
"Siapa mas?" tanya lili ketika Tian tidak mengangkat ponselnya.
"Tidak tahu nomor asing." jawab Tian dengan berbohong
Lagi-lagi ponsel Tian kembali berdering yang akhirnya membuat Tian mengangkatnya dan sedikit menjauh dari tempat duduknya.
Ya, yang menelpon Tian adalah Tea. Tea menyuruh Tian agar segera pulang karena dia di rumah sendirian namun Tian beralasan jika dia masih ada meeting lagi.
"Maaf ya..."ucap Tian.
"Siapa?" tanya Lili
"Mama." jawab Tian dengan menyeruput minumannya.
Merekapun melanjutkan obrolan mereka hingga pada akhirnya mereka meninggalkan cafe tersebut. disisi lain, tepatnya di seberang jalan, Bianca yang baru saja selesai dengan urusannya tak sengaja melihat Tian yang tengah menggandeng wanita lain. tentu saja itu membuat Bianca terkejut.
Diam-diam ia mengambil foto mereka dan bermaksud ingin memberitahu Tea tapi mengingat kondisi Tea yang baru saja membaik jadi dia mengurungkan niatnya. ia menguntit mereka berdua hingga sampai ke sebuah apartemen tempat tinggal Lili.
"Ada hubungan apa mereka berdua..." gumam Bianca.
Setelah beberapa lama menunggu akhirnya Tian keluar dan Bianca langsung berpura-pura menjadi pengunjung juga disana. ia sengaja menabrakkan dirinya pada Tian agar pria itu tahu jika itu adalah dia
"Bukankah kau sahabatnya Tea?" tanya Tian .
"Ahh ya kenapa kau disini?" tanya Bianca dengan merapikan bajunya.
"Aku baru saja selesai meeting dengan clien. kau sendiri sedang apa disini." kata Tian.
"Bukan urusanmu." kata Bianca yang sudah kesal dengan Tian dan langsung berlalu pergi
"Ada apa dengannya." gumam Tian.
Tentu saja Bianca tidak akan membiarkan itu. ia tetap akan mencari tahu sendiri ada hubungan apa antara Tian dengan wanita yang tadi dia lihat.
Tian kembali ke hotel tempat dia menginap. dia memeriksa ponselnya yang sudah banyak notifikasi dari istrinya. ia pun segera menelponnya balik dan mengatakan jika besok dia akan kembali.
__ADS_1
Pagi harinya Tian pulang sebelum Tea bangun, ia langsung bergabung di atas kasur dan memeluk Tea dengan eratnya membuat wanita itu terbangun dan terkejut.
"Kenapa kau disini?" tanya Tea.
"Kau tidak merindukan suamimu?" tanya Tian dengan mengecup bibir Tea.
Tea langsung beranjak namun Tian langsung mendorongnya dan menindih tubuh Tea. ia mencium Tea yang membuat Tea kesulitan bernafas. Tea terlonjak kaget dan segera mendorong Tian yang saat ini berada di atasnya.
"Kenapa?" tanya Tian dengan bingungnya.
Hampir saja Tea memberitahu jika ada malaikat kecil di perutnya karena itu Tea menyingkirkan tubuh suaminya.
"Aku akan mandi dulu dan menyiapkan sarapan untukmu." ucap Tea.
"Ohh ayolah sayang...aku sudah lama tidak merasakannya. apa kau tega membiarkan ku seperti ini." ucap Tian dengan terlentang di kasur.
"Aku lelah Tian. lebih baik kau mandi juga." kata Tea.
Sebenarnya tea juga merindukan suaminya namun entahlah dia masih sakit hati dengan perbuatan Tian. mereka sarapan dengan damainya dan lagi-lagi Tian kembali berulah.
"Ayolahhh aku menginginkannya." kata Tian.
"Pagi ini?" tanya Tea
"Iya tentu saja." jawab Tian.
"nanti malam saja ya aku sudah mandi. kau juga harus ke kantor bukan." kata Tea
"Hufftt baiklah. apakah kau tidak menginginkan anak?" tanya Tian yang membuat tea menoleh.
"Aku sangat menginginkannya bagaimana denganmu?" tanya Tea balik.
"Tentu saja. aku sangat ingin di panggil ayah. hampir semua teman-temanku sudah mempunyai semua. sudahlah, aku akan berangkat sekarang." kata Tian dengan mengambil tasnya.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Tea diam-diam tersenyum. ia bersikap seolah dia tidak peduli dengan apa yang di katakan Tian namun jauh di lubuk hatinya dia sangat bahagia mendengar kata-kata itu.
__ADS_1
Baru saja dia akan menelpon Bianca tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit, pandangannya kabur dan tubuhnya mendadak menjadi sangat lemas. ia menjatuhkan ponselnya dan memegangi erat kepalanya namun ia masih sadar dan juga memegangi kandungannya.
Ia mencoba berdiri dan ke kamarnya untuk mengambil obat namun dering ponselnya membuat Tea melihat sekilas dan tertera nama sahabatnya. dengan susah payah ia mengambil ponselnya dan mengangkat panggilannya.
"Bi..." ucap Tea dengan suara lemahnya
Tanpa berkata-kata Bianca langsung mematikan ponselnya karena gadis itu tahu jika sahabatnya itu tengah kesakitan.
Tak berselang lama Bianca datang dan langsung berlari ketika melihat Tea yang sudah tidak berdaya. ia ke kamar Tea mencari obatnya dan langsung turun.
Melihat sahabatnya kesakitan seperti itu membuat Bianca sangat sakit apalagi maksud dia menelpon tadi untuk memberitahu kebenaran tentang apa yang dia lihat tadi malam tapi untuk sekarang ia lebih memilih untuk diam saja.
Setelah meminum obat, rasa sakit yang Tea rasakan sedikit mereda namun ia masih terlihat sangat pucat.
"Kau istirahat saja Ta." ucap Bianca dengan membantu tea untuk duduk di sofa.
"Bi ku rasa Tian akan sangat senang dengan kabar kehamilanku. aku berencana ingin memberitahunya besok nanti siang dan akan mempersiapkan semuanya sekarang tapi kepalaku tiba-tiba sangat sakit." kata Tea.
"Ssttttt sudah kau jangan memikirkan apapun lagi dan fokus saja dengan kesehatan mu." kata Bianca.
"Bi kau bantu aku membuat kejutannya ya." kata Tea dengan begitu semangatnya.
Bianca menolak karena kondisi Tea seperti itu namun setelah Tea membujuknya akhirnya dia hanya bisa pasrah saja dan menurutinya.
"Hufffttt tapi janji kau tidak boleh sakit lagi." kata Bianca.
"Yayaya aku mengerti. sekarang dia sedang berada kantor jadi aku akan datang kesana dengan membawa kejutannya." kata Tea.
"Hari ini?" tanya Bianca dengan melongo.
"Iya." jawab Tea dengan tersenyum.
"Besok sajalah kondisimu masih seperti ini ta, aku khawatir dengan kondisi mu sekarang. kau istirahat saja sekarang dan kita lakukan besok ya." kata Bianca.
"Tidak Bi. entahlah kenapa aku rasanya ingin sekali melakukannya sekarang." kata Tea yang membuat Bianca hanya mengiyakan saja.
__ADS_1