
Dengan di antar supir pribadi Hendrawan, Pasangan suami istri baru itu menuju ke apartemen tempat yang akan mereka tinggali bersama. di dalam mobil hanya ada keheningan saja. suasananya juga sangat sunyi dan canggung sehingga membuat Bobi menyalan musik.
"Maaf ya non tapi tidak masalah bukan kalau saya memutar musik." ucap Bobi dengan melihat ke arah Tea melalui kaca.
"Hmm tidak masalah pak." jawab Tea.
Perjalanan pun kini di iringi dengan musik yang sangat menenangkan. sepanjang perjalanan Tea hanya menatap ke luar saja dan menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Hingga secara tidak sadar dia pun tertidur.
Sebenarnya Tian tidak mau jika mereka saling mendiamkan tapi sekarang untuk menyapanya saja dia merasa sangat canggung. saat ini mereka seperti dua orang asing. berbeda dengan dulu yang selalu menyapa dan bercanda layaknya teman pada umumnya.
"Tuan non tea tertidur." kata Bobi yang membuat Tian menoleh dan mendapati jika Tea tengah bersandar di kaca dengan mata tertutup. ia pun lantas mendekat dan di pindahkan secara perlahan-lahan kepala Tea ke bahunya.
Di eluslah kepala Tea dengan penuh kasih sayang. Yang sekarang tian rasakan hanyalah sebatas rasa bersalah pada gadis yang saat ini sudah berstatus menjadi istrinya itu. entah bagaimana hubungan mereka kedepannya tidak ada yang tahu.
Tian menepuk pipi Tea secara perlahan ketika mereka sudah sampai di apartemen. Tea mengerjapkan matanya dan bangun melihat sekelilingnya.
"Sudah sampai." ucap Tian dengan halusnya.
Tea hanya mengangguk saja kemudian turun tanpa memperdulikan Tian. sementara Tian hanya menghembuskan nafasnya saja bagaimana pun juga ini adalah salahnya.
"Sabar tuan, mungkin non tea butuh waktu." kata Bobi yang seakan memahami apa yang di rasakan Tian.
__ADS_1
Tian membawa dua koper besar di bantu Bobi. saat sampai di dalam, terlihat betapa mewahnya dan elegannya apartemen yang akan menjadi tempat tinggal mereka sekarang. suasananya sangat bersih dan nyaman.
"Sudah. terimakasih." kata Tian yang di angguki Bobi
"Kalau begitu saya pamit dulu tuan." kata Bobi.
"Kau tidak minum dulu?" tanya Tian yang di jawab dengan gelengan kepala oleh Bobi.
Tian menuju ke sembarang kamar dan ternyata disana sudah ada Tea yang sedang berbaring. ia masuk saja tanpa bertanya terlebih dahulu namun baru beberapa langkah suara Tea membuat dia harus menghentikan langkahnya.
"Aku ingin sendiri dulu. masih ada satu kamar kosong jadi kau tidurlah disana." Kata Tea tanpa menoleh.
"Kenapa? bukankah sekarang kita sudah menjadi suami istri?" tanya Tian dengan bingungnya.
"Baiklah kalau itu maumu aku tidak akan memaksa." ujar Tian yang hanya bisa pasrah saja. dia meletakkan koper tea sebelum akhirnya dia menutup pintu.
Setelah Tian keluar, tak terasa air mata Tea tiba-tiba keluar. dia sesegukan dengan memukul kasur. perasaannya campur aduk sekarang, apakah dia harus senang atau sedih dia tidak tahu.
"Kau sudah makan?" kata Tian yang tiba-tiba membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. tapi seketika dia terkejut ketika mendengar isakan tangis Tea. ia langsung berlari dan menghampiri Tea.
"Kau menangis?? Tea?? Heii jawab aku." kata Tian dengan khawatirnya yang membalikkan badan Tea secara paksa dan terlihatlah wajah cantik itu sudah basah dengan air mata.
__ADS_1
"Hei kenapa?? ada apa?? oke aku salah, tapi aku tidak akan memaksamu lagi, aku akan tidur di kamar lain. Tea...." ucap Tian dengan memegang kepala Tea. kini dia bisa melihat jelas bagaimana air mata itu terus menetes diwajah cantik nya.
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban akhirnya Tian pun membawa Tea ke dalam pelukannya dan berusaha untuk menenangkannya, karena hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.
Bukannya berhenti menangis justru tangis Tea semakin menjadi sampai Tian merasakan jika baju yang ia kenakan di cengkram sangat kuat oleh Tea. tidak ada yang bisa dia katakan selain diam dan mengelus punggung Tea.
"Sudah?" tanya Tian ketika Isak tangis Tea sudah tidak terdengar.
Tidak mendapatkan jawaban apapun tapi dia merasakan hembusan nafas hangat yang tenang. ketika dia melepaskan pelukannya ternyata Tea sudah tertidur.
"Maafkan aku. aku tau kau begitu banyak pikiran akhir-akhir ini. aku benar-benar minta maaf padamu. aku akan menebusnya semampuku." ucap Tian dengan membaringkan tubuh Tea ke ranjang dan ia cium dahinya dengan lembut.
Sebenarnya Tian ingin sekali menemani Tea tapi dia mengurungkan niatnya agar Tea bisa memiliki waktu. sementara itu dia menuju dapur dan bermaksud untuk memasak sesuatu agar bisa mengenyangkan perutnya.
"Entahlah bagaimana rasanya yang penting dan Tea bisa makan sekarang." kata Tian yang sebenarnya tidak terlalu pandai memasak.
Dia mengetuk perlahan kamar Tea dan masuk. di lihatnya sudah tidak ada lagi sosok yang terbaring di kasur tapi ada suara air dari kamar mandi, itu artinya Tea sedang berada disana. akhirnya Tian memutuskan untuk menunggu Tea dengan duduk di ranjang dan bermain ponsel.
"Aaaaaaa....kau!!! bagaimana kau ada disini hah!!" teriak Tea ketika sudah keluar dari kamar mandi.
"Kau belum makan jadi aku membuatkan mu makanan. soal rasa aku menyerah tapi setidaknya itu bisa mengganjal perutmu." kata Tian sebenarnya ikut terkejut melihat bagaimana Tea sekarang
__ADS_1
"Keluar kau!!!! dasar mes**!" teriak Tea yang membuat Tian terkejut dan akhirnya secepat kilat berlari keluar.
"Bagaimana dia bisa sesantai itu. aaaahhh sekarang aku akan terus mengunci kamarku." ucap Tea dengan paniknya