Be My Husband

Be My Husband
Rumor Tapi Nyata


__ADS_3

Tian pun membaca berkas-berkas itu dengan teliti. walaupun dia baru pertama kalinya terjun langsung dalam dunia perbisnisan tapi ia cukup tau hal-hal apa saja yang harus dia lakukan. Setelah memeriksa semuanya, Tian pun langsung berangkat kuliah. tak lupa ia juga mengcopy beberapa file ke laptopnya agar dia bisa pelajari juga di kampus.


"Tian kau di panggil pak Bagus." kata Arga ketika melihat Tian yang berjalan di koridor.


"Aku?" tanya Tian dengan heran


"Ya siapa lagi." jawab Arga dengan malasnya.


Tian pun menuju ke ruangan dosennya. di sana ternyata juga ada salsa. melihat Tian datang membuat salsa terkejut namun buru-buru bersikap biasa saja dan langsung merapikan penampilannya.


"Tian kau disini." kata salsa.


"Ya kau sendiri?" tanya Tian.


"Entahlah pak Bagus yang memanggilku." jawab Salsa dengan tersenyum.


"Duduklah kalian. bapak memanggil kalian karena bapak ingin kalian menjadi pemandu dalam tour yang akan di adakan sebentar lagi." kata pak Bagus


"Ahh begitu rupanya...saya kira ada apa." kata salsa dengan tersenyum kecil.


"Baiklah pak." jawab Tian kemudian keluar dari ruangan bersama salsa.


"Ekhem....Tian apakah rumor itu benar?" tanya Salsa yang membuat Tian menoleh.


"Rumor apa?" tanya Tian dengan bingungnya.


"Apakah kau tidak tahu?" ucap salsa dengan terkejut.


"Jika aku tahu untuk apa aku bertanya? rumor apa Yang kau maksud?" tanya Tian.


"Kau.... sudahlah lupakan saja. kau langsung ke kelas bukan." kata salsa dengan merubah topik pembicaraannya.

__ADS_1


"Iya. " jawab Tian dengan singkatannya.


Sesampainya di kelas, teman-teman Tian pun langsung berhambur menghampirinya dengan beberapa pertanyaan yang sama dengan salsa. tentu saja dia bingung karena beberapa hari dia tidak masuk kuliah dan sekarang ada rumor tentangnya.


"Yan apakah itu benar?" tanya Wendi .


"Iya kau beberapa hari tidak berangkat kenapa? oh ayolah kita hampir mati penasaran dan berencana ingin ke rumahmu jika hari ini kau tidak berangkat." timpal Satria.


"Wahhh benar-benar berita yang sangat besar. aku tidak percaya itu sebelum aku mendengar darimu langsung." kata putra


Tian hanya menatap teman-temannya dengan bingung pasalnya dia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan. berita besar apa yang di maksud teman-temannya.


"Apa yang kalian bicarakan hah aku tidak paham. tadi salsa sekarang kalian. sebenarnya ada apa hah rumor apa berita besar apa?" tanya tian dengan kesalnya.


"Wah sungguh kau tidak tahu?" tanya putra yang membuat Wendi mengeluarkan ponselnya.


"Kau baca ini." kata Wendi dengan menyerahkan ponselnya.


"Lalu kalian percaya begitu saja?" tanya Tian dengan ekspresi datarnya.


"Karena itu kita ingin kau klarifikasi sendiri. ya tentu saja kita tidak percaya." kata Satria


"Siapa yang menyebarkan berita itu?" tanya Tian.


"Belum ada yang tahu Yan. tapi aku sedang mencari tahu siapa di balik semua ini. ahhh aku pikir jika itu benar kau ckck sangat tidak meyakinkan." kata Satria


"Apakah para dosen sudah tahu?" tanya Tian.


"Entahlah mungkin cepat atau lambat mereka juga akan tahu jika tidak segera di hapus." jawab Wendi.


Tian pun kembali memperhatikan foto tersebut dengan seksama. walaupun benar adanya namun ia harus mencari tahu dan mengingat kembali kejadian tersebut.

__ADS_1


"kirim padaku, aku akan mencari tahu sendiri." kata Tian.


Di perpustakaan, Tian mencoba mengingat gambar itu. gambar itu jelas di ambil secara diam-diam saat dia pergi dan lupa mematikan ponselnya.


"Ahh ya aku ingat. bukankah waktu itu aku di cafe...ya aku jelas ingat meja ini. saat itu aku mengerjakan tugas bersama teman-teman ku dan yang paling terakhir bersamaku adalah Siska. apakah mungkin dia yang melakukannya padaku." ucap Tian yang mulai melacak lokasi orang yang sudah membuat kekacauan itu.


Sekitar 20 menit lamanya, akhirnya ia menemukan titik terang dan kebetulan akun yang memposting foto tersebut tengah online.


"Titik lokasinya ada di kampus ini." gumam Tian.


Baru saja ingin pergi memeriksanya, dering telepon membuat dia mengurungkan niatnya. ia cukup heran ketika tahu Tea tiba-tiba menelpon, tapi setelah di angkat suara asing yang melengking membuat telinganya sakit.


"Siapa ini?" tanya Tian.


"kau pulang sekarang bodoh. kau tidak tahu Tea sakit hah dasar gila. suami macam apa kau ini yang membiarkan istrinya sakit. pulang!!!!" teriak Bianca yang langsung mematikan ponselnya sepihak.


Mendengarkan jika tea sakit membuat Tian langsung bergegas pulang. sementara di apartemen, Bianca sedang mengompres Tea. sebenarnya tadi pagi Bianca berencana untuk mengajak Tea melihat opening salah satu brand ternama namun ketika dia masuk ke kamar Tea, ia mendapati wanita itu tertidur di lantai dengan badan panas.


"Sudah bi aku tidak papa kenapa ku menelpon Tian. biarkan dia menyelesaikan kuliahnya." ucap Tea dengan nada lemahnya.


"Jangan berbicara dulu. kita ke rumah sakit saja ya." kata Bianca dengan khawatir.


"Aku sudah baik-baik saja." kata Tea .


"Baik-baik bagaimana jelas jelas panasmu saja seperti lahar gunung berapi. nah ini lihat masih panas seperti ini. aihhh sebenarnya apa yang di lakukan di brengsek itu bagaimana bisa dia membiarkan mu di rumah sendiri saat sakit. tidak bisakah dia menunda kuliahnya dan menemanimu. ingin sekali aku memukulnya." kata Bianca dengan geramnya.


"Sudahlah Bi kenapa kau berisik sekali. ini hanya demam biasa." ujar Tea.


"Kau istirahat saja aku akan menelpon dokter agar dia kesini dan memeriksamu." kata Bianca.


"Jika kau berani menelpon dokter aku benar-benar akan marah. ambilkan saja Paracetamol di rak meja riasku." kata Tea yang selalu seperti itu.

__ADS_1


"Ck selalu saja seperti itu. sebenarnya kau ada masalah apa dengan dokter." cibir Bianca


__ADS_2