADS_1


"Apa kau tidak tahu jika istrimu sedang hamil tua?" tanya Hendrawan yang di jawab gelengan kepala oleh Tian.


"Tapi dia tidak pernah memberitahu ku pa." kata Tian.


"Hari ini adalah hari yang spesial menurut Tea karena dia ingin memberikan kejutan padamu. aku ikut membantunya tapi aku tidak percaya malah Tea yang mendapatkan kejutan dan berakhir dengan seperti ini. jika ada yang terjadi sahabatku aku benar-benar tidak akan mengampunimu brengsek." kata Bianca yang langsung di senggol oleh Rendi.


"Diamlah." kata Rendi dengan tidak enaknya.


"Apa sih kak. dia harus di beri pelajaran. om Tante Bi tau apa yang selama ini Tea alami karena dia selalu bercerita padaku dan tentang dia, aku juga tahu. kau ingat bukan saat kita bertemu di apartemen kau pikir aku tidak mengetahuinya." kata Bianca.


"Bi!!! kakak bilang diam." seru Rendi dengan melototkan matanya karena dia tidak ingin jika adiknya ikut campur masalah orang lain.


"Tian sekarang jelaskan." kata Dirga dengan suara datarnya.


Tian hanya berbicara beberapa kata saya yang tidak masuk akal. pria itu juga tidak tahu harus berkata apa karena yang di katakan Bianca semuanya benar.


Plakkkk...


"Kau tau apa yang sudah terjadi ini adalah semua kesalahan mu. papa benar-benar sangat sangat malu dengan kelakuan mu." lanjutnya.


"Apa yang dikatakan Bianca benar?" tanya Rossa dengan berdiri tepat di hadapan Tian.


Sekali lagi dia mendapatkan tamparan yang sama dengan yang tadi namun ia masih tetap diam tidak mau bicara karena menurutnya hanya akan memperumit masalah saja jika ia bicara.


"Jika terjadi sesuatu dengan adikku aku benar-benar tidak akan memaafkan mu." kata Rossa dengan menekankan kata-katanya.


Di ruang operasi, semuanya tengah berjalan sesuai prosedurnya. mereka mengeluarkan bayi yang berada di dalam kandungan Tea yang sekarang masih berusia 7 bulan dengan hati-hati dan sekuat tenaga

__ADS_1


Sementara itu kondisi Tea semakin memburuk selama berjalannya operasi tersebut. Dokter pun berusaha keras agar kondisi Tea segera membaik dan bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.


Bayi kecil mungil yang bahkan warnanya masih kemerahan berhasil di keluarkan setelah usaha yang sangat keras. bertepatan dengan itu pula kondisi Tea benar-benar sudah memprihatinkan namun dokter masih terus berusaha untuk membalikkan keadaan.


"Alat kejut jantung." kata dokter dengan meletakkan alat kejut tersebut di atas dada Tea.


Satu dan dua sentuhan gadis itu tidak merespon sama sekali, hingga percobaan ketiga monitor menampilkan gambar yang membuat semua yang ada di dalam ruangan menghela nafasnya.


"Catat hari jam dan tanggalnya." ucap dokter tersebut.


Ya Tea sudah pergi. dengan sangat berat hati dokter memberitahu kabar tersebut sehingga membuat Karina langsung pingsan seketika. Bianca juga tidak percaya sahabatnya pergi secepat itu, ia menangis memeluk kakaknya. sementara Tian diam terpaku seperti patung namun tiba-tiba ia mengingat sesuatu.


"Jangan menyesalinya." ucapan Tea saat mereka bertengkar tadi serta ucapan yang seharusnya tidak dia lontarkan pada Tea.


Ia berlari dan langsung masuk ke ruangan Tea. ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tea. Ya, rasa penyesalan itu datang di akhir. ia benar-benar merasa tidak berguna dan malu sendiri. sebenarnya ia sudah mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya itu tapi tidak ada yang tahu takdir seseorang.


"Sayang ku mohon bangunlah. aku minta maaf padaku karena sudah menyakitimu, aku mohon jangan tinggalkan aku." ucap Tian dengan menangis.


Hatinya benar-benar merasa sakit dan malu atas kelakuannya sendiri. dia yang sudah membuat Tea mengalami hal ini, dia penyebab semuanya.


Saat tengah memeluk Tea, tiba-tiba saja ia di tarik seseorang dan langsung di hajar habis-habisan.


"Aku akan membunuhmu." kata Rossa dengan menangis namun juga emosi.


"Kak Rossa hentikan kak." kata Bianca dengan terkejut ketika melihat Rossa menghajar Tian habis-habisan.


"Dia yang sudah menyebabkan ini semua Bi. adikku tidak bersalah dalam hal ini, dia!!! semua ini karena dia. brengsek kau!!?" kata Rossa yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.

__ADS_1


Rendi dengan siaga menarik tangan Rossa dan membawanya keluar. ia sebisa mungkin menahan gadis itu walaupun sebenarnya ia juga kewalahan.


"Apa kau tidak berduka sama sekali hah!!!" bentak Rendi yang membuat Rossa Langsung terdiam seketika


__ADS_2