Be My Husband

Be My Husband
Kecewa


__ADS_3

Sampai sejauh ini Tea yang mengetahui jika suaminya bermain di belakang hanya diam saja dan Tian pun tidak pernah menanyakan apapun pada Tea soal anak atau hal lainnya yang menyangkut itu.


Bagi Tea sendiri rasanya sangat sakit dan dia benar-benar ingin berbicara empat mata dengan Tian. banyak sekali pertanyaan yang ingin Tea tanyakan pada suaminya seperti sekarang ini.


Mereka duduk di sofa ruang tengah dengan suasana yang sunyi dan hanya televisi saja yang berbunyi. mendengar apa yang Tea katakan membuat Tian langsung menghentikan pekerjaannya dan menatap Tea.


"Apa yang kau katakan?" tanya Tian.


"Apakah kau tidak ada keinginan sama sekali menjadi seorang ayah?" tanya Tea secara tiba-tiba yang membuat Tian langsung mematikan televisi.


"Tentu saja siapa yang tidak ingin menjadi seorang ayah, tapi Allah belum berikan itu pada kita. kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" kata Tian dengan raut wajah serius.


"Banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu. tiga bulan terakhir ini kau jarang sekali menyentuh ku. kenapa?" tanya Tea yang membuat Tian terkejut.


"Apa yang kau katakan? bukankah kau tau aku sangat sibuk dengan pekerjaan ku." jawab Tian.


"Waktu mu untuk ku juga sangat singkat. apakah pekerjaan mu sangat penting dibandingkan dengan aku." kata Tea.


"Sssttt dengarkan aku...aku bekerja demi dirimu. tidak mungkin aku membiarkan mu kelaparan apalagi nanti jika calon anak kita sudah ada. karena itu aku bekerja sangat keras sekarang. jangan berfikir yang aneh-aneh." kata Tian dengan memegang tangan istrinya namun segera di tepis Tea.


"Kau bosan denganku? atau ada hal lain yang tidak ku miliki yang justru di miliki oleh wanita lain?" kata Tea .


"Apa yang kau katakan? jangan bicara omong kosong. ini sudah malam tidurlah aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dulu." kata Tian.


"Aku tidak bercanda Tian!! apa yang wanita itu miliki? kenyamanan?" tanya Tea yang membuat Tian langsung menatapnya.


"Ayo tidur..." ucap Tian dengan menutup laptopnya dan menggandeng Tea.


Entah kebetulan atau apa tiba-tiba ponsel Tian berdering dan tertera sebuah nama asing yang membuat wajah Tian berubah seketika. dengan segera Tea mengambil ponsel itu dan menatap Tian .


"Siapa? kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Tea.


"Apa yang kau lakukan? berikan ponselnya padaku." kata Tian.

__ADS_1


Dengan segera Tea mengangkat dan mengeraskan volumenya agar terdengar dengan jelas.


"Massss....kenapa kau tidak membalas pesanku. aku sudah menunggunya lama. kau bilang kau akan kerumahku, tapi nyatanya....mana yang kau bilang jika kau mencintaiku...."


Tea pun langsung mematikannya dan menatap Tian dengan tatapan meminta penjelasannya. Tian hanya diam bak patung tidak bisa berkata apapun di depan Tea.


"Dia hanya rekan bisnis ku." kata Tian namun hanya di balas senyuman kecil saja.


"Rekan bisnis dengan panggilan seperti itu dan wanita itu bilang jika kau mencintainya? apakah jawaban mu tidak terdengar lucu? akhir-akhir ini kau begitu aneh dan sekarang aku sudah mendapatkan jawabannya." kata Tea yang tatapannya langsung teralihkan karena ponsel yang dia pegang berdering lagi dengan nama yang sama.


"Angkat dan aku ingin mendengar apa yang kau katakan padanya." kata Tea dengan tatapan mengintimidasi.


"Kenapa kau mematikan panggilannya. aku sedang sakit kenapa kau sangat tidak mengerti kondisiku. setidaknya kau kesini dan bawakan makanan kesukaan ku."


"Ini sudah malam aku mengantuk." kata Tian ketika tidak tahu harus berbicara apa.


"Kenapa di matikan? percuma juga kau menutupinya dariku. aku bahkan sudah tahu hubungan mu dengan wanita itu lama. kenapa Tian? apa karena aku belum hamil jadi kau mencari pelarian di luar sana?" tanya Tea.


"Sudahlah ayo tidur ini sudah malam tidak baik membicarakan omong kosong itu. aku tidak ada hubungan apapun dengannya jadi jangan berfikiran Yang aneh-aneh." kata Tian dengan berlalu pergi meninggalkan Tea.


"Baiklah aku paham sekarang." kata Tea dengan tersenyum kecut dan keluar rumahnya untuk mencari angin segar.


Pukul 11 malam Tea masih berada di teras dengan laptopnya. ia sampai tidak merasakan dingin sama sekali padahal udara malam sangat dingin. rasa kantuk pun ia tahan dengan secangkir kopi hitam.


"Kak rosaaaa...."


"Kau belum tidur Ta?"


"Belum ngantuk aku masih kerja bagai kuda."


"Kenapa dengan wajahmu?"


"Wajahku?"

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?"


"Tentu saja. apa yang sedang kau lakukan?"


"Aku baru selesai mengerjakan skripsi ku. kau yakin? kakak tau ta jika kau sedang berbohong. kau bisa cerita dengan kakak."


"Ada sedikit tapi aku bisa mengatasinya sendiri."


"Kau dengan Tian baik-baik saja kan?"


"Emm ya begitulah baik-baik saja. kapan kakak pulang?"


"Setelah kakak selesai kuliah kakak pulang."


"Ya jangan lupa bawakan oleh-oleh untukku."


"Pikiranmu selalu saja itu. bagaimana perkembangannya?"


"Masih belum kak."


"Huffftt padahal aku sudah sangat ingin menggendong ponakan yang lucu sekali. yang terpenting kau harus jaga kesehatan dan jangan lupa kabari kakak apapun yang terjadi. kakak akan selalu ada untukmu."


"Tentu saja kak."


"Tidurlah ini sudah tengah malam Ta....kau sedang di luar?"


"Aku di depan rumah."


"Baru saja aku katakan jaga kesehatan karena angin malam tidak baik untuk tubuh. masuklah dan tidur jangan jadi adik yang keras kepala."


"Iya iya kenapa kau sangat cerewet."


"Cepat masuk. kakak juga ingin beristirahat."

__ADS_1


Tea pun menyudahi panggilannya. ia menghabiskan kopinya dan masuk kedalam. ia tidak ke kamar melainkan lebih memilih untuk tidur di kamar lain. tak lupa ia juga mengunci pintunya karena untuk sekarang ia hanya perlu ketenangan saja.


__ADS_2