Be My Husband

Be My Husband
Mengetahuinya


__ADS_3

Tak berselang lama Tian datang dengan raut wajah khawatirnya. tapi saat sampai di dalam kamar tatapan membunuh milik Bianca membuat Tian benar-benar merinding. kedatangan Bianca tentu saja membuat tian terkejut namun ia tidak terlalu menghiraukannya.


Tidak hanya itu Bianca yang sudah benar-benar kesal pun langsung melampiaskannya pada Tian. dia memukuli Tian hingga laki-laki itu berteriak yang membuat Tea bangun dari tidurnya.


"Ini hanya pukulan kecil asal kau tahu brengsek. dasar gila aihhh aku ingin sekali membunuhmu." kata Bianca dengan kesalnya.


"Kenapa kau memukulku?" tanya Tian dengan bingungnya.


"Kenapa kalian berisik sekali." ucap Tea dengan suara lemahnya.


Mendengar suara Tea membuat perhatian mereka teralihkan. Tian buru-buru menghampiri Tea dan memeriksa suhu tubuhnya. ia menatap Tea dengan khawatir.


"Kenapa kau tidak bicara tadi. kita kerumah sakit sekarang ya." kata Tian ketika ingin mengangkat tubuh Tea


"Aku sudah baik-baik saja." jawab Tea.


"Tidak kita kerumah sakit." kata Tian yang masih bersikeras untuk membawa Tea kerumah sakit.


"Ta kau itu masih sakit jadi dengarkan orang yang sehat oke. tunggu apa lagi kenapa kau diam saja hah." seru Bianca dengan kesalnya.


"Tidak. sudah berapa kali bilang aku tidak suka ke rumah sakit." kata Tea yang membuat Bianca menghela nafasnya.


Tian pun mengambil ponselnya dan menelpon dokter pribadi keluarganya. ia mengambilkan air putih untuk Tea sementara Bianca masih terus memperhatikan Tian dengan tatapan marahnya.


Tian yang menyadari tatapan itupun hanya cuek saja dan lebih memilih fokus pada istrinya. ia memeriksa suhu tubuh Tea dan merapikan Beberapa anak rambut di wajahnya.


"Hah ck yang benar saja." cibir Bianca ketika melihat perlakuan Tian pada sahabatnya.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Tian pada Tea.


"Di belum makan." kata Bianca yang membuat Tian menoleh.


"Aku bertanya pada istriku bukan kau." kata Tian dengan menekankan kata-katanya.

__ADS_1


Ia pun turun dan melihat jika masakan yang tadi pagi dia buat masih utuh, ia pun tidak memikirkan hal itu dan mencari bubur ayam di dekat apartemennya.


"Ahh ternyata om Alvin. ayo masuk." kata Tian ketika melihat seseorang berdiri di depan pintu apartemennya.


"Dari mana nak?" tanya dokter Alvin


"Aku mencari bubur." jawab Tian dengan tersenyum.


Sesampainya di kamar, Tea langsung di periksa. sementara tian dan Bianca masih setia berada di samping Tea.


"Apakah ini istrimu?" tanya dokter Alvin dengan tersenyum.


"begitulah om. apa yang sebenarnya terjadi padanya?" tanya tian.


"Hanya kelelahan saja. jangan terlalu stres dan memikirkan banyak hal nak itu bisa mempengaruhi kesehatan mu. bolehkah aku bertanya." kata dokter Alvin.


"Silahkan om." jawab Tian.


"Ah i itu..." ucap Tian dengan gugupnya.


"Aku tidak tahu kalau minum minuman bersoda bisa membahayakan kandungan." kata Tea ketika melihat raut wajah Tian .


"Begitu rupanya. apakah sudah melakukan pembersihan kandungan?" tanya dokter Alvin.


"Apakah harus dok?" tanya Tea.


"Sangat di anjurkan. itu juga tergantung dengan kesehatan mu juga. jaga pola makan dan makan makanan yang sehat dan ingat jangan terlalu banyak pikiran." kata Dokter Alvin.


"Kau jagalah istrimu dengan baik dan ini resep obatnya. pastikan agar di minum secara teratur." kata Dokter Alvin


"Baiklah om terimakasih." kata Tian


"Om permisi dulu." kata Dokter Alvin dengan berlalu pergi.

__ADS_1


Tian mengantarkan dokter Alvin sampai depan sekaligus menembus obat di apotek yang jaraknya cukup dekat dari apartemennya.


"Jadi kau benar-benar keguguran?" tanya Bianca dengan tidak percayanya namun di jawab dengan senyum kecil Tea.


"Setelah kita dari pantai, kau ingat bukan waktu itu aku membeli 2 minuman bersoda, 3 hari setelah itu...." kata Tea yang membuat Bianca terdiam.


"Ambilkan hp ku kau akan melihatnya." kata Tea .


Ia pun menunjukkan hasil USG dan sebuah benda kecil bewarna putih kebiruan yang berada di telapak tangan Tea. sangat jelas jika benda itu sudah mempunyai kepala kecil dan seperti ekor juga.


"Ta....ini...." ucap Bianca yang tak bisa berkata-kata lagi melihat itu


"Ya calon putraku..." ucap Tea dengan menghapus air matanya.


Bianca pun langsung menghambur memeluk Tea. ia juga tak kuasa menahan air matanya ketika melihat Tea menangis. walaupun ia tidak merasakannya, ia tahu betul bagaimana perasaannya jika dia menjadi Tea.


"Seharusnya kau memberitahu lebih awal ta. aku tidak tahu jika kau ada hubungan dengan si brengsek gila itu." kata Bianca.


"Semuanya juga sudah terjadi bi tidak ada yang bisa di perbaiki lagi. satu hal yang paling aku sesali adalah tidak mengetahui jika dia sudah hadir di dalam rahimku." kata Tea


"Aku tahu kau kuat Ta. tapi sekarang kau harus memikirkan kesehatan mu juga jangan jadikan itu sebagai beban pikiran mu. dia juga pasti memakluminya. sudahlah jangan menangis kau membuatku ikut menangis juga." kata Bianca dengan mengusap air matanya dan memeluk Tea lagi.


Tian yang baru saja sampai melihat pemandangan itupun terlihat heran apalagi ketika melihat keduanya menangis.


"Kenapa? Oh ya sebelum minum obat kau harus makan dulu. aku sudah membelikan mu bubur." kata Tian


Tian pun duduk di samping Tea dan mulai menyuapinya. sebenarnya ia penasaran kenapa kedua wanita itu menangis namun ia mengurungkan niatnya untuk tidak bertanya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Tian dengan menatap istrinya.Tea hanya mengangguk saja dan melanjutkan makannya.


Bianca memperhatikan Tea pun seketika meneteskan air matanya lagi. dia merasa jika dia gagal menjadi sahabat Tea karena membiarkan Tea melalu hari-hari sulitnya sendiri.


"Ck berhentilah menangis kenapa kau masih saja cengeng." kata Tea dengan berdecak kesal melihat Bianca yang masih menangis.

__ADS_1


__ADS_2